[Orific] Pertemuan Pertama

Hallway_of_Reading_High_School

Pertemuan Pertama

siluetjuliet

.

.

Sumpah. Renata tidak pernah menginginkan hari pertamanya menjadi seorang siswi di sebuah sekolah menengah atas yang elit menjadi seburuk ini.

.

Ketemu lagi!”

Renata nyaris terjungkal ke belakang kala presensi seorang lelaki tiba-tiba saja menghadang akses jalan yang hendak ia lewati. Gadis itu mengurut pelipis sebentar lantas menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu laki-laki di hadapannya ini salah mengagetkan orang dengan sapaan ‘ketemu lagi!’ yang baru saja dialamatkan padanya.

Nihil. Tidak ada siapapun di sekitar, hanya Renata dan lelaki sialan—yang memperlambat waktunya menuju lapangan—berdiri di depannya. Tentu saja sepi, karena ‘teman-teman’ mereka yang lain sudah lebih dulu berhamburan keluar kelas layaknya sekumpulan peserta olimpiade marathon tingkat nasional, karena yah… siapa sih yang mau cari gara-gara terlambat datang apel pagi di hari pertama masa orientasi sekolah?

Pun begitu dengan Renata.

Ia tak mau ambil pusing tentang siapa laki-laki ajaib ini. Pokoknya ia tidak kenal, dan juga tidak tertarik untuk berkenalan. Jadi ketimbang menanggapi, Renata memilih untuk menitah ketus. “Minggir dong!”

Alih-alih menurut dan memberi jalan, laki-laki itu malah semakin bertingkah. Kalau Renata melangkah ke kanan, ia menghadang. Begitu pula sebaliknya, jika Renata merentangkan setapak langkah ke kiri, ia menghalangi.

Renata kesal.

Diinjaknya kaki si lelaki kuat-kuat hingga remaja berperawakan tinggi itu terperanjat, menaikkan sebelah kakinya yang tadi diinjak Renata lalu berputar-putar sambil memegang kaki dan berteriak kesakitan.

“Mampus!”

Renata berhasil meloloskan diri serta tak lupa membubuhkan sebuah kenangan manis untuk si lelaki yang sedang kerepotan dengan urusan kaki penyetnya, yakni: mengacungkan sebuah jari tengah ke udara—hadiah khusus untuk laki-laki yang merusak mood di hari pertamanya menjadi pelajar sekolah menengah atas.

Renata tak peduli jika lelaki berseragam putih-biru—yang juga masih menjadi peserta MOS—itu membencinya, toh sepanjang laki-laki gila itu bukan kakak kelasnya, maka tidak akan menjadi masalah yang berarti. Renata bahkan tak menyempatkan waktu sama sekali untuk melihat nama di kertas karton yang menempel pada dada lelaki itu. Renata tidak peduli; tidak mau tahu.

Padahal, lelaki itu masih memandang Renata lekat-lekat bahkan mengeja nama gadis itu lamat-lamat dalam hati; sambil mengumpat kesakitan, tentunya.

—o0o—

Sumpah. Renata tidak pernah menginginkan hari pertamanya menjadi seorang siswi di sebuah sekolah menengah atas yang elit menjadi seburuk ini. Belum-belum, ia sudah dapat hukuman berjalan jongkok sambil mencabuti rerumputan di lapangan super luas setelah apel pagi. Hukuman yang menurut kakak kelasnya pantas ia dapatkan karena datang lebih lambat lima detik daripada teman-temannya di apel pagi tadi. Gila, terlambat lima detik saja hukumannya separah ini. Kakak kelas sinting! Sekolah edan!

Yang lebih buruk lagi adalah: ia harus menjalankan hukuman ini bersama lelaki tadi—lelaki yang menjadi biang kerok atas keterlambatannya.

Mereka—Renata dan si bedebah tengik itu—melaksanakan hukuman dalam geming, setelah sebelumnya Renata mengancam si lelaki untuk tidak berbicara sepatah kata apapun padanya karena gadis itu tidak akan segan-segan memukul, menendang, menggigit, bahkan menjambak. Padahal, laki-laki itu juga tidak berniat mengobrol dengannya.

