Langit dan Samudra

9c3e786dc09ad32cf5ec5ff15c2608bc

Sebuah fiksi berjudul:

“ Langit dan Samudra “

Oleh: siluetjuliet

Untuk :

Tantangan Seri Namanya di blog milik S.Sher

Juga telah dipost di Raison D’Etre

.

Family means no one gets left behind or forgotten — David Ogden Stiers

.

Sudah lebih dari sepuluh menit Langit mengarau isi cangkir miliknya, meski kristal-kristal gula telah larut sempurna dengan cairan pekat di dalam sana. Harusnya, ia boleh berhenti mengaduk sekarang, namun ia enggan. Pemuda itu memilih untuk menikmati suara denting sendok logam yang beradu dengan cangkir porselen.

Bukan tanpa alasan ia mencipta denting dalam geming, sejatinya Langit hanya sedang kebingungan bagaimana harusnya memulai konversasi dengan seseorang yang sudah lama tidak ia temui.

Oh ya, seseorang yang membuat Langit bingung itu sedang duduk di hadapannya saat ini, omong-omong. Sepertinya, orang itu juga tidak berniat untuk memulai percakapan.

Langit mendesah pasrah. Ia mengerahkan segenap nyali untuk mengawali pembicaraan. “Eum, bagaimana kab—”

“Ada perlu apa denganku?” belum habis selarik pertanyaan klise dikoarkan oleh Langit, sosok dengan kulit sewarna bulu domba yang berjarak sedepa darinya ini malah lebih dulu menginterupsi. Tampaknya, orang tersebut ogah terlibat dalam basa-basi-sangat-basi yang hendak digagas oleh Langit.

“E—eh,” ia tersedak salivanya sendiri, sementara lawan bicaranya bersedekap—menagih jawaban.

“Hanya ingin bertemu denganmu, Sam.” Langit memandang lelaki yang ia panggil Sam barusan dengan penuh kesungguhan. Iya, nama orang itu Sam; untuk Samudra.

Dengan raut pias, Samudra melengos. “Sudah bertemu denganku ‘kan? Jadi, aku bisa pergi sekarang.”

Lekas Langit menahan lengan Samudra yang hendak beringsut dari kursi. “Apa kau marah padaku?” tanyanya kemudian, namun Sam enggan menjawab. Remaja nihil unggah-ungguh itu sibuk menghindari tatapan Langit yang mengiba.

“Maafkan aku, Sam. Hanya kau satu-satunya keluarga yang kupunya saat ini,—“ digenggamnya jemari Samudra seraya melanjutkan permohonan, “—kumohon, maafkan aku.”

Alih-alih trenyuh, Samudra malah mencebik. “Keluarga, katamu?”

Langit menunduk tatkala Samudra meloloskan jemari dari genggamannya secara paksa. “Aku pernah membaca sebuah kutipan yang mengatakan bahwa: keluarga berarti tidak ada seorang pun yang ditinggalkan atau dilupakan,—” ujar Samudra tegas dan lugas. Selaras dengan kelopak mata segaris serta paras bengis yang terpapar bekas luka di sana-sini. “—Jadi, beritahu aku manakah dari kedua hal ini yang sudah kita penuhi?”

Samudra mendorong kursinya sedikit ke belakang, demi memberi jarak untuk berdiri. “Aku sudah melupakanmu,” ujarnya lantas memintal langkah—hendak meninggalkan Langit.

“Liu Wen Xiang,” panggil Langit lirih, namun masih mampu ditangkap oleh rungu Samudra hingga membuat remaja berandalan itu menghentikan langkah. Tidak ada orang yang memanggil nama Cinanya selain Langit dan ayahnya; dan Samudra benci dipanggil demikian. “Aku kakakmu, Sam. Tidak ada yang bisa merubah hal itu.”

Samudra geram, tangannya mengepal. Beruntung seringainya tak terlihat karena saat ini ia tengah berdiri membelakangi Langit, kakaknya.

“Sejak kau pergi dari rumah, kau bukan lagi Kakakku,” selorohnya sarkastik, lantas lanjut memintal tungkai meninggalkan tempatnya berpijak—meninggalkan Langit bersama rasa sendu yang membelenggu.

.

.

Langit menengadah—memandang cakrawala dari balik jendela.

“Aku pernah membaca sebuah kutipan yang mengatakan bahwa: keluarga berarti tidak ada seorang pun yang ditinggalkan atau dilupakan,—”

Terngiang dalam benaknya mengenai definisi keluarga yang Samudra sampaikan. Samudra benar, keluarga berarti tidak ada yang ditinggalkan atau dilupakan. Harusnya memang begitu. Dulu—ketika mereka pantas disebut keluarga.

Lucu sekali jika diingat betapa rasa sayangnya pada Samudra tidak pernah berubah, meski adiknya kini tumbuh menjadi sosok yang berbeda. Dulu, Samudranya senang sekali bermain di kaki Langit, bergelung kesana kemari, juga tak jarang merajuk tanpa tajuk. Di punggung Langit, Samudra suka bersandar. Aman dan nyaman, katanya. Pada masa yang lalu, Langit berperan penting dalam pasang-surut yang Samudra alami—Samudra bergantung pada sang Langit.

“—Jadi, beritahu aku manakah dari kedua hal ini yang sudah kita penuhi?”

