[ Vignette] Lights Off

????????????????????????????????

| Lights Off |

siluetjuliet’s storyline | Main Cast: Kwon Yuri (SNSD); Other: Kim Hee Chul (Super Junior) |  Length: Vignette ±1200w | Rating: PG-15 | Genres: Horror, mystery, slight!comedy

Rules : no plagiarism !

.

Summary:

“Maaf, saya terlambat pak….”

.

.

Halaman depan universitas tampak penuh sesak. Puluhan kendaraan bermotor terparkir serampangan di depan pagar. Beberapa petugas satuan pengaman tidak mengijinkan siapapun memasuki area kampus, karena kegelapan tengah meliputi universitas tempatku berpijak saat ini.

Lampu-lampu pijar yang berasal dari puluhan mobil dan motor mulai menusuk retinaku, cahaya yang ditaburkan begitu menyilaukan. Wajar saja, hanya lampu-lampu itulah yang menjadi sumber penerangan saat ini–saat dimana listrik padam di seluruh area kampus.

Nampaknya, padamnya listrik tak menjadi halangan bagi beberapa mahasiswa kelas malam–termasuk diriku–untuk tetap menyambangi kampus, sekalipun matahari telah beristirahat di peraduan.

Aku memicingkan mata, memandang jam tangan pemberian ayahku yang tergantung indah di lengan kananku. Percepatan jarumnya, membuatku sedikit terhenyak. Jarum yang pendek nyaris bertandang di angka tujuh, sedangkan jarum yang lebih tinggi tengah bertamu di angka Sembilan.

Jam tujuh kurang lima belas menit.

Gila! Ini artinya, aku terlambat memasuki kelas Prof. Lee. Matilah aku!

Kubuang pandanganku dari mesin kecil penunjuk waktu tersebut, dan bergegas menghampiri salah satu petugas pengamanan kampus, guna memohon belas kasihan agar mereka bersedia membukakan gerbang untukku.

Tidak semudah itu memasuki gerbang kampus, tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin ‘kan? Ya, pada akhirnya aku berhasil memasuki area kampus walau harus melewati beberapa kali penolakan serta melontarkan beberapa rayuan gombal. Paling tidak, aku bisa memasuki gerbang, karena aku tidak bisa membayangkan omelan Prof. Lee jika aku tak memasuki kelasnya.

Bisa dipastikan, aku akan bertemu dengannya tahun depan, jika eksistensiku tidak ditemuinya di kelas malam ini. Sekadar informasi bagimu, Prof. Lee merupakan dosen tergalak, terketat dan paling disiplin. Aku–Kwon Yuri–telah melewatkan kelasnya beberapa kali, dan Prof. Lee telah memberikan ultimatum padaku, jika aku berani melewatkan kelas metodologi penelitian–yang diajarnya–sekali lagi, maka habislah sudah! Aku tak punya harapan untuk mengajukan proposal di semester depan. Dalam artian lain, aku harus mengulang satu semester lagi, karenanya.

Prof. Lee bukanlah orang yang mudah terprovokasi oleh apapun. Hujan badai, banjir bandang, bahkan angin topan sekalipun tidak akan meruntuhkan niatnya untuk tetap mengajar. Hanya ada dua alasan yang membuat Prof. Lee terpaksa meniadakan kelas, yaitu: jika ia meninggal dunia atau terjadinya kiamat.

Ugh! Nampaknya, pemadaman listrik tidak termasuk dari salah satu alasan yang bisa membuat Prof. Lee tidak mengajar, hari ini.

Pandanganku terbatas, hanya bergantung pada layar LCD Handphoneku. Kukayuh tungkaiku lebih kencang, kendati tetap waspada pada setiap langkah yang kuambil. Salah-salah, aku bisa saja menginjak kucing tanpa sengaja.

Di tengah pekat, otakku tak berhenti merutuk–merutuki banyak hal. Tentang posisi gedung fakultasku yang terletak di pelosok kampus, di ujung kawasan kampus, paling belakang. Untuk dapat mencapai gedung fakultas saja aku harus menempuh sepuluh menit berjalan kaki dari pintu gerbang kampus. Juga tak lupa aku merutuki sahabatku, Kim Heechul. Biasanya, pria berparas cantik itu akan segera meneleponku–mengingatkan untuk segera berangkat ke kampus, sebelum pukul enam, tapi hari ini, Kim Heechul melalaikan tugasnya. Argh! Salahku juga, terbiasa bersantai sepulang kerja, hingga tertidur dan terbangun saat matahari sudah terbenam.

Kuhela napas sedikit lega, saat gedung fakultas telah nampak berdiri kokoh di hadapanku. Kudengar samar-samar suara gaduh dari ruang nomor tiga di lantai dua; kelas Prof. Lee. Segera kulangkahkan kaki menaiki anak tangga yang tersedia, agar segera sampai di sana.

