Antara Nadi dan Matahari

matahari

Antara Nadi dan Matahari.

(Kumpulan tiga cerita pendek)

.

Berdasarkan sebuah kutipan, yaitu:

Sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi.

.

[1]

“Mia, entah kenapa aku merasa kau sangat cantik hari ini.”

Aku tengah mengemasi barang-barang untuk kumasukan ke dalam tas dengan damai ketika Aufa tiba-tiba duduk di atas mejaku dengan sebuah kalimat manis yang kelewat berlebihan. Mati-matian aku menahan bibir untuk tidak tersenyum, terkikik, atau apapun itu jenisnya, meski sesungguhnya jantungku ingin melompat keluar menerobos rusuk.

Aufa tidak pernah bersikap semanis ini padaku sejak—eum, sejak kami putus setahun yang lalu. Untung saja aku bukan gadis kelewat polos dengan pipi bersemu serta senyum kelewat lebar sambil memukul pundak Aufa—sang penggombal—dengan ritme pelan yang konstan dan manja.

Tidak, tentu saja tidak. Aku mengenal Aufa dengan baik—sangat mengenalnya. Wajar bukan jika aku mempertanyakan kelakuan anehnya barusan?

“Sepertinya aku mencium bau tahi,” tembakku ganas. Aufa tergelak mendengar pernyataanku seiring jemarinya mengusak ubun-ubunku.

“Cepat bilang apa maumu? Nggak usah gombal!” lanjutku.

Lelaki di hadapanku ini malah menampilkan deretan gigi putihnya sembari menggosok tengkuknya. Mungkin ia tengah dilanda rasa malu, karena aku dapat membaca gelagat ganjil dari pujiannya barusan.

Eum…aku pinjam catatannya dong Mia, tadi aku males nyatet. Kalau bisa sih sama pinjam tugas biologi kemarin, kamu udah selesai ngerjain ‘kan? hehehe….”

Sudah kuduga.

Lekas kulemparkan buku catatanku beserta buku tugasku padanya. “Nih! Kalau sudah cepat kembalikan! Aku pulang duluan, bye!”

Kulajukan tungkai secepat mungkin meninggalkan Aufa yang masih nangkring di atas mejaku demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku tidak ingin Aufa melihat raut wajah penuh kekecewaan yang tak mampu kusembunyikan. Nyatanya, Aufa hanya datang padaku saat ia butuh sesuatu. Aku tak ubahnya tanaman inang yang rela dirugikan oleh benalu.

Aku dan Aufa mungkin terlihat normal dan berteman dekat. Tapi disadari atau tidak, aku dan Aufa tidak sedekat itu. Apalagi ketika status ‘teman’ telah tersandang.

Aufa, tidak lagi sedekat nadi—bagiku.

.

[2]

“Re,” aku menoleh ketika bariton seorang pria memanggil namaku.

“Dennis?” pupilku membesar tanpa komando—terkejut akan perjumpaan dadakan dengan teman lamaku, Dennis, di suatu siang, dalam sebuah bus yang padat penumpang.

Dennis mengulas senyum simpul kemudian berdiri dari bangkunya. “Duduklah, Re,” ia memersilakanku untuk menempati kursinya, “biar aku yang berdiri,” ujarnya mantap diiringi sebelah tangannya meraih pegangan besi yang tergantung di langit-langit bus.

“Terimakasih.”

“Tidak masalah.” Dennis tersenyum lagi.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali kulihat Dennis tersenyum. Seingatku, Dennis bukan tipe lelaki murah senyum. Ia lebih suka nyengir, tertawa lantang, atau menyeringai. Yah, tapi itu dulu sih, waktu aku dan Dennis masih bocah.

“Apa kabar, Re?”

“Baik.”

Sebuah pertanyaan klise dan sebuah jawaban tak kalah klise telah terlontar lalu menguap begitu saja di udara. Tidak ada umpan balik. Aku bahkan terlalu canggung untuk sekadar berbasa-basi menanyakan kabarnya seperti yang ia lakukan padaku.

