[Ficlet] Get Well Soon….

yook

Get well soon | by: siluetjuliet | Ficlet: 900+wc

Main casts: Yook Sungjae (BTOB), Kang Seulgi (Red Velvet); slight mention of Jackson Wang (GOT7) | Rating: PG-15 | Genres: Teen, Friendship, Hurt/Comfort

Rules : no plagiarism !

Warning! such a mainstream story

.

Summary:

—Kau teman yang baik, semoga cepat sembuh.

.

“Jadi, sudah berapa cokelat yang kau dapat hari ini?”

Sungjae merapalkan sebuah kalimat pertanyaan yang kemudian dijawab dengan satu jari teracung di udara oleh gadis yang ditanya, Seulgi.

“Kau sendiri dapat berapa?” giliran Seulgi bertanya pada Sungjae yang kini tengah mengusap kepala. Seulgi terkekeh, ia merangkum segala gerak Sungjae sebagai jawaban. “Akui saja, kau kalah ‘kan?” tembak Seulgi yang dibalas tatap nanar oleh Sungjae.

Baiklah, Sungjae tak bisa mengelak lagi. Salahkan ide gilanya menantang Seulgi, jelas sudah ia kalah sekarang. Harusnya kemarin, ia tidak perlu terlalu percaya diri saat mengatakan pada Seulgi, bahwa saat hari valentine, ia akan mendapat cokelat lebih banyak daripada Seulgi. Nyatanya, tak satu cokelatpun ia dapatkan.

Okay, kau menang nona Kang,”—Seulgi terkekeh mendengar pernyataan Sungjae—“jadi, kau mau ditraktir apa?”

“Aku mau pizza ukuran jumbo!” jawab Seulgi antusias diiringi anggukan kepala oleh Sungjae. “Tidak masalah. Bagaimana kalau kita meluncur kesana sekarang?”

Seulgi menggeleng. “Tidak bisa! Besok saja perginya, hari ini aku ada janji.”

“Janji? dengan siapa?”

“Jackson. Oh ya! Aku lupa memberitahumu….”

alis Sungjae terjungkit, “memberitahuku soal apa?”

Seulgi tersenyum, binar pada matanya kini menatap lekat iris milik Sungjae. “Aku dan Jackson resmi berpacaran kemarin, Sungjae-yah.”

Dada Sungjae melengos hingga ke tumit. Otaknya lambat memroses setiap rangkaian kata yang diutarakan Seulgi barusan. Seulgi dan Jackson? Kemarin? Pacaran? Resmi?

Ya! Yook Sungjae! Ekspresi macam apa itu? Temanmu ini baru saja dapat pacar tahu… harusnya kau senang.”

Senang kepalamu!

“E–eh, selamat Seulgi-yah,” ujar Sungjae terbata. “Terimakasih Yook! Nih, kubagi cokelatku denganmu.” Seulgi menyodorkan cokelat—yang ia dapatkan dari Jackson, kekasih barunya—kepada Sungjae.

“Tidak usah, kau makan sendiri saja.” Tolak Sungjae. Seulgi mencibir,”aigoo… nampaknya pangeran kita yang satu ini takut jika giginya berlubang.”

“Bukan begitu,”—dilepasnya napas kasar—“ah sudahlah!” Sungjae menyerah untuk memberikan penjelasan. Terlalu sulit mengatakan pada Seulgi jika sebenarnya bukan masalah gigi berlubang yang Sungjae takutkan. Ada hal lain yang jauh lebih menakutkan, yakni; hati yang berlubang.

Hati Sungjae rupanya sudah terlanjur berlubang dari beberapa menit yang lalu, ketika Seulgi—sahabat yang diam-diam ia sukai—mengatakan bahwa ia berpacaran dengan pria lain, yang bukan dirinya. Berani bertaruh, kau tahu rasanya seperti apa.

Sungjae rasa, hatinya remuk redam dengan sempurna. Seolah ada gergaji tak kasat mata mencacah hatinya menjadi serpihan kecil lalu dibiarkan tercecer begitu saja. Demi Tuhan, Sungjae tak pernah menyangka bahwa mencintai seseorang ternyata rasanya sesakit ini.

Yang ia tahu, ia selalu tersenyum setiap kali mendapati sosok Kang Seulgi di sisinya. Sukacita yang terlampau meluap tiap kali mendapat kesempatan duduk berdampingan di dalam bus bersama Seulgi. Bergurau, bercengkrama, berdebat, bahkan jika gadis itu tengah dilanda rasa lelah yang luar biasa, tak jarang kepala gadis itu ditenggerkannya di atas pundak Sungjae sepanjang perjalanan.

