Menyapa Kenangan

Menyapa kenangan

Phone in the dark
Better listens to: Impossible – Shontelle

.

 —Ia, tak lebih dari asa tak tergapai—

.

.

Jemarimu lincah menekan tombol-tombol virtual pada telepon genggammu yang pintar. Ibu jarimu gesit membuka fitur galeri untuk menghapus beberapa selca yang kau rasa tidak perlu—selca yang menampilkan pose terjelekmu misalnya—karena kartu memori yang menancap di telepon genggammu mulai kelebihan muatan. Mau tak mau, kau harus menghapus beberapa foto dalam kotak galerimu untuk mengurangi kapasitas memori yang nyaris penuh itu.

Ditemani dengan playlist lagu-lagu favoritmu yang mengalun lembut, jari-jarimu masih berkoordinasi dengan serebrum pada otakmu untuk memilah-milah foto-foto mana yang harus kau hilangkan. Sesekali kau tertawa bahkan nyaris terjungkal dari sofa hanya karena kau menemukan gambar-gambar dirimu bersama teman-teman atau bersama sanak saudaramu dengan pose-pose mengerikan, pun dengan ekspresi nista yang pantas untuk di tertawakan.

Kau begitu menikmati momen ini, momen dimana gambar-gambar itu menyuguhkan kenangan atas masa yang pernah kau lalui. Bahagia, tawa, canda. Kau begitu terbuai dalam aktivitasmu yang menyenangkan ini.

Ralat, aktivitas yang semula terasa menyenangkan, tapi lain ceritanya ketika tiba-tiba kau menemukan foto itu—foto yang menampilkan sesosok pria yang sedang tersenyum di bawah hamparan guguran bunga sakura.

Seketika itu juga, kau merasakan hatimu melorot menuju tumit.

***

Kau teringat akan masa yang lalu, setahun silam seseorang pernah mengatakan padamu bahwa ketika kau mencintai seseorang, akan selalu ada harga yang harus kau bayar.

Ia—sosok dalam foto itu—pernah mengatakan padamu, bahwa segala sesuatu yang berurusan dengan cinta tidaklah mudah. Jika menyangkut soal perasaan, yang akan kau hadapi nantinya bukanlah kerikil kecil yang menggelitik kakimu, melainkan sebuah bongkahan besar yang tentunya akan sulit untuk kau hadapi.

Kau ingat semua yang ia katakan padamu.

Namun, kau juga ingat bahwa ia pernah memintamu untuk memercayai dirinya. Ia juga pernah meyakinkanmu bahwa kau tidak akan melewati semua itu sendirian. Ia pernah mengingatkanmu untuk tetap memandang dirinya, hanya dirinya. Ia pernah berkata bahwa ia akan selalu di sisimu, dengan begitu kalian dapat melewatinya bersama—berdua.

Kau masih sangat ingat.

***

Kau selalu memujanya atas ketangguhan fisik yang ia punyai, atas kedisplinannya, juga atas sifat pekerja keras yang tertanam di dalam dirinya sedari dini. Kau selalu mengandalkannya di saat kau lemah, karena kau tahu ia merupakan sosok yang bisa kau andalkan. Ia sosok yang mampu menguatkan tekatmu untuk kembali bangkit dan tidak bersedih. Meski terbatas lisan tanpa sua, kehadirannya selalu mampu membuatmu merasa ajaib.

Tanpanya, kau tak berdaya.

Tapi kau lupa, bahwa ia juga manusia. Dan kau, terperdaya oleh keyakinan yang salah. Kau lemah dan bergantung padanya. Kau lupa bahwa eksistensinya bahkan tak mampu kau jamah. Dia nyata,  sekaligus ilusi belaka di waktu yang bersamaan.

Kau ceroboh.

Kau memberikan sebongkah hati—satu-satunya yang kau punyai—padanya, seutuhnya. Kau bahkan tidak berhati-hati atas hati yang kau miliki. Tanpa tedeng aling-aling, isi hatimu kau kuras hingga kering dan tak mampu berpaling.

Kau sudah lupa soal resiko cinta yang pernah ia peringatkan padamu. Kau lupa bahwa kau bisa terluka kapan saja.

Kau sudah lupa.