Diam-diam Renata memicing, mencoba membaca nama si lelaki yang terbias oleh cahaya matahari yang menyilaukan. Gadis dengan iris sewarna kayu berpelitur itu ternyata penasaran juga.

Samudra.

Deretan aksara itu akhirnya tertangkap sempurna oleh retina Renata—meski dengan susah payah.

Gadis bersurai kelam itu mencebik; seolah tidak percaya oleh apa yang baru saja ia baca. Menurutnya, nama Samudra terlalu indah untuk bocah similikiti di sisinya. Sama sekali tidak cocok. Apalagi, jika dilihat dari paras sang lelaki, matanya sipit layaknya orang yang tak ingin berpisah dari ranjang. Belum lagi kulit putihnya bak sapi yang telah diamplas hingga polkadot hitamnya menghilang. Tidak cocok, sungguh.

Jujur saja, nama Samudra terdengar terlalu macho untuk lelaki itu—meski tak dapat ditampik bahwa Samudra juga memiliki tubuh atletis; tinggi dan tegap. Tapi tetap saja, bagi Renata harusnya ia dinamakan Wong Fei Hung, atau Wo Bu Zhi Dao, atau Xie-Xie sekalian kalau perlu. Biar selaras sama muka Cinanya.

Astaga! Kenapa juga Renata repot-repot memikirkan hal ini?

“Hati-hati naksir,” ujar Samudra tiba-tiba, membuyarkan pikiran Renata yang tadinya kelayapan kemana-mana.

Renata membuang ludah—bukan di wajah Samudra kok, tenang saja.

Samudra tidak merasa terganggu dengan respon Renata, malah merentangkan tangan ke udara lalu berdiri. “Heh, mau kemana?” tanya Renata heran, karena waktu hukuman mereka belum habis. Bahkan di dekat mereka masih ada kakak kelas—yang cantik tapi galak—mengawasi.

“Aku capek,” selorohnya sambil meregangkan tubuh seraya berkata lagi, “kamu kerjain sendiri ya, jangan kangen. Bye.”

Renata hampir menjatuhkan rahang mendengar dialog Samudra barusan. “Cari mati, huh!”

Samudra telah melangkah meninggalkannya lebih dulu sebelum Renata melakukan perhitungan. Dalam hati, gadis itu berharap supaya Samudra dimaki-maki oleh kakak kelasnya dan diberikan hukuman yang lebih berat.

Dari kejauhan ia melihat Samudra begitu santai melangkah melewati si kakak kelas yang mengawasi kegiatan-jalan-jongkok-sambil-mencabuti-rumput yang mereka berdua lakukan. Namun, bukannya ditegur atau dimarahi, Samudra malah dibiarkan pergi begitu saja diiringi dengan tatapan kagum oleh si kakak kelas dengan sedemikian centilnya. Ya ampun!

Lagi-lagi, rahang Renata melorot sementara maniknya membelalak tak percaya. Tak berapa lama setelah sosok Samudra benar-benar menghilang dari pandangan, si kakak kelas menoleh padanya—menyadari akan kegiatan-jalan-jongkok-sambil-mencabuti-rumput yang Renata hentikan karena asyik terbengong bloon.

Heh, siapa yang nyuruh kamu berhenti? Lanjutkan nyabut rumput sambil jongkoknya sampai nanti jam duabelas!”

“L—lho Kak, tadi ‘kan perjanjiannya cuma sampai jam sebelas?” protes Renata.

“Perjanjian batal, karena kamu kegatelan ngeliatin Samudra terus!”

Ugh. Apa-apaan!

Renata hanya mampu melampiaskan kesal pada bentara rumput yang kini tengah dicabutnya dengan brutal, serta tak lupa melontarkan segala rutuk dan serapahan dalam hati. Dan untuk kali ini saja, ia berharap dikutuk oleh dewa rumput untuk menjadi lelaki Tionghoa tampan supaya dapat melepaskan diri dari hukuman sialan ini.

Ya, untuk kali ini saja.