Yang ia tahu, mencintai Seulgi itu merupakan sebuah kebahagiaan tiada tara, sebelum pria bermarga Wang itu datang dan mengambil alih segalanya, termasuk mengambil alih kuasa atas perasaan gadis itu.

Harusnya Sungjae paham, saat cerita Seulgi tak lagi berkisar tentang guru fisika mereka yang galak, ataupun tentang adiknya yang menyebalkan. Harusnya, ketika fokus hidup Seulgi berpaling arah dan mulai sering menyebut nama Jackson, maka Sungjae sewajibnya melangkah pergi dari sana, dan berhenti berharap.

Seharusnya.

Sayangnya, bocah itu terus menyangkali diri, terlalu terbuai dengan pesona Seulgi serta eksistensi gadis itu di sisinya.

Dan kini ia terlambat menyadari segalanya. Ia terlambat menyadari bahwa yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan itu rasanya sakit, parah. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah meratapi nasib, serta mengelus dada.

“Sungjae-yah, gwaenchanha? Kau sakit? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat begitu?” pertanyaan Seulgi membuyarkan pergelutan batin Sungjae. Sungjae hanya mengangguk lemah seraya berujar, “aku tak apa.”

Berbohong. Memangnya apalagi yang bisa Sungjae sekarang? Tak mungkin ia terang-terangan mengaku sakit—sakit hati.

Seulgi mendekatkan wajahnya pada Sungjae sembari melempar tatapan menelisik yang sulit diartikan. Tak ada satupun perilaku tidak wajar ala Sungjae yang luput dari perhatian gadis itu. Sungjae, sahabatnya yang periang dan setengah tidak waras tiba-tiba berubah menjadi semacam zombie berelok pias dan membosankan, tak pelak menjadi bahan pertanyaan besar bagi benak Seulgi.

“Kau tidak sedang patah hati ‘kan, Yook Sungjae?”

Sungjae terhenyak. “T–tentu saja tidak! tidak ada kata patah hati dalam kamus hidup seorang Yook Sungjae! Mengerti tidak, nona Kang?” seru Sungjae, berusaha menyelamatkan keadaan—yang malah membuatnya makin terlihat aneh.

“Baiklah kalau begitu….”—Seulgi meraih tas sekolahnya dan beringsut dari kursinya—“aku pulang duluan, bye!”

“Hati-hati di jalan, Seulgi-yah.”

“Hm… Kau juga, Yook.”

Segera Seulgi mengarahkan kaki menuju pintu kelas, sementara Sungjae menatap miris pada punggung Seulgi yang menjauh perlahan. Napasnya tercekat, seiring menghilangnya sosok Seulgi dari pandangan matanya.

Kembali dihempaskannya tubuhnya di atas kursi. Kelas sudah sepi, tapi Sungjae belum merasa ingin pulang. Membiarkan sunyi mengeroyok hatinya yang sedang dilanda gulana karena cinta.

Sungjae tak habis pikir, mengapa cinta membuatnya mencintai Seulgi, sedangkan pada saat yang sama gadis itu malah mencintai yang lain. Mengapa?

Getaran dari saku celana menginterupsi lamunannya. Dengan malas, Sungjae mengambil ponselnya dan membaca sebuah pesan yang baru saja masuk.

From: Kang Seulgi

Maafkan aku, Sungjae-yah. Kau teman yang baik, semoga cepat sembuh.

Sungjae mengumpat. Apa-apaan ini! Gadis itu benar-benar sukses mencederai perasaannya.

Harusnya, seseorang senang jika dapat menjadi teman yang baik bagi orang lain. Namun nampaknya hal ini tidak berlaku bagi Sungjae. Makna pesan yang baru saja dikirim oleh Seulgi tersirat terlalu kentara. Selamanya, Sungjae akan berada dalam sebuah area dimana orang banyak menamakannya; friendzone.

Seolah dikelilingi ribuat kawat duri bervoltase tinggi, sampai kapanpun Yook Sungjae tidak akan bisa menembus keluar dari zona pertemanan itu.

Hanya sebatas ini—teman. Ugh, kata teman tak lagi menyapa hangat di telinga, malah terasa sakit luar biasa.

Semoga cepat sembuh.

Yah, kita doakan saja semoga Yook Sungjae lekas sembuh dari luka hatinya.

-END-

Writer’s blablas:

Lately, aku keranjingan sungjae’s dumbness face, berhubung si innocent sungjae ini hobi banget menista orang, kini giliran daku yang menistanya, ha.ha.ha *evil laugh* Err… mau tampar? Boleh, silakan.. *kemudian nangis dipelukan sungjae*

Argh! Tauk deh ini apa x) semacam nyampah. Sukur2 kalau ada yang mau komen, hehe 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s