***

Kamu tahu, bagimu jatuh hati itu sama sulitnya dengan mengerjakan sepuluh soal kimia—mata pelajaran yang sama sekali tak kau pahami seumur hidupmu. Buatmu, jatuh hati itu sesulit mengorek hidung dengan jari kelingking kakimu. Lagi untukmu, jatuh hati itu ibarat bangun pagi sebelum matahari terbit. Sulit.

Bukannya tidak bisa mengerjakan semuanya. Kau bisa mengerjakan sepuluh soal kimia meski memakan waktu lebih dari satu jam dan berakhir dengan nilai pas-pasan, kau juga bisa mengorek hidung dengan jari kelingking kakimu jika sedang tidak punya kerjaan, kau juga bisa bangun subuh jika naluri malasmu sedang tidak berkuasa seperti biasanya.

Hanya saja, rasio pemberlakuannya cuma satu banding sepuluh.

Dan saat itu, saat hatimu menjatuhkan diri dengan sukarela padanya, reaksi yang kau dapatkan berbanding terbalik dengan apa yang kau bayangkan. Kau kira, kau pantas di hadiahi standing ovation dari sekelilingmu, namun nyatanya yang kau temui hanya cibiran.

Sinting, gila, tidak punya otak; begitulah julukan baru yang diciptakan teman-temanmu—untukmu.

Kau tak pernah menampik hal-hal tersebut di atas, karena memang begitulah adanya. Kau gila, kau jatuh cinta padanya, kau bahkan lupa otakmu kau simpan dimana.  Itu bukan hal baik, kau mengakuinya.

Tapi yang lebih buruk dari mencintai seseorang yang tak seharusnya dicintai adalah; dihianati.

Kau tahu kepercayaan yang kau berikan padanya tak ubahnya kaca tipis yang ringkih, dan bisa pecah kapan saja. Kau juga tahu bahwa hati yang kau berikan padanya begitu rapuh, dapat rusak begitu saja.

“Kau tahu, temanku bilang aku gila karena menyukaimu. Memangnya aku bisa apa? aku terlalu menyukaimu, tidak bisa kehilanganmu. Temanku yang gila, bukan aku! Dia tidak tahu, kalau cinta itu indah, karena aku bersamamu.”

Kau mulai merasa pipimu hangat. Buliran air mata itu mengalir tanpa syarat. Kau menangis, mengenang apa yang pernah ia katakan padamu, hingga kau berani mempertaruhkan hatimu untuknya. Kalian saling mencintai, dan berjanji untuk tetap bersama—tadinya.

Namun, semuanya sudah rusak. Pecah berkeping-keping. Sejumput kepingnya begitu tajam, menggores, menyayat, hingga membuatmu berdarah.

Masih terasa sakit, hingga sekarang.

***

Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, kau merasa ia pria yang tepat. Pria yang kau inginkan, pria yang kau butuhkan untuk menjalani hidup bersama nantinya. Ia—lelaki itu—bagai paket combo favorit yang akan selalu kau pesan di restoran cepat saji. Lengkap, dan mengenyangkan.

Kau membangun dunia tak kasat mata dengannya. Hanya berdasarkan rentetan kalimat pernyataan cinta, penghiburan duka, pelampiasan lara, kalian menjalaninya bersama.

Berandai-andai serta menapak langkah menuju masa depan, karena kau dan dia pernah menginginkan masa depan yang sama—berdua. Rencana yang terpapar matang, angan yang terbebat hebat, usaha, perjuangan, cita dan asa. Kau dan dia, pernah merasakannya. Saat itu, segalanya tampak mudah. Tak ada rintangan yang terlampau sulit untuk kalian hadapi, termasuk: menunggu. Saling menunggu demi impian kalian—dulunya.

Namun kini segalanya kosong, melompong.

***

Percuma.

Sekarang semuanya sudah selesai. Ia menghilang dari hidupmu, melenggang bebas dan meninggalkanmu yang sedang bersusah payah bernapas tanpanya. Sementara ia pergi, kau hanya mampu meringkuk di sudut kamarmu, dan membanjiri berpetak-petak ubin dengan air mata.

Dia pergi begitu saja tanpa sekelumit kalimat pamit. Kaupun juga begitu, tak mampu berkata atas kepergiannya yang tiba-tiba, pula tak mampu mengiba.

