Tentang Persepsi

siluet

cr. picture on google

Tentang Persepsi

siluetjuliet

.

.

A man express his feelings to a girl, she rejected.

He was not sad. His friend asked him why he didn’t feel sad.

Why should man be sad?

Man have lost someone who didn’t love him, but the girl lost someone who loved her.

Cebikan ringan lolos dari sela bibirmu. Diam-diam mengutuk rasa ingin tahumu yang berbuah pahit lantaran rentetan kalimat yang baru saja kaubaca tahu-tahu sudah menggores hatimu tanpa permisi. Padahal sisa luka perpisahan beberapa pekan lalu belum hilang, kini malah bertambah akibat jemarimu usil memeriksa riwayat sosial media miliknya.

Lantas, kau marah padanya; pada dia—yang merasa—kautinggalkan karena kau tak mencintainya.

Ah, tahi kucing. Jelas-jelas lelaki itu hanya mencari pembelaan tanpa berusaha memahami apa sebenarnya penyebab sang usai datang memecah belah . Begitu pikirmu.

Sebenarnya, kaubisa saja berpura-pura bodoh dan melupakan hal ini secepatnya, tapi tetap saja kau tidak bisa. Kau marah karena kau terluka atas pernyataannya—karena kautahu benar bahwa kau tidak pernah tidak mencintainya.

Kau kecewa padanya yang sembarangan berlakon menjadi korban atas perpisahan kalian, seolah ratusan hari yang kaulewatkan bersamanya tidak ada harganya—perasaanmu untuknya juga tidak berarti dalam benaknya.

Kau benar-benar ingin mencekiknya, namun geming menghadangmu; menguasai keseluruhan otakmu dan memaksamu untuk berpikir tenang.

Kemudian, kau biarkan memori-memori lama bersamanya membayang di imajimu. Kaurasakan dadamu sesak saat ingatan tentangnya muncul satu-persatu. Ada dia dengan seloroh kata rindu, juga ada kau dengan semu merah di pipimu. Ada kalian yang menghabiskan malam di ujung saluran telepon yang menjadi satu-satunya penghubung kala dentum di dadamu enggan berhenti bertalu.

Dahulu, ia suka menghabiskan waktu meneleponmu hingga fajar menyongsong guna menceritakan apa saja yang ingin ia ceritakan dengan dalih rindu, yang mana saat itu kau rela abaikan kantuk yang membebat di kelopak matamu. Namun, ketika giliran rindu menyekapmu setengah mati, ia yang seharusnya melengkapi malah menyuruhmu menanti–sehingga denyut aneh bergelayut di relungmu ketika ingatan tentang kepasifannya yang membuatmu menunggu dalam jemu muncul tak mengenal waktu. Kenangan itu selalu berhasil membuatmu merasa tak diinginkan.

Bukan sekali dua kali ia tak acuh akan eksistensimu. Kau berusaha untuk mengerti dirinya bahkan ketika ia nyaris melupakan hari ulang tahunmu (untuk kali kedua), atau bahkan ketika ia tidak mengucapkan selamat di hari kelulusanmu.

Kau merasa lucu mengingat sikapnya yang begitu suka berubah-ubah terhadapmu. Ia bisa jadi matahari di satu waktu, namun esoknya menjadi hujan deras yang membuat ulu hatimu ngilu. Saat kau bersamanya kau jadi tahu bagaimana rasanya mencintai sampai sakit. Ia membuatmu merasa bahwa mencintainya adalah hal yang benar sekaligus salah. Ia memberimu kebahagiaan, juga menghadiahimu lara yang bertubi. Bersamanya, kau tidak tahu mau ke mana— dan nyatanya, kalian memang tidak ke mana-mana.

Tadinya, kaupikir kau bisa mengatasinya. Lambat laun, kau tak lagi mampu memahami. Lelah kepalang meradang, hingga kata usai itu datang.

Dari awal, kau selalu ingin memercayai perasaannya padamu, namun isi kepalamu enggan. Kau selalu berpikir ia tidak benar-benar mengasihimu karena ia tak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan pada orang yang dikasihinya. Persepsimu semakin menguat kala ia tidak menahan kepergianmu dari sisinya.

Sementara di sisi lain, ia—ternyata—memiliki persepsi yang sama denganmu. Ia berpikir kau tidak mencintainya lantaran kau mengakhiri segalanya dengan begitu mudah. Ia tak mampu memahami apa yang salah dari hubungan kalian, hingga membuatmu meninggalkannya bahkan ketika ia mulai bersikap terbuka akan segala privasi hidup yang ia beberkan kepadamu. Kau berpaling membelakangi di saat ia hanya menyukai senyummu—bukan punggungmu.

Kalian berdua terjebak dalam persepsi yang terlanjur salah tanpa ada satu pun dari kalian yang berusaha memperbaikinya. Percuma.

Lantas, kau membiarkan iluhmu bergulir sekali lagi.

Mengenangnya.

 

-2016

4 thoughts on “Tentang Persepsi

  1. KAK BEC AKU MAU NGAMUK INI BAGUS BGT HUHUHUHUHUHUHU MAU NANGIS ini tulisan lama ya???? 2016???? omg kenapa br diposting skrg?!?!?!?! aku jd sedih pdhl baca di kelas 😦 abis bagus bgt gatau mo komen apa lagi maaf kak tp ini sumpah 😦 sedih 😦 APALAGI YG INI:

    “Saat kau bersamanya kau jadi tahu bagaimana rasanya mencintai sampai sakit. Ia membuatmu merasa bahwa mencintainya adalah hal yang benar sekaligus salah. Ia memberimu kebahagiaan, juga menghadiahimu lara yang bertubi. Bersamanya, kau tidak tahu mau ke mana— dan nyatanya, kalian memang tidak ke mana-mana.”

    SUMPAH GAPAHAM BGT PGN AKU TEPUK TANGANIN YG RAME TP ABIS ITU AKU MAU NANGIS SEKENCENG-KENCENGNYA BHAY AKU SAYANG KAK BEC!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 😦 ❤

  2. WOY KAAAK. UDAH LAMA GAK NULIS TIBA-TIBA DATENG POSTINGNYA GINIAN. MAU MARAH.

    DAN ITU LINE YANG DI QUOTE TATA SO RELATABLE. MAU MARAH. MAU MARAH KENAPA KAKBEC BENAR BAHWA DUNIA INI COMPLICATED!!!

    LUV YOU KAK. MISS YOU ❤❤❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s