Konversasi Bodoh

tumblr_m9xu0d5Km61r429qho1_1280_large

Konversasi Bodoh

siluetjuliet | slice of life | cast: you

.

Kau masih berkutat dalam hening di atas peraduan. Mencoba menyekap rasa sesak yang menggelayut dalam dadamu dengan diam, namun sialnya rasa sesak itu malah menghimpit makin parah. Kau mulai meremas ujung bantal yang sedari tadi kau mainkan di atas pangkuan. Terlihat sekali bahwa pikiranmu sedang dipenuhi hal-hal tertentu yang bahkan orang lain tak tahu. Lihat saja, lipatan kulit yang bertumpuk di dahimu seolah mempertontonkan seberapa besar frustasinya dirimu.

“Kau kenapa?” suara itu menyambangi telingamu, memecah hening yang tadinya menginvasi seluruh penjuru kamar tidurmu.

“H—hai, aku tak apa—” kau menanggapi si penanya dengan dengan kebohongan klise. “Kerut di dahimu itu tidak sedang menyatakan bahwa kau baik-baik saja, omong-omong.”

Rupanya kau lupa bahwa lawan bicaramu terlampau jauh mengenal siapa dirimu.

Hum… entahlah, aku hanya lelah.” Kau memberi jawab, namun ia malah tertawa—menertawaimu.

“Lelah katamu? Kata itu terlalu ambigu, Dude! Jelaskan saja, apa yang tersembunyi di balik kata ‘lelah’ itu. Aku pendengar yang setia, dan kau tahu hal itu.”

“A—aku,” kau menggigit bibir bagian bawahmu, ragu untuk meneruskan kalimatmu yang terpenggal. Namun, tetap saja rasa sesak yang membuncah di dadamu itu memaksa untuk mendobrak keluar.

“Aku, bosan hidup.”

Ewh…itu terlalu ekstrim tahu!—” lawan bicaramu melotot “—bagaimana kau bisa sampai bosan hidup begini?”

“Maksudku, yeah… kau punya pekerjaan tetap, kau juga masih bisa melanjutkan studi. Kau punya teman banyak, dan uhm… kau juga punya pacar yang baik dan tampan

Kau tak memberi respon positif atas pernyataan lawan bicaramu. “Aku muak dengan rutinitas pekerjaan yang itu-itu saja. Bosan.”

Hey, lihat sekitarmu! Tidak sadarkah betapa beruntungnya dirimu? Kala ratusan ribu atau bahkan mungkin bermilyar-milyar manusia mencari pekerjaan, kau sudah mendapatkannya. Jabatan yang baik, upah yang lebih dari cukup. Coba katakan padaku, apa ada alasan lain yang lebih masuk akal?” Ia mulai meracau, sekaligus berusaha membenarkan jalan pikiranmu yang sedikit miring itu, dan di sisi lain kau telah siap untuk mengajukan sanggahan.

“Yah, kau benar. Aku tak seharusnya mengeluh soal pekerjaan. Tapi, kau tau betapa lelahnya kuliah sambil bekerja. Belum lagi setumpuk tugas yang memaksa kantong mataku menghitam makin lebar layaknya seekor Panda—” Kau menaruh telunjuk di pada bagian bawah matamu. “—Proposal skripsiku juga tidak berjalan terlalu baik. Aku lelah disiksa revisi. Kau tidak akan bisa mengerti.”

Lawan bicaramu gemar tertawa rupanya—menertawakanmu. “Apa ku sudah lupa? Memangnya siapa yang menginginkan untuk melanjutkan studi? Aku? Tentu saja tidak. Itu k-a-u!” Ia memberi penekanan pada kata ‘kau’ seolah ingin merajam jantungmu lebih parah.

“Berhentilah mengisi pikiranmu dengan sampah-sampah yang tak berguna itu! Keluarlah bersama teman-temanmu.”

“Tidak. Aku-tidak-mau! Aku lelah berpura-pura ceria, sekalipun aku sedang dalam kondisi tidak baik. Aku bosan jadi sosok hura-hura, menghibur mereka saat sedih. Nah, kalau aku sedang sedih begini, siapa yang datang menghiburku? Tidak ada!”

Hell, Dude! Aku tak pernah menyangka bahwa kebodohanmu telah mencapai tingkat akut begini!”  kali ini kau harus merelakan kepalamu mendapat sebuah toyoran yang cukup keras darinya. “Memangnya siapa yang memintamu untuk berpura-pura? Tidak-ada! Hey, listen to me! Begini ya… bagaimana temanmu bisa menghiburmu, jika kau tidak pernah terbuka soal perasaanmu pada mereka? Memangnya kau pikir mereka itu cenayang atau apa, hingga bisa membaca pikiran dan suasana hatimu. Dasar bodoh!”

Oh shit. Dia benar. Seratus persen benar.