Memangnya apa yang perlu kau katakan, jika eksistensimu tak lagi diharapkan? Apa pula yang perlu kau ceritakan, jika gendang telinganya tak lagi sudi mendengarkan? Bicara atau tidak, tak akan mengubah apapun ‘kan? Realitanya, kau tetap saja ditinggalkan.

Tanpa perlu berjerih lelah, ia melepas segala yang kalian perjuangkan begitu saja. Peduli setan dengan hatimu yang robek, pula jiwamu yang tersiksa kala keabstainannya menyapa lembar hidupmu yang tadinya ceria.

Seperti saat ia memenangkan hatimu dulu, kini ia juga menang atas ‘turnamen saling melukai’ yang ia adakan sendiri. Seiring pertandingan itu dihelat, lukamu sudah terlanjur lebih dahulu berkarat.

Nah, kalau sudah begini, lalu bagaimana?

***

Sekarang, katakan saja pada dunia yang pernah mengataimu—mengatai kalian. Katakan, bahwa apa yang mereka ujar dahulu, bahwa kau akan berakhir terluka, itu semua benar adanya. Kalau boleh, teriakkan saja dari atas atap, lukiskan segalanya di bumbungan langit. Kalian, memang tidak akan pernah bisa bersama, segalanya tentang kalian, semuanya, seluruhnya, telah hilang dan berlalu tak ubahnya sekam yang tertiup angin, tak akan pernah kembali.

Katakan saja pada dunia, bahwa kau pernah bahagia, meski sekarang kau disia-sia. Lukamu menganga, iluhmu membelanga. Segalanya sudah tidak ada, tidak berarti. Harapanmu untuk bisa bersamanya harus kau kubur dalam-dalam, karena kau menyadari bahwa hal itu mustahil. Mustahil untuk menunggunya kembali padamu, karena—mungkin—ia memang tak akan pernah kembali.

Mustahil untuk membiarkan dia terus berkuasa atas hatimu, karena—kini kau telah bersanding dengan sosok yang lain.

Lelaki itu—masa lalumu—tak lebih dari asa tak tergapai.

fin-

Advertisements

16 thoughts on “Menyapa Kenangan

    1. Mbak hera… apa mbak joan(?) tulung… gausah kembali … gausah sepot2… jangan parkir disini… jangan parkir di hatiku (?)

      1. Mbak Hera gak pernah jadi aku :”” biasku aja Taehyun Seungyoon hahaha. Kusudah kembali, gimana dong???

        Ini sakit lho kak, bagus. Master mah ngomongnya WB tapi pas nulis tetep aja cantiknya kelewat batas terus nyelekit abis.

        Udah, ingat saja yang ditunjukkan sama mamah xD Pasti lebih baik, udah dikasih restu lagi. Biasakan aja ama tempo bicaranya LOL. Yang ini lupakan :””

        BTW. Ini adek kakak baca apa enggak nih!?!? Hahaha

      2. Balik nya cepet amat…….
        Enggak sher ini tulisan ngaco bin payah… kalo baper nulisnya jelek (emg yg biasanya bagus apa?/GA)
        Sama yg dikasih mama… udh biar mama aja yg pacarin (?)/durhaka
        p.s. biasakan ama tempo bicaranya wkwkwkkwk ku ngakak abis….

      3. Tapi abis ngasih makan kucing doang HAHAHA.

        KALO INI JELEK YANG BAGUS KAYAK APA??? Ini udah cukup bagus kak :”” Mamah kan maunya jadi mantu (!?!?)

        Ya, biar kalo kita ketemu, kakak juga gak kaget xD

      4. Sher.. kucing aja kamu kasih makan… aku kok enggak?#eh
        Mama mau nya jadi mantu, uhuk. Pedih.
        Wkwkkwk kapan ya ketemu? Ntr malah km yg kaget liat kakak yg kayak hyorin ini (huwek, ngaca kak ngaca) Wkwkwk..