–Selesai
Aaaakkkk, aku nulis sampah macam apa?!
Mau bikin orific yang ringan, tapi kok rasa-rasanya jatohnya absurd gini astaga, apa yang sudah kutulis?? Mengerikaaaan.
Sudahlah, jadi ini cerita pertemuan pertama Sam x Re versi Renata.
Auk ah, aku pengen tenggelem aja dalam lautan bantal aja, abisan geli sendiri. bhay!
(ps. wo bu zhi dao itu bahasa mandarin artinya aku tidak tahu, iya aku tidak tahu, gak usah nanya makanya((gak ada yg banya becc, ga ada!)). bhay//lagi)
Advertisements

22 thoughts on “[Orific] Pertemuan Pertama

  1. KAK BECCAA APANYA YANG ABSURD SIIIHHHH INI KECE TAUUKKK HUHUHU
    pagi2 baca ginian gatau knp jd semangat gitchuuu… Apalagi menyangkut tema anak sekolahan jadi pengin balik lagi ke sekolah(?) bahahhahaa

    Bener, ini bahasanya ringan banget tapi kusuka sekaleeee…. Ajib banget narasinya terkesan teenlit remaja kebanyakan.. Ada bbrp kalimat yg bikin ngakak tapi kece dan ga kepikiran(?) 😄😄 Aku jg suka karakternya renata sama samudra huhuhuhu gemasss… Kupikir samudra kakak kelasnya loh, ternyata seangkatan.. Yah mbak renata jangan kesel2 gitu atuh, nanti malah terjebak dalam cinta yang dalam((apa pula)) 😥

    Udahlah segitu dulu kak, pokoknya kusukaaa!!

  2. Kak sumpeh aku udah ngetik komen panjang2 di hp eh tetiba ngehang trs ilang.. Alhasil harus kuulang lagi huft..
    TAPI POKOKNYA INI TUH GAK SEABSURD YANG KA BECCA BILANG KOOK.. INI KECE MALAH…

    selalu suka tema sekolah gini yaampun berasa pengin balik lagi ke sekolaaah :’) terus jadi inget masa2 mos gitu dulu juga sering dihukum eh aku malah pura2 sakit biar ga masuk buat mos terakhir hahahha di sini kusuka karakter renata sama samudraaa… Mereka gemesin banget yg stu jahil yg satu galak jadi klop(?) kukira sam bakalan jd kakak kelasnya gataunya satu angkatan.. kujuga suka narasinya baah berasa sekali remajanya(?) ada beberapa kalimat yg aku suka juga yg bikin lawak tapi kece 😂😂
    Tuhkan lupa apa lagi yg mau dikomen.. Pokoknya kece lah! ❤❤

    1. Titaa… komenanmu masuk kok heheehe:))

      Ini kece darimananua huhu padahal aku ngerasa fail abis…

      WKEKEKK KITA SAMAAN…
      aku pernah dihukum jalan jongkok dr lantai tiga ke lapangan btw waktu mos, dan itu ngeselin huhuhu..
      Renata sama sam karakternya begini untuk sementara, entar kalo kesambet dewa rumput mungkin aku bakal nulis karakter mereka beda lagi di lain cerita… wkwkwk

      Bahasaku disini acak adul banget, aku bersyukur tita mampir dan gak gumoh baca ini wkwkwk…

      Thankyooouu titaaa:))

  3. HAHAHAHAAHAHAHA TAK NGAKAK SIK SEKOLAH EDAN. XIE XIE. BOCAH SIMILIKITI. HAHAHAHAHAH.

    Duh, kak, kak becca minta ditonjok??!?! INI ABSURD DARI MANAAAA ((well, cerita mereka -Renata & Samudra- emang absurd. Tapi, tulisannya kak becca nggak HAHA)) terus…. HAHAHAHAHAHA AKU GA NYANGKA RENATA DI SINI JADI KAYA GINI. Maksudnya… kayanya di fiksi-fiksi yang sebelumnya (yang aku, kak becca, sama kak sher bikin) si Renata itu kaya serius, kalem. Eh jebule wonge podo sintinge. Yha aku harus gimana dong. Terus si Renata ternyata…. lebih childish daripada Mia HAHAAHHAHAHAHAAHAHAHAHHHAHAHAHAHHAAH MINTA DILEMPAR DARI SINI INI. SALAH SIAPA OC KU DIBULLY TERUS. SEKARANG GILIRAN LOL.