Langit mengaku lalai. Saat itu, Langit hanyalah seorang remaja hilang arah, layaknya seberkas angkasa tak berawan; terbeleggu oleh rasa tak berkawan. Belum lagi, Langit muak karena tak punya teman untuk berbagi cerita. Ayahnya—ayah Samudra lebih tepatnya—merupakan seorang pribadi yang pasif dan tidak kooperatif. Selepas kepergian Ibunya ke haribaan Yang Maha Kuasa, sosok Ayah yang hangat tak lagi ia dapatkan.

Tak mengapa, Langit mencoba paham karena menyadari bahwa ayah Samudra bukanlah ayahnya. Memangnya, apa yang bisa ia harapkan dari seorang Ayah tiri? Kasih sayang melimpah? Tidak mungkin. Jadi, selepas tamat Sekolah Menengah Atas, Langit—yang saat itu masih berusia tujuhbelas tahun—pergi meninggalkan adik kandungnya yang masih berusia tujuh tahun, Samudra.

“Aku sudah melupakanmu.”

Samudra yang dulu tidak pernah melupakannya. Bocah itu selalu membagi apapun yang dipunyainya untuk Langit, bahkan permen karet rasa anggur favorit pun ia rela berikan pada Langit—karena Samudra ingat bahwa Langit juga menyukai rasa yang sama. Alasan terbesar sih karena Samudra begitu menyayangi kakak laki-lakinya itu.

Langit menjadi sangsi, apakah benar Samudra telah sepenuhnya melupakan Langit?

Padahal, Langit tidak pernah melupakan Samudra. Pemuda itu tetap meyakinkan diri bahwa adiknya hanya asal bicara; sang adik tidaklah sungguh-sunguh saat mengatakan bahwa ia tak lagi menganggapnya sebagai kakak kandung—karena faktanya, mereka berdua pernah berada dalam kandungan perempuan yang sama.

“Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja,” racaunya sendirian, ditemani secangkir kopi yang kepulan asapnya tak lagi terlihat. Ribuan kali Langit meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja. Di sisi lain ia sadar, jurang pemisah diantara dirinya dengan Samudra terlampau dalam. Setinggi langit di atas samudra. Tidak tergapai, meski sebenarnya masih saling membutuhkan satu sama lain. Langit masih ingin percaya bahwa hubungan mereka bisa diselamatkan, walaupun….

Samudra sudah kepalang tak lagi menganggap Langit sebagai keluarga.

Lantas, keyakinan Langit runtuh seiring iluh yang meluruh.

 

-fin

Advertisements

6 thoughts on “Langit dan Samudra

  1. hai! tbh keseret ke sini karna lagi iseng maen ke blognya Sher, terus aku baca cerita Paramnesia, terus akhirnya klik link url blog-mu deh hehe. ga afdol kalo ga kenalan. aku fika, salam kenal yaa x)
    waaa ini bagian dari Seri Namanya dari blognya Sher kan yaaa, aku suka namanyaa. aku suka sama nama yg udah bawa bawa objek nature gitu, kaya ada tetangga aku namanya Awan, terus temen aku ada yg nama tengahnya Matahari x) kepikir aja gitu yaaa. dan aku suka di sini nama panggilannya Samudra itu Sam. terus terus bagian waktu masih kecil Samudra suka main main di kaki Langit ih aku suka banget kalimatnyaaa. diksinya badaaai hehehe.
    maaf ini baru pertama komen uda rusuh gini huhu. ceritamu baguuus. keep writing yah!! 😀

    1. Yaampuunnn yaaamppuunnn aku dinotis senpaayy aku bahagiaah, berasa nerima penghargaan kalpataru /brb nangesh terharu/

      Haloo kenalan yuk, rebecca kelahiran 92 disini :))

      Iya, dan temenku juga ada yg namanya awan! Kita sama! Temenmu yg namanya awan ganteng gak? Sini biar kukenalin sm awan temenku (?) /loh kok/

      Gpp first comment ngerusuh gak papa, mau masak juga gapapa, asalkan kak(?) fika napas di fiksi ku aja aku udh seneng bgt, huhuhuuww…

      Makasih yaa:))

      1. ((liat balesan komen)) waaa aku ternyata lebih mudaa hehe. aku kelahiran 93 malah xD harusnya mah aku yang manggil kakak atuuh. hehe salam kenal yaaah.
        sipp sama-samaa x)

  2. Hallo 🙂

    Aku pembaca baru juga. Dapet link ini dari tautan wp nya fika hehehehe

    Salam kenal, namaku ika ^^

    Aku suka bgt cerita ini. Bahasanya cantik bgt. Aku selalu lemah sama yg bisa nulis pake kata2 cantik gini huhu

    Dan… sama kayak fika aku juga suka bgt sama nama Langit dan Samudra itu.

    Dan begitu digabungin bener2 badai efeknya huhuhu

    Keep writing ya ^^

    1. Haloo ikaa;)
      Aku seneng deh ada yg mampir di lapak reyot ini… mana dibilang bahasa owe cantik lg, ah kamu bercanda… wkwkwk aku jg suka sama nama2 nature gitu apalagi kalo dijadiin orific, pasti manis.. awalnya mau ngasih nama awan bukan langit, tapi gajadi, hehehe..
      Makasih yaaa udah mampir:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s