      5. Ikan mentah dicampur makanan kucing mau kak? Hahaha. Ajak pac—calon mantu aja buat makan xD

        Eh, Hyorin eksotis lho, semok gitu :””)

      6. Waks. Gamau maunya ikan bakar ga pake dicampur makanan kucing…
        Itu… ngajak calon mantunya mamah keknya susah… beda propinsi hiks..
        Cukup kulit item aja yg mirip hrotin… muka cantik dan apalagi semoknya kagak wkwkkwkw

  1. Hai, Kak._. ((soalnya liat komenan kak sher nyebut kak, ofc aku manggilnya juga kak :3))

    Readers baruu, sebut saja Ay, 00Liner. Ini bagus kak, aku yang baca ikut baper :v Dapet ide dari mana kak? pengalaman kah :v? ((lalu saya ditabok)) Dibacanya enak, senpai :”””) Kak aku nggak tau mau komen apa lagi maapin komenanku nggak guna gini ;-; Sekian dan keep writing kakak :3

    Ay

    1. Haaaai ay… kayaknya kita pernah kenalan di suatu tempat tapi aku lupa. . Kamu 00 liner? Huwaah… aku berasa jd tante.. hahhaa x)
      Enggak… ini gak enak.. masih enakan nasi goreng/?
      Baper itu rahasia umum… sudah mewabah/nangesh…

      Komenmu guna kok dlm perkembangan moodku #halah…
      Makasih udh mampir ya ay :*

      1. Iya kak, nggak papa kenalan lagi aja :v daripada langsung sksd kan ndak enak 힝. Enggak kok kak masih kakak-kakak._. Mau lah nasi goyeng ena ;-; Kalo baperan cem saya (ke bias sama fic kok tapi) apa kabar wkwk ‘-‘r Sama-sama ya kaak :3

      2. Wkwkwk… iya ay gpp lain kali kalo kenalan lg bawain nasi goreng ya x)
        Kan mayan…
        Baper itu sudah mendunia… kamu yg sabar ya /loh?
        Hihihi… makasih juga yaa udh mau mampir di lapak yg reyot ini… kucinta ay:*

  2. (guling-guling)

    (pasang stickernya james yg guling-guling)

    INI…. MZ MZ KOREA ITU YAKAN HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHA (digiles pake cobek)

    Lha nek ngene yha aku bisa opo mbak becca iki apik banget fix monangesh!!! :” master emang ngomongnya aja wb tapi tetep aja bikin tulisan kaya gini…. HUHUHU BRB MAU BAPER DULU (KEMUDIAN DITENDANG)

    aku setuju sm kak sher… SM YG DIKENALIN MAMANYA KAK BECCA AJA HAHAHAHAHAHHAHAHA XD

    1. BHAQ, JAMEZ LAGI… /masukin james dalam karung kirim ke koriyah/
      Ini gara2 kalian, kamu dan dia (re: sher)… hingga fiksi ini tercipta.. HAYOO TANGGUNG JAWAB… BELIIN TIKET KE KORIYAH BIAR MBAK JULIE BISA BERSATU SM MAS JUNSU… /ditampoltatasamasher/
      Apik opone.. iki ngono ancur pol polan… peh tak melu nangesh oleh po ra?
      Hiks hiks hiks…
      Wakakkaka.. kok sm yg itu, aku gak mau sm yg dikenalin mama… maunya sama junsu huhuhu… kalian jahat….

  3. KAK BECCA~~ MASIH INGATKAH DIRIMU DENGAN DIRIKU INI? HUHUW kalo ga ingat maka aku akan berkenalan lagi/? Vi dari garis sembilan-sembilan di sini kak wkwk

    Dan fiksi kak becca tuh ngalir terus as always ya keren sangad ini membuat kujadi laper(?) Yha kemampuan seorang mastah sudah tidak diragukan lagi heuheu jadi makin minder ((pundung))

    Ini kakbecc nulisnya kek semacam menghayati pol gitu apakah based on true story? ((Wess sotoyku kumat)) ((abaikan))

    Dan duh, … kok daku malah nyepam ya kak di sini. Maapkeun yha huhu kalo mau dimasukin trash silakan kak its oke wae aku rapopo :”

    Keep nulis kak! Kusuka tulisan kakbecc ((lempar pimon))

    1. HALO VI APAKABAR KURINDUKAMU ~~~
      Lah kenapa laper -_- tapi msh untung deh kalo fiksiku cuma membuatmu jadi laper bukan kuper x)
      BHAQ MENGHAYATI… hayati udah kecemplung dirawa2 mati dimakan kodok wkwkkw…
      Based on true storynya khalayak ramai lah ini… semua org kek nya prnah kaya gini /soktau
      Enggak bakal aku masukin sampah… komenmu bakal aku ukir di hati pimon /mendadakpsycho
      Makaaasih ya vii udaaah mampir… *kecupsbanjir*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s