    Terus Samudra, anjrit ni orang minta dibully banget. Belum apa-apa udah ‘ketemu lagi!!!!’ macem sasaeng aja. Aku bayanginnya dia cengengas cengenges kaya abis nonton topeng monyet terus nyadar kalo mukanya sama WKWKKW dia tengil ya yaampun. Pengen kugiles aja kalo ketemu sama ini anak. Kemarin baru aja marah-marah sama kakaknya (Langit), terus di sini kaya gini. Hanjay ni koko cina kok semena-mena.

    ((Btw, aku kepikiran satu hal: Samudra sama Leo harus ketemu bareng karena mereka sama-sama cina HAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHHHHA!!! Sama Aufa juga boleh /halah/ /dah bubar ta udah/))

    Bagus lah kak monangesh karena ketawa gini. Oh, ya, ada koreksi satuuuu doang maaf huhu. ‘Menyabuti’ = ‘mencabuti’ lainnya dah bagus kok kaaak WKWKWKW. Btw, Dennis apa kabar, kak? LOL

    (sumpah, deh. Abis baca ini aku jadi pengen nulis Mia-Aufa lagi tapi ah udah deh aku baca aja gausah nulis WKWKWKW)

  4. KAK BECCA KOMENKU GAMASUK WTF WTF WTF. HAAAAH!!!!!!!!!!!!!!!

    Duh, kesel. Aku harus re-write kaaan. Aku ringkes aja deh (ih sumpah kesel).

    Aku sukaaa sama ini, gabayangin juga kenapa Renata jadi kaya orang edan LOL soalnya sebelum-sebelum ini kayanya model cewe kalem, dewasa. Eh ternyata sama LOL terus si Samudra juga, minta dibully banget wkwkw model cengengas cengenges gini koko cina yang satu ini harus dipertemukan dengan koko cina yang satunya (re: LEO LOL) HAHA. Terus apa ya, duh tadi itu komennya lumayan sih (lumayan pointless… Blah) apa ya kak. Oh iya, koreksi menyabuti = mencabuti. UDAH DEH INTINYA AKU SUKA INI TAPI AKU KESEL SAMA WP SOALNYA KOMENKU PANJANG GAMASUK BHAY BHAY

    1. Uwaaa tata makanya jan keseeingan gaul sm lemper basah, komenmu jd gak masuk kan… wkwkwk

      Renata aslinya gini, tapi kalo lg sm dennis dia berubah mode jd anggun dan baik2 /ular banget hypocrisy banget, LoL

      YAAMPUN DEMI APA SOAL CABUT ITU AKU NGACO BANGET.
      saking asalnya comat comot bahasa smpe gak ngeh kalo menyabuti itu salah… makasih reviewnya senpay, udh lgsg kubenerin. Cipoks :*

    1. Amuk saja aku karena baru sempet kesini lagi, tapi diamuknya sama mas Benedict ya :’) HAHAHA.

      Ternyata… sebelum jadi sekretaris profesional, Renata itu hanya anak SMA yang suka gangguin orang dan maki-maki (?). Eh, tapi itu senior sama Samudra emang tai juga sih hmmm. IH AKU MALAH PENASARAN BAGAIMANA RENATA BERTEMU DENNIS HAHAHA. TERUS ADA APA DENGAN MEREKA. ADA APA DENGAN SAMUDRA. JAWAB AKU.

      Aku gak nyangka lho kakak bisa nulis school life, secara ya… mainannya sama uang dan bahasa mandarin (!?). Tapi ternyata bagus kok. Emang beda ya kalo amster, nulis genre apapun bisa, kalau galau diksinya tingkat semua kata di kbbi dibawa, kalo santai tulisannya langsung menyesuaikan gitu.

      💋💋💋

      1. Amik saja aku yg baru smpet baless huft.
        No no tidak ada diamuk2 sm mas benedict, diamuk sama mas dafa aja yhaa :))

        Iya waktu sma renata belum tobat.
        Wkwkwk mbak lah pen diceritain jg pertemuan pertama sm denis mah pas masih piyik pake seragam putih-merah.