Karena kenyataannya, Dennis yang sekarang tak lagi kukenal baik seperti Dennis yang dulu. Dennis yang sekarang tidak lagi pergi ke sekolah yang sama denganku. Rambut Dennis yang sekarang lebih keren, seragamnya rapih, belum lagi kacamata yang menyangkut di batang hidungnya membuat Dennis makin terlihat seperti pelajar teladan. Meski tidak mengalami perubahan yang signifikan pada tinggi badannya, Dennis yang sekarang tampak berbeda, membuatku segan dan mampu memenjarakanku dalam atmosfer kikuk tiada berkesudahan. Padahal, banyak sekali hal yang ingin kutanyakan padanya, seperti; ia bersekolah dimana? Bagaimana keadaannya? Atau, apakah ia masih suka mencari anak kepiting di selokan? Ugh, banyak sekali yang ingin kutanyakan namun segalanya seolah mengendap di pita suara, enggan untuk menyeruak.

Karena Dennis telah berubah, sementara aku masih sama. Masih seorang gadis yang bertahan dengan rambut keriting acak-acakan, pula dengan perangai maskulin yang masih sama dari dulu.

“Kau tambah tinggi ya, Re.” Kali ini, Dennis mencoba membuka obrolan lagi.

Normalnya, jika ditanya seperti itu maka aku akan menjawab: ‘tentu saja, tidak sepertimu yang tidak bisa tumbuh. Dasar kambing kuntet!’ diiringi dengan toyoran pada ubun-ubunnya. Itu sih normalnya, kalau aku dan Dennis masih memakai seragam putih-biru. Itu juga kalau Dennis tidak membuat keributan yang menyebabkan aku harus pisah kelas dengannya di awal semester kelas tujuh.

Mungkin, aku akan mengatakan hal itu sekarang, jika saja aku dan Dennis masih sedekat yang dulu, namun saat ini, aku hanya mampu menjawab pertanyaannya dengan setengah berdusta. “Ah, iya memang. Kau juga tambah tinggi kok.”

Karena, aku dan Dennis tak lagi dekat. Dan kini, aku mengijinkan kecanggungan menguasai perjalanan kami saat ini. Tampaknya Dennis juga melakukan hal yang sama. Ia bergeming sambil menatap jendela demi memerhatikan lalu lalang kendaraan lain di sekitar bus yang kami tumpangi.

Dennis tak lagi mencoba untuk membuka obrolan. Aku juga tak berharap begitu.

Karena sekarang bagiku, Dennis sudah sejauh matahari.

.

[3]

Hari ini hari ulang tahunnya.

Dan aku, masih terpekur dengan ponsel di tangan serta kerisauan yang membuncah. Entah mengapa, kalimat selamat ulang tahun mendadak begitu sulit terangkai. Jemariku bahkan terasa kaku untuk mengetikkan kumpulan silabel tersebut untuk dikirimkan kepada yang bersangkutan, Leo.

Mungkin, karena kita sudah lama sekali kehilangan kontak. Setahun, mungkin? Aku tak yakin pastinya sih, dan hal ini sangat menggangguku, terus terang saja. Sulit bagiku untuk sekadar mengiriminya pesan singkat, karena aku dan Leo sudah lama sekali tidak berkomunikasi.

Belum lagi jika mengingat sikap tak acuh Leo yang melebihi batas normal, membuatku berpikir ribuan kali sebelum mengirim ucapan-selamat-ulang-tahun itu padanya. Aku dan Leo sama-sama ingat ulang tahun masing-masing, namun jarang menyuarakannya dengan rangkaian ucapan selamat.

Hari kelahiran bagi kami, hanya sebatas ritual tidak terlalu penting untuk dibesar-besarkan.

Namun kali ini, ingin aku sekali memberinya selamat atas pertambahan usianya. Mengingat, ada sebongkah rindu yang terselip diantara harapan untuk dapat bersua dengannya meski terbatas tulisan tanpa eksistensi nyata.

Selamat Ulang Tahun.

Terkirim.

Pesan singkat itu pada akhirnya kukirim juga melalui ponsel pintarku, tetapi….

???

Aku tidak sedang berulangtahun hari ini, tahu!

