Sebuah Potret

abcd

Sebuah Potret

an orific

Based on Lirik: Prompt Challenge on lianadewintasari’s blog

 

by: siluetjuliet | Ficlet: ±350w | PlayList Series

cast: Aku, Kamu (as Re), Sahabatmu, juga Dia.

 Rating: G | Genre: hurt-comfort, angst.

Rules : no plagiarism !

.

.

Ku mencari sesuatu yang tak kembali.

*Peter Pan – Di atas Normal*

.

“Kau beruntung mempunyai calon suami yang tampan dan baik sepertinya. Aku yakin, kau akan jadi wanita paling bahagia sedunia.”

Kau melenguh pendek usai sahabatmu berseloroh, selagi bola matamu bergulir memandang manikku yang bergeming.

“Kuharap juga begitu.”

Tatapanmu mendadak sayu, genangan bening yang—entah sejak kapan—bergelayut di pelupuk itu melorot jatuh membasahi pipiku yang dilapisi benggala. Lantas, sinar mentari sedari tadi yang mengintip di balik jendela kamarmu, kini menerobos seenaknya, menubruk genangan air yang kau jatuhkan di atas permukaan kaca, tempat dimana potret diriku bernaung. Pancarannya membiaskan kemilau yang kuyakini dapat membuat matamu pedih.

Namun, cahaya silau itu nampaknya sama sekali tak mengganggu. Kau masih saja larut dalam buai aktivitasmu—memandangiku.

Sahabatmu jengah, ia meraihku dari genggamanmu, lalu dengan sembrono ia melemparkanku  ke atas ranjang.

“Jangan mengharapkannya, Re. Kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.”

“Aku tahu… tapi sulit bagiku untuk berhenti mencintainya. Kau tidak mengerti!” intonasimu meninggi. Hal yang lumrah kau lakukan ketika kau merasa sedih, juga marah. Sahabatmu tidak mengerti, hanya aku yang mengerti. Dalam situasi seperti ini, pelukanku merupakan satu-satunya hal yang kaubutuhkan. Namun….

“Dia sudah mati, bodoh!” umpatan terakhir yang sahabatmu lontarkan sebelum bunyi debuman pada pintu seiring kepergiannya menyudahi konversasi kalian.

Tumitmu bergetar hebat.

Sahabatmu benar, dan kau tahu itu. Meski, acapkali kausangkali kenyataan bahwa aku telah pergi dari hidupmu, meski sebenarnya aku tidak benar-benar pergi.

Kita sama-sama mencari, namun tak pernah bisa saling menemukan.

Karena kau dan aku sama-sama tawanan.

Aku tertawan di balik pigura, pula dalam Roh tak bernyawa; sementara kau tertawan dalam kenangan masa lalu—masa lalu kita berdua.

Aku sudah pergi. Seharusnya kau juga pergi—pergi menikmati hidupmu sendiri, supaya aku juga bisa pergi dan tak lagi mencarimu… mencari eksistensimu untuk tetap kusanding sepanjang waktu.

Kita harus segera pergi, melangkah pada jalan kita masing-masing, tak lagi perlu saling mencari.

Lupakan aku—lupakan kita.

-fin

a/n

cuma seorang penulis amatir yang memberanikan diri nge-take lirik: prompt challenge-nya master lianadewintasari, uhuk.

aku tahu ini absurd, dan parah payahnya. hiks. udah gitu aja. bye!

Advertisements

11 thoughts on “Sebuah Potret

  1. HAAAAA KAK INI APANYA YANG JELEK AKU KAN JADI SEDIH KALO INI JELEK GIMANA TULISANKU
    sebenernya sih kalo dari sisi ide, (mohon maaf) agak tertebak tapi
    FEELLLLLLLLLSSSSSSSSSSS
    emang beda ya kalo orang kosakatanya luas mah, meskipun idenya begini tapi bisa diolah jadi nyesek juga uh. terus aku rasanya pingin ngetweet (pdhal ga punya twitter) in quote yg tawanan itu aku suka bgt:
    Aku tertawan di balik pigura, pula dalam Roh tak bernyawa; sementara kau tertawan dalam kenangan masa lalu—masa lalu kita berdua.
    HAAAAAAAA ANCUR
    makanya kan aku itu susah banget bikin ficlet atau drabble dari lagu ini krn maknanya, walaupun lagunya ga mellow2 amat tapi sebenernya sakit bgt. lha kok kakak berhasil bikinnya uhuhu
    sorry ya kak ini komen isinya spazzing ga jelas duh *betulin capslock dulu
    makasih ya kak sdh mampir di blogku dan mengambil challenge ini. ijin reblog ya 🙂

    1. Liaaaana… iya li, aku tau ini ketebak banget bin pasaran idenya… maunya bikin plot twist, tapi gajadi… kepalang mumet, pusing pikiran berputarputar /halah alesan/

      Hihihi, emg pas lg ngelamun kepikiran quote itu entah dari mana… quote tawanan itupula yg membuatku menciptakan fiksi absurd ini huhuhu… tadinya mau kukasih judul “tawanan” tapi gak jadi, wkwkkwk…

      Challengemu bener2 tantangan, bingung mau ambil yg mana…. lalu teruba jatuh hati pada lirik super sederhana milik peterpan..

      Majasih challengenya ya lia♡
      Makasih udh bersedia ngereblog fiksi ‘nggak banget’ ini… laffyuu, sukses selalu..

      (Ps) reviewmu berguna bangeet /peluk/

      1. Panggil aja niswa kakak, hehe 😀
        Wah 7 besar juga udah bagus, dulu aku cuma 10 besar hehe. Jangan merendaaah ini pendek dan ngena loh. Aku pernah baca orific yg idenya sejenis ini, tapi begonya pas itu kelihatan kayak gak meninggal alias ga ketebak. Sebetulnya kalau lbh dipanjangin mungkin lebih ngena hehe.

        Anyway bs panggil apa? Aku 99liner 😀

      2. Oh niswaa…
        Aku tau, td pagi nongol di grup line ifk kan?
        /ketauan diriku suka nyider/
        Aku becca 92 line :))
        Panggil kak becca aja, jangan panggil tante.. wkwkkw x)
        Iya nis, ini mabok bikinnya tengah malem, nanggung banget…lagian ideku pasaran loh huhuhu ..
        Bte makasih ya udh baca, seneng banget deh di notis senpai :))

  2. …..ini kenapa semua tulisannya pada bagus ah aku kan jadi monangesh. HOOOOOOOOOOOOOO BAPER NIH BAPER AEAE KALO YG GINI ABSURD YG BAGUS GMN😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s