        Lama2 aku bikin ftv aja yha cerita samudra renata dennis ini, biar gumoh…

        Iya, aku mainannya emg uang orang sm bahasa orang, gak kayak kamu sher… mainannya hati orang #eh… /dikeplak

        Emang aku emang amster… (h)amster yg lucuuu dan menggemaskan:))

      2. Emang kakak ciamik kok 🙂
        Dafa!? Dafa siapa!? Aku tak kenal.

        Terus putus sama Samudra daftar jadi sekretaris Dennis? LOL. Oh. Jadi ternyata mereka teman kecil? Apa mereka sesungguhnya ketemu pas lagi kondangan orang? (!?)

        Kak 🙂 Tolong lihat diri sendiri dulu, siapa yang suka mainin hati orang siapa? Mungkin kakak bisa menemukannya di kaca. LOL.

        Yaelah aku typo 😦

  5. MIII DEMIAPA PANTESAN LAMA AKU GA LIAT POSTINGAN MAMI LEWAT DI TL TERNYATA…. KEUNFOLL. HUHU MYANE HAJIMA MI INI AKU JUGA GATAU KAPAN JUGA AKU UNFOLL MAMI orz BTW TITIP SPOT DULU YHA MI❤

  6. KAK BECCAAAAAA
    aku udah feeling ini resamudra dan kok benar. sialan banget wo bu zhi daonya aku ngakak gulung2
    dan ini maneeeesssss gemes ngeselin samudra minta ditampar banget. dan ya ampun renata your wish…. kamu mau berubah jadi cowok namanya wo bu zhi dao? atau xiexie? puhahahahah kakak kelasnya kegatelan pulak. hilarious. tapi sikap slengekannya samudra membunuhku sekali *mata berkaca2* padahal biasanya aku suka cowok lurus rapi sedikit nerdy lha sekarang liat samudra begini aku jadi kelepek2 sendiri. chinese pula dia *karena old crushku yg dulu juga chinese sayang beda keyakinan huks padahal tipeku *curcol *maafkan
    perfect ficlet! keep writing kak becca!

    1. Liaannnaa…
      Waks iya ini re x sam yg sisi ‘nyeleneh’nya terekspose.
      Waks, aku sempet ragu kalo wo bu zhi dao bakal jadi jayus karena gak semua org ngerti artinya. Dan astaga kamu malah gulung2, ya ampun… dosa apa aku ini saking absurdnya ini cerita smpe bikin anak org gulung2….
      Iya, aku jg jatuh cinta sama sikap samudra *aku gambarin si sam ini persis kayak old crush ku yg notabene cina jg, lol x)
      Curcol diterima kok lii, tapi bayar x)
      ((Bayar pake cinta cenyol atau DO jg boleh))
      Astagaa tipemu entah mengapa aku bayanginnya ada di DO eksoh semua, kyaa..
      Btw, makasih udah mampir senpayku sayang♡♡

  7. akhirnya main lagiiii xD
    HAHAH APA ITU NAMANYA DISURUH JADI XIE-XIE xD aduh sumpah ya ini pikiran Renata kenapa jahat banget yaallah. yang bagian dia mau mukul nendang, gigit, jambak; kebayang itu keselnya udah di ubun-ubun mungkin masih naik lagi hahah. sukaaa temanya cerita anak SMA gituu. ini absurd darimana cobaa, ini lucu, ringan, bikin kangen sekolah lagiii. dulu aku suka banget ngeliatin anak MOS dibully gitu: suruh ngamen depan kakak kelas lah, minta tandatangan, ngegombal lucu aja ngeliatnya (jahat) nope, ini ga absurd. jangan bilang absurd lagi ya, senpai ehehehe.
    NGAKAK DI BOCAH SIMILIKITI. ohmygod what a language. aku jadi tertarik baca semua orificnya Becca huhu. aku suka kalo orific yang temanya di Indonesia gini tapi dibawainnya ga bagus dan gak terkesan bahasa novel yang terlalu nyantai dan mau ngelucu tapi ga lucu. duh ngefans deh sama Renata sama pikirannya dia ngata-ngatain Samudra sepenuh hati (btw suka sama panggilannya, Sam awawawaw).
    aduh ini yang absurd malah komenanku mungkin hahaha. keep writing Becca! x3

    1. Uwaahh fika senpai mampir :))
      Komenanmu gak absurd,alah membangkitkan semangat pagi harikuuu :*
      What a language–iya emg fiksi ini kacau bahasanya aku asal comat-comot, huwehehehe:))
      Makasiih buat komen unyunyaa♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s