…tetapi pesan itu tidak kukirimkan pada Leo, melainkan pada temanku yang lain—yang merupakan teman Leo juga. Aku tersenyum simpul lantas kembali mengetikkan balasan pada temanku.

Aku tahu.

Sampaikan ucapan itu pada Leo, okay!

Sudah selesai. Setidaknya aku sudah mengucapkan selamat ulang tahun padanya—melalui seorang teman yang lain. Dan aku tidak berniat membaca balasan pesan dari temanku, juga tidak berniat ingin tahu apakah ucapan-selamat-ulang-tahun itu tersampaikan atau tidak.

Meski kerapkali pikiranku tak mau diajak kompromi, namun aku harus menyadari bahwa ketiadaan komunikasi diantara kami sudah cukup membuktikan bahwa aku terlalu canggung untuk membuka percakapan lewat pesan singkat padanya.

Padahal, nadi membutuhkan matahari.

-fin

a/n:

ini sampah! Aku cuma kangen nulis, tolong jangan bunuh aku ;(

Advertisements

29 thoughts on “Antara Nadi dan Matahari

  1. Pas baca quotenya aku malah kepikiran, “Sebelum sejauh Bekasi, kita pernah sedekat matahari.” Haahaha.

    BTW COMMENT LAIN NYUSUL. INI CERITANYA MINTA DIBANTAI BANGET.

    1. Kak… Bekasi itu lebih jauh daripada matahari LOL.

      NGAKAK LAH NGEBAYANGIN AUFA GOMBAL, TERUS MIANYA NANGIS-NANGIS ALA NAX LEBAY GITU HAHAHA. Dan yang Dennis… aku bertanya sesungguhnya kenapa canggung, kenapa…?

      TERUS LEO. ASTAGA. UDAH MUNCUL AJA NI ANAK, PADAHAL DI TEMPATKU CUMAN ADA DI DRAFT DOANG PFFFT. SAKIT LAH KAK. SEKALIAN NGESELIN. “AKU”NYA SOK-SOK MALU NITIP UCAPAN, HARUSNYA ENGGAK HAHAHA.

      Lafyu abis kak ♥♥

      1. Sheeerr kenapa jadi bekasi adudududuhh~~
        JAN DIBAYANGIN.. MIA AUFA BIKIN HOROR… MANA CEWEK GALAUNYA(?) LEO JUGA GITU GAK BANGET. WKWKKW
        /maapkeun daku… ini emang fiksi hahhaa/
        Dan, percayalah… renata sama dennis baik2 saja dan gak canggung kok sebenarnya, percayalah..

        Lafyu gak abis2 sher~~

  2. Bentar…. MAU NGAKAK HAHAHAHAHAHAHAH

    Aku bingung mau komen apa (serius bingung) tapi.. MIA AUFAKU WKWKWKWKWKWK Suka HAHAHAHAHA MESKIPUN AGAK KZL SAMA AUFA DI SINI DIA JABLAY BGT (udah untung dibikinin ta) (dilempar)

    terus yang leo…. AKU-NYA NAMANYA SIAPA NIH HAHAHAHAHAHHAHA BRB SENGGOL KAK SHER (BOMAT) (BONGKAR AJA SEKALIAN) TERUS YG DENNIS CURHAT YHA WQWQWQWQ

    AAAAAAH MAACIW KAK (LAH MALAH MAACIW) POKOKNYA BAGUS BAGUS BGT?!!!!!

    1. Aufa kan emang ngeselin ta… bikin pengen nyubit sampe pipinya bolong…
      TA, HBS GINI KITA DIHAJAR SHER GEGARA BONGKAR2.. DENDAM BERANTAI INI TAK KUNJUNG SELESAI..
      dan fyi, plot yg dennis sama sekali gak curhaaat wkwkkwkw

      Nih cipok sayang buat adek kesayangan :*

  3. Salam kenal ya, panggil aja aku Dilla☺

    WOW. Ini keren. Aku suka gaya bahasanya, apalagi quotesnya
    “Sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi.” Ngh kon baperbaper😂🔫

    Keep writing ya. Tulisanmu bagus-bagus ko😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s