“Jujur saja, aku tahu sebenarnya benang kusut dalam otakmu bersumber pada dia ‘kan?” telunjuknya menumpu pada sebuah ponsel yang tergeletak di atas nakastak jauh dari ranjangmu. Di ponsel itu, gambar kekasihmu dengan senyum sumringah terpampang jelas. Kekasihmulah yang dimaksud dengan ‘dia’ oleh lawan bicaramu barusan.

Seketika hatimu melompong, napas yang sedari tadi tercekat memaksa keluar seiring desahan singkat yang menguar dari katup mulutmu. Senyawa beracun hasil pembuangan dari paru-parumu kini telah menguap bersama kawanan senyawa lainnya di udara bebas.

Kau tatap lamat-lamat wajah kekasihmu dalam layar ponsel yang nihil notifikasi itu.

Tak bisa kau pungkiri, kau merindukannya. Hanya saja… “Dia tak mencintaiku, kurasa.”

Keluhan singkat yang terlontar dari bibirmu, ternyata cukup kuat merobek hatimu. “Dia tak seperti dulu. Sudah lama sekali tidak memberi kabar, kurasa ia tak lagi membutuhkanku—sebagai kekasih.”

Ada pedih yang tersirat di balik setiap kalimat yang kau ucapkan. Lawan bicaramu yang tadinya cerewet mendadak bungkam. Menundukkan kepala, ikut berduka nampaknya.

Long Distance sialan! Keparat itu… aku bahkan tak tahu dia sedang apa di sana sekarang? Sehatkah?—”kilatan samar pada irismu mulai tampak menyilaukan. “—Mungkin saja, ia sedang mencumbu orang lain saat ini. Berengsek! Kenapa sulit sekali untuk mempercayainya sih?

Nah, kau mulai menangis. “Well, semua lelaki sama saja bukan?”

Si mulut berisik itu memandangmu iba. “Jangan memandangku seperti itu, Bitch!”  sementara kau mengumpat, dia hanya diam.tak melakukan pergerakan. Ia tidak marah, kesal atau menghajarmu atas umpatan yang baru saja kau alamatkan padanya. Karena ia tahu, kau sudah mengalami hal yang serupa berkali-kali.

Uhm… cobalah untuk menulis sesuatu. Kau selalu merasa lebih baik setelah menulis. Uhm… Bagaimana dengan menulis fanfiksi. Kau masih menyukainya ‘kan?”

“Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa buruk dalam hal tuli-menulis, fanfiksi jika itu maksudmu.” Lawan bicaramu tampak kurang mengerti, alis yang ujungnya saling mendekat mendefinisikan hal itu.

“Aku serius! Akhir-akhir ini aku merasa apa yang kutulis benar-benar mengerikan. Tidak pantas di sandingkan dengan buatan penulis lain yang bahkan usianya jauh lebih muda dariku. Tulisan mereka mengagumkan. Aku payah!”

“Tapi, setiap orang punya ciri masing-masing. Bukankah kau menulis karena kau suka? Jadi, tidak penting siapa-lebih-bagus-dari-siapa. Karena karya seseorang lahir dari hati, bukan hanya dari gumpalan otak semata ‘kan?”

“Ya, kau memang paling tahu segalanya.” Pujimu padanya, membuat ia menaikkan sedikit dagunya—bersikap jemawa.

“Omong-omong, kurasa aku mulai gila karena berbicara padamu.”

“Itu cerita lama tahu! Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?” Ia mengolokmu. Alih-alih meninjunya, kau malah tertawa hebat. Lagi-lagi dia benar.

“Lalu, sekarang aku harus bagaimana?” tanyamu kemudian.

Sebuah kedikan pada bagu diiringi jawaban darinya. “Entahlah. Tidur saja.”

Bagai tersihir oleh perintahnya, kau menggangguk seraya memosisikan dirimu untuk berbaring senyaman mungkin. Kau menarik selimutmu guna menutupi separuh tubuh, kemudian memeluk lawan bicaramu dalam rengkuhan kedua tanganmu.

Ia—lawan bicaramu—nampak usang dan lapuk.

“Selamat malam Teddy Bear.” Sebuah kecupan singkat mendarat di puncak kepalanya. Bersama—saling memeluk—beristirahat sejenak dari dunia yang katamu membosankan.

Meski lukamu belum sembuh benar, tapi setidaknya berbicara dengan Teddy—atau berbicara dengan dirimu sendiri lebih tepatnya—selalu ampuh untuk mengurangi sedikit rasa pahit yang menggerogoti relung hatimu. Walau hanya sedikit.

Selamat malam untukmu.

-fin

Just another words vomit.

Advertisements

22 thoughts on “Konversasi Bodoh

  1. mamiiiihhhh, like I’ve said, I follow your blog then voila, I found this fic! ❤

    Yey! Mamih curhat yey/plak/emang curhat mak?

    wkwkwk, mamih, ini isi ceritanya jujur banget mih, aku juga dulu pernah ngalamin baru kerja di tempat baru eh lagi kuliah eh pas banget skripsi juga eh jarak ke kampus PP 160km tiap hari nempuhnya brgkt siang pulang malam XD lelah hayati mih, lebih lelah mental dari pada fisik hak hak

    dan bagian nuliiiiisssss, itu aku banget ;_; saya mah siapa saya mah apa huhu, tulisan yang lain (termasuk mami) isi sama diksinya bikin iri aja

    baca tulisan ini semacam…ah, I know this feeling…kecuali bagian kekasih…maippo setia ama mas minseok/maippo delusi/

    duh, maapkeun malah ngikut curcol gini, mih, dan…well, good luck mih 🙂 mamih kuat kok, buktinya mami bisa bikin orang lain ketawa, dan kita terhibur banget sama celotehan mamih, we love you mih, cheer up!/peluk/

      1. Ah kakak mah gitu:”)
        Tiara baper tau ga sih kak bacanya. Bener bangetlaah pasti pernah nyelesein masalah dengan ngomong sama diri sendiri, berdebat sendiri. Tiara sering gitu sih😂😂😂–>melankolisnya keluar

        Terus bagian nulis. Duuuh itu bener pake banget lah gabisa dipungkiri kenyataannya duh duh duh Tiara paling baper kalo bahas masalah tulis menulis deh kak ciyusan:”)

      2. deuuh, tapi tiara kalo lg baper ga sambil ngomong sama boneka kan?
        /siap2 kirim tiara ke RSJ hohoho/
        deuh kalo masalah nulis kakak angkat tangan deh tiara..
        kamu masih kecil tapi udah bisa nulis, lah kakak udah bangkotan tulisan gak pernah beres,,, hhhuhuw /baper maksimal/

      3. Biasanya sih ngomong sendiri kak😂 tembok guling selimut bantal semua bisa diajak bicara😂 /siap2 diangkut ke rsj/
        Kakak angkat tangan Tiara udah tiarap kak gasanggup apa2
        Kecil apanya aduh:” tulisan juga gapernah ada yang bener. Sedih lah Tiara /mulai ngomong sama cermin/

      4. wakakaka, tiara.. kalo butuh temen ngobrol ntar kakak kirimin mbak kunti, mau?
        gapapa nak, kamu masih dalam masa pertumbuhan, lagian skill menulis kamu udah kece, buktinya ‘dengarkan aku jim’ jadi ff of the week, wuhuuuyyy

      5. Aah tidak tidaak makasiih. Tembok lebih enak diajak omong kok:”)
        Aku tumbuh ke samping enggak ke ataaas /salah fokus to the max/
        Itu kebetulan saja sih kak:’ kalo dilihat dari segi sastranya sih gaada apa2nya dibanding punya kakak /hiks

      6. huwewe, jan ikutin kakak yg sesat yaaa…
        yaudah gajadi kirim kunti, kakak kirim hati jimin aja deh :*

  2. KAK BECCA KENAPA ;__________;
    haaaaaaaaa aku ngga tau mau ngomong gimana soalnya aku sendiri belum pernah ngerasain gitu, maksudku yang sampe setiap hari gitu terus. ya jelas, capek. aku yg SMA aja pulang sore/maghrib aja udah ngeluh capek/dsb gitu, nah kak becca yg pulang sampe larut malem gitu……….hm.

    dan untuk yg masalah nulis….. yA AMPUN KAK TULISAN KAKAK BGUS BGT HUhu lah dibandingin sama aku mah, aku cuma bagaikan tulisan ‘fin’ di ending, bikin kzl wkwk.

    terus terus yg LDR… hm problem cewe sih pasti gitu. tapi ya percaya aja lah hehehe kadang hal yang paling kita takutin itu justru hal yang nggak pernah ada hoho mulai sotoy deh x)

    mmmmmm pokoknya terus nulis ya kak! dinikmati aja, hidup cuma sekali kok haha

    (kalo lagi bete, mending nulis gini lagi aja kakkkk…… bagus banget ;u;)

    1. nah itu, capek kan yaaa…

      ehtapi, yang diatas itu gak semuanya fakta loh taaa…. beberapa adalah imajinasi…
      hayo tebak mana yg fakta mana yang bukan, wkakakakak/digampar/

      thankyou fo mampir, anyway /halah/

  3. Hai Rebecca! kamu kenapaa?
    bahasanya, diksinya, penataannya, yaampun selalu bikin envy deh huhuhuhu
    semangat Rebecca! fighting fighting fighting!!! ^o^

      1. aku udah pernah mampir ko sebernya dan baca beberapa ff tapi keomen aku ya gabeda jauh krn kagum sama susunan kata kamu :’3 huhuhuu maaf ya baru ninggalin jejak, komen lewat hp suka error T_T
        kamu piyik gimana aku Beccaaaaa TT_TT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s