Lamat-lamat kudengar suara langkah kaki yang diseret, di belakangku. Kucoba mengabaikannya, namun suara seretan itu makin bergaung, menganggu indra pendengaranku. Kuputar leherku–menoleh ke belakang, tak lupa mengarahkan satu-satunya sumber cahaya yang kupunya; handphone untuk menerangi segala penjuru.

Gulp.

Tidak ada apapun. Tidak ada orang yang berjalan mengiring di belakangku. Huh, mungkin hanya gesekan daun yang sedang bercengkrama dengan desau sang angin. Biarkan saja! Yang penting sekarang, adalah tiba di kelas secepat mungkin.

Dengan pergulatan hebat, serta peluh mengucur akibat marathon singkat di malam hari, akhirnya aku tiba juga di depan kelas. Aku berdehem singkat untuk mempersiapkan diri menerima makian dari prof. Lee, karena terlambat. Kemudian, kumatikan cahaya dari handphoneku–mengingat Prof. Lee benci jika ada mahasiswa yang mengaktifkan ponsel saat ia sedang mengajar–lalu mengetuk pintu kelas.

“Masuklah!” Bariton Prof. Lee membuatku bergidik. Kuputar kenop pintu, kemudian memasuki kelas, tak lupa mengucap maaf.

“Maaf, saya terlambat pak….”

“Tak apa, duduklah!”

Apa aku sedang bermimpi? Prof. Lee tidak marah? Kurasa, satu lagi keajaiban dunia telah tercipta, saudara-saudara!

Eh, tapi aku sedikit kesulitan menemukan kursi untuk duduk. Kelas ini terlalu gelap, uh! Apa benar kegiatan belajar-mengajar dapat dilakukan dalam kegelapan? Ini sinting!

Krieet..

Kudengar suara geretan kursi, serta bisikan Heechul memanggil, “Yuri-yah, kemarilah! Duduklah disini.” Tungkaiku melangkah, dituntun oleh suara Heechul barusan, meraba-raba kursi di hadapanku, lalu mendaratkan pantatku dengan sukses di atasnya.

Kelas kembali hening. Hanya beberapa kasak-kusuk kudengar dari beberapa siswa, aku tak bisa mendengar dengan jelas. Prof. Lee tak kunjung membuka suara, suasana kelas terasa begitu mencekam, berulang kali kuduk di leherku menari tanpa sebab. Mungkinkah kami semua sengaja disekap di dalam kelas untuk menjadi santapan malam sang professor setengah botak nan galak ini? Ah, tidak mungkin! Jangan berpikir gila, Kwon Yuri! Mungkin saja, Prof. Lee sengaja berkutat dalam diam, menunggu listrik kembali menyala dan menerangi ruangan. Lagipula, seperti yang kukatakan sebelumnya, tidak mungkin proses belajar-mengajar dapat dilakukan dalam gelap ‘kan?

Bibirku terasa sangat gatal, ingin mengobrol dengan Heechul, tapi kuurungkan ketika sebuah getaran hebat dari saku celanaku menyapa, getarannya bahkan tak kunjung berhenti.

Shit!

Siapa yang menelepon di tengah situasi kritis seperti ini? Sial! Diam-diam dan dengan tingkat kehati-hatian yang super tinggi, ku angkat penggilan teleponku, karena getarannya benar-benar membuatku geli.

“Yuri-yah! Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya? Aku khawatir, tahu!”

Eh, suara cempreng ini, suara yang sangat tidak asing…

“Hei Kwon! Kau bisu? Katakan sesuatu!” suara di ujung sambungan terus mengusik. Suara ini, suara yang dimiliki oleh satu-satunya lelaki berpolah feminim yang ku kenal.

“Hh–heechul?” tanyaku meyakinkan, sedang yang ditanya malah mengomel, “tentu saja ini aku, bodoh! Kau dimana? Susah sekali dihubungi–“

Belum, pikiranku belum mampu mencerna sempura, lelaki di ujung sambungan yang lain terus mengoceh hebat.

“–aku ingin memberitahu, bahwa kuliah ditiadakan malam ini, ada perbaikan, listrik dipadamkan!”

Gulp.

Jika yang berbicara di telepon denganku saat ini adalah Heechul, lalu yang duduk di sampingku ini siapa? Yang menawariku tempat duduk ini, siapa?

“Hei Kwon! Kau mati atau bagaimana sih? Kenapa tidak menjawab?”

Belum, tapi kurasa, aku akan mati sebentar lagi.”

“Huh, itu tidak lucu! Jangan bercan–“

Tut.

Sambungan telepon kami terputus, bersamaan dengan lampu kelas yang menyala. Kini mataku dapan memandang semuanya dengan jelas. Ya, memandang semuanya. Memandang ketiadaan seorangpun di kelas ini, kecuali diriku. Kelas ini kosong! Suara ