[Oneshoot] No Longer Crush

76

sekuel of:

CRUSH

No Longer Crush | by: siluetjuliet | Oneshoot: 1600+wc

Main casts: Park Chanyeol (EXO), Jung Minhee (OC)| Other casts: Jung Yunho (TVXQ); Kris Wu (EXO); Bae Suzy (MissA); Byun Baekhyun (EXO) |Rating: PG-15 | Genres: Teen, Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rules : no plagiarism !

.

Summary:

“Aku muak! Aku membencimu!”.

.

.

“Tuan Putri, Pangeranmu sudah menunggu dibawah.” Yunho menjulurkan kepala dari balik pintu kamar adiknya—Jung Minhee. Minhee buru-buru merapikan gaunnya serta menyisir surai legamnya dengan tangan. Paras gugup tersirat di wajah sang adik, membuat Yunho terkikik tertahan.

“Minhee-yah, kau sudah cantik kok. Ayo cepat turun, jangan biarkan Chanyeol menunggu terlalu lama!”

Segera diraihnya telapak adiknya untuk kemudian digiring keluar kamar, lalu turun ke bawah. Tampak Chanyeol tengah mengobrol dengan ibu dan ayahnya di ruang tengah. Sama seperti Minhee, Chanyeolpun nampak berbeda dengan setelan putih yag dibalut dengan jas hitam—yang entah ia pinjam dari siapa.

Chanyeol nampak tampan, membuat Minhee mati-matian menahan senyum yang jika tidak dikendalikan bisa melebar hingga ke kutub utara.

Manik Chanyeol menangkap sosok Minhee yang tampak anggun dengan dress selutut bercorak taburan bunga dengan warna pastel yang manis.

Oh, sepertinya kisah cinta mereka akan segera dirilis mulai malam ini.

***

Apa-apaan ini! Harusnya kisah romantis mereka dapat dilanjutkan dalam pendaran remang lampu dengan latar belakang lantai dansa, tapi mereka berdua—Minhee dan Chanyeol—malah terdampar di sebuah bengkel kecil, tempat dimana lubang kecil pada ban dalam milik Chanyeol yang berlubang dapat ditambal ulang.

“Maaf ya….” Chanyeol memosisikan dirinya untuk duduk di samping Minhee sembari tangannya terulur—memberikan sebotol teh, pada Minhe.

“Tak masalah,” ujar Minhee santai, sementara tangannya menyambar botol yang disodorkannya dan meneguk isinya hingga tandas. Minhee kehausan setengah mati, pasalnya gadis ini sudah merelakan dirinya untuk berjalan ribuan kaki dengan heels setinggi tujuh sentimeter, cukup untuk membuat tungkainya melemas dan kerongkongannya mengering.

Tahu begini, harusnya ia menerima ajakan untuk menjadi gadis prom Kris saja, dengan begitu ia dapat berleha dalam mobil mewah Kris yang nyaman, bukannya malah terdampar di antah berantah menunggui vespa butut Chanyeol yang butuh perhatian.

Eh, tapi setidaknya Minhee bersyukur, berkat nestapa ini, Minhee dan Chanyeol jadi dekat sekarang. Mereka duduk bersisian tak lebih dari sejengkal, di bawah hamparan bebintangan langit malam. Sungguh romantis.

“Hei, lihat! Langitnya indah ‘kan?” seru Minhee. Chanyeol hanya mengangguk sambil terus memandang Minhee. Chanyeol tak menampik pemandangan alam yang tersaji memang indah, tapi kalau boleh jujur, paras ayu milik Minhee jauh lebih cantik daripada ribuan bintang yang bergelantungan di atas langit. Memandangi Minhee, jauh lebih menarik.

“Yeol, aku ha—“

Baru saja Minhee menoleh pada Chanyeol untuk minta dibelikan minuman lagi, namun kerongkongan Minhee tercekat kala mendapati hidung mereka bersentuhan.

Detik perputaran jam seolah berhenti, begitu pula dengan detak jantung mereka berdua. Minhee terhenyak, kala embusan napas Chanyeol terasa hangat menerpa wajahnya. Sedangkan Chanyeol mati-matian menahan diri untuk tidak menautkan bibirnya pada bibir ranum milik Minhee, sayang Chanyeol tak bisa.

Paru-paru Minhee meraung-raung mencari oksigen kala bibir Chanyeol semakin mendekat pada miliknya. Minhee tidak bisa berjanji untuk tidak pingsan, jika bibir Chanyeol benar-benar menyentuh miliknya. Chanyeol semakin dekat pada tujuan akhirnya, sebelum bariton pemilik bengkel menginterupsi.

“Tuan, bannya sudah selesai ditambal.”

Mekanik sialan.

***

“Maaf ya.”

Untuk kali kedua, Chanyeol meminta maaf. Minhee hanya bisa tersenyum sembari menarik Chanyeol untuk duduk di bangku taman sekolah.

“Berhenti meminta maaf, atau kau akan kuhajar!” Chanyeol terkekeh mendengar penuturan Minhee.

“E-eh….” Chanyeol terhenyak ketika mendapati jemari Minhee bergerak menyusuri dahinya. Mengusap peluh yang mengendap disana.

Minhee dan Chanyeol memang terlambat datang di pesta prom akhir tahun, yang mengakibatkan mereka berdua dihukum menari hebat diatas panggung selama lima belas menit. Waktu yang cukup untuk membuat peluh mengucur deras dan beranak-pinak.

“T-terimakasih,” ujar Chanyeol kemudian.

Selang beberapa waktu selanjutnya, mereka hanya terduduk hening di atas bangku taman sekolah. Sebenarnya, tanpa Minhee ketahui saat itu Chanyeol sedang berusaha memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada Minhee.

Ya, sebelum semuanya terlambat.

Karena sebentar lagi, mereka sudah tak lagi menyandang status sebagai pelajar SMA yang bersekolah di gedung yang sama. Minhee akan meneruskan pendidikannya di kota ini, sedangkan Chanyeol masih ragu. Pasalnya, Beasiswa untuk melanjutkan sekolah bisnis di Benua Eropa sudah berada dalam genggaman Chanyeol. Masalahnya, ia ingin membereskan hatinya terlebih dahulu, jika pernyataan cintanya diterima, maka Chanyeol akan tetap tinggal dan melanjutkan sekolah di Seoul.

Jujur saja, Chanyeol tidak ingin pergi jauh dari Minhee, tapi ia sendiri tak tahu bagaimana perasaan Minhee padanya. Maka, saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengetahui segalanya.

Segalanya hampir terlaksana dengan baik. Garis bawahi kata hampir. Ya, hampir saja—jika saja sosok Kris tidak menginterupsi.

“Hai Kris,” sapa Minhee kala siluet Kris mendekat

“Minhee-yah, bisa ikut aku sebentar? Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja.”

Kris sialan.

***

Beginilah, Chanyeol terdampar sendirian, menunggu Minhee kembali dari urusannya bersama Kris.

Dalam hati, Chanyeol bertanya-tanya, mungkinkah Kris meminta Minhee untuk kembali menjadi kekasihnya? Ugh, ini benar-benar buruk. Jika benar begitu, maka pupuslah sudah harapannya untuk meminang Minhee.

Sunbae, kok sendirian?”

Tiba-tiba sesosok gadis berparas tak kalah cantik dari Minhee duduk di sisi Chanyeol. Gadis ini, Bae Suzy, menyodorkan segelas cola pada Chanyeol.

“Um, selamat atas kelulusanmu.”

“Terimakasih, suzy-ah.”

“Boleh aku memberimu sebuah hadiah?”

“Ah, tidak perlu repot”

Chanyeol terhenyak saat mendapati sesuatu yang lembab menempel di pipinya. Cukup lama ia tertegun, otaknya lambat memroses kenyataan yang tersaji di hadapannya. Nyatanya, saat ini seorang Bae Suzy—adik kelas idaman para pria—tengah mengecup pipinya.

“Anggap saja hadiah kelulusan dariku, untuk fans setiaku.” Suzy tersenyum girang lalu meninggalkan Chanyeol yang masih termangu, begitu saja.

Dasar gadis aneh!

***

“Maaf Kris, tapi aku menyukai lelaki lain.”

“Chanyeol ‘kan?”

Minhee menunduk. Tebakan Kris seratus persen benar adanya. Kris hanya mengulas senyum, meski hatinya perih. Direngkuhnya tangan Minhee seraya berujar, “setidaknya, aku boleh jadi temanmu ‘kan?”

Minhee mengangguk.

“Baiklah, kembalilah padanya. Jangan biarkan pasangan prommu menunggu terlalu lama, Minhee-yah.”

Minhee beringsut dari sana,  dan melangkah lebar menuju taman—tempat dimana Chanyeol menunggu. Hatinya girang, dan bertekat untuk menyatakan perasaan pada Chanyeol, namun tungkainya melemas seketika, kala mendapati lelaki yang dipujanya, tengah dikecup gadis lain.

Lututnya gemetar, air matanya berjelaga. Segera dikayuhnya tungkai lekas-lekas, pergi dari area sekolahnya demi mengejar bus terakhir di halte malam ini.

Sungguh, ia membenci Chanyeol, dan benar-benar tidak ingin menemui pria itu.

***

Chanyeol tak henti menatap nanar pada jam tangannya. Sudah lebih dari lima belas menit gadis yang di tunggunya belum kembali. Tepat pada saat kris lewat di hadapannya, kuriositasnya meledak.

“Hei Kris, dimana Minhee?”

Lho, kukira ia menemuimu. Urusanku dengannya sudah selesai dari tadi.”

Chanyeol terkesiap, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan ini semua. Segera ditelusurinya seluruh penjuru sekolah demi mendapati sosok Minhee, namun tetap saja gadis itu tidak ia temukan.

Dilajukan tungkai kurus nan jenjangnya keluar dari halaman sekolah. Dengan napas tersengal, pada akhirnya ia mendapati Minhee duduk di shelter bus.

Sedang apa gadis itu?

“Minhee-yah!”

Selagi Chanyeol mengatur napas, yang dipanggil malah enggan merespon, menoleh saja tidak.

“Ayo kembali ke sekolah!”

“Tidak, aku mau pulang!”

“Baiklah, akan kuantar. Kau tunggu dulu disini, aku akan mengambil mot—”

“Tidak perlu!”

Lagi, Minhee mentah-mentah penawaran si jangkung yang ia sukai setengah mati. Ditahannya kuat-kuat isakannya, seraya berharap agar bus terakhir yang ditunggunya segera datang.

“Minhee-yah, kau ini kenapa?”

Minhee tak bergeming. Ia kikuk, beruntunglah Tuhan menjawab doanya. Bus yang ia tunggu telah nampak dari kejauhan, berkendara mendekat kea rah shelter yang sedang ia dan Chanyeol hinggapi.

“Hei Jung Minhee! Ada apa dengan—”

“Aku muak! Aku membencimu!”

Alih-alih menjawab pertanyaan Chanyeol dengan manis, Minhee malah berlalu begitu saja memasuki bus terakhir dan meninggalkan Chanyeol.

Chanyeol memaku, tak ingin memercayai segala ucapan Minhee barusan. Nyatanya, Chanyeol bahkan belum menyatakan perasaannya pada gadis itu, namun gadis itu keburu membencinya.

Mungkinkah ini tandanya bahwa ia telak ditolak sebelum berujar?

***

Tidak ada yang ingin Minhee lakukan hari ini. Meski matahari telah menggantung tinggi di langit, Minhee masih enggan beranjak dari ranjangnya.

Ia merasa sangat buruk.

Ingin rasanya menarik pernyataannya kemarin malam, karena faktanya ia sama sekali tidak membenci Chanyeol, tidak pernah bisa, meski pria yang sering ia sebut kacang panjang itu, mungkin kini telah bersanding dengan sang primadona sekolah—Bae Suzy.

Bergelung dengan selimut serta terus memandangi layar telepon selularnya—berharap lampu notifikasinya berkedip—merupakan pekerjaannya selama seharian ini. Sayang sekali, pil pahit itu harus kembali ia telan, karena nyatanya telepon selularnya itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan masuknya sebuah panggilan telepon atau sekadar pesan singkat dari oknum yang ditunggu—Park Chanyeol. Tidak ada itikad baik dari Chanyeol untuk memperbaiki hubungan, minimal untuk bertanya pada Minhee apa yang sebenarnya terjadi. Begitu pula dengan Minhee, ia enggan meminta maaf terlebih dahulu.

Oh, ini buruk!

Seburuk rupa Baekhyun dengan rambut harimau dan muka berminyak yang menerjang masuk ke kamarnya.

Tunggu?

Baekhyun? Masuk ke kamarnya?

“AAAARRRRGGHHH! Sedang apa kau disini?! Beraninya kau masuk kamar perempuan sembarangan! DASAR MESUM!!!”

Ditendangnya perut Baekhyun sekuat tenaga hingga terpental di atas ubin. Belum cukup dengan itu, Minhee mengayunkan gulingnya secara bertubi-tubi ke atas kepala sahabatnya yang tidak tahu diri itu.

“Minhee-yah! Dengarkan aku dulu!”

“BERENGSEK! PRIA MES—”

“CHANYEOL PERGI KE LUAR NEGERI HARI INI!”

“—SUM… Eeh, apa katamu?”

“BODOH! Chanyeol pergi ke luar negeri hari ini dan kemungkinan melanjutkan pendidikan disana, dan kemungkinannya lagi, ia tidak akan kembali ke korea, jadi….”

“….”

“JANGAN DIAM SAJA DISINI! CEPAT SUSUL  DIA KE BANDARA, GADIS BODOH!”

***

Lutut Minhee melemas hebat kala menyadari ia telah terlambat. Pesawat yang membawa Chanyeol pergi ke benua lain, rupanya telah terbang beberapa puluh menit yang lalu.

Apalah daya, kisah romansanya tidak seindah kisah Cinta dan Rangga yang bahkan masih sempat memagut bibir kala pertemuan terakhir mereka dalam sebuah sinema cinta layar lebar yang tak lekang oleh waktu.

Minhee justru terdampar pada realita dimana ia dan pujaan hatinya—Park Chanyeol—tak ditakdirkan menjalin kasih bersama. Kenyataannya, ia ditinggalkan tanpa sepatah pamit terucap.

Haruskah ia benar-benar membenci Chanyeol sekarang?

Tentu saja tidak, karena ini semua salahnya. Berkat emosi sesaatnya dan asumsi liar mengenai kecupan Suzy kemarin yang membuatnya gelap mata, dan dengan sengaja melepas Chanyeol pergi begitu saja.

Mungkin, kiamat akan benar-benar datang lebih awal dari yang telah dijadwalkan oleh Tuhan, jika Minhee dan Chanyeol bersatu. Baiklah mereka menunda datangnya kiamat, walau Minhee harus terluka karenanya.

Biarkan Chanyeol pergi seiring asa Minhee yang ikut dibawanya terbang.

–END–

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshoot] No Longer Crush

  1. WADUH CIUMAN DI BENGKEL MAUNYA APA HA APA (shock sendiri)
    jadi, endingnya mas Rangga pergi? duh kasian Cinta makanya jgn lelet ke bandaranya. gak ketemu deh:( (apaaan si)
    “Bergelung dengan selimut serta terus memandangi layar telepon selularnya—berharap lampu notifikasinya berkedip—merupakan pekerjaannya selama seharian ini. Begitu pula dengan Minhee, ia enggan meminta maaf terlebih dahulu.” <— cewe banget wkwk
    kak tulisanmu yang ini rapi banget ((doesn't mean yang sebelumnya gak rapi)) cuma lebih gimana ya, ya ya pokoknya lebih bagus lah ahahahhahaha!!!!

    1. ahay.. tataa.. malah kk ngerasa yg ini abal sekali.
      hihihihi.. sistem kebut2an ngerjainnya.. typos everywhere. ahaha…
      thankseu ya udah baca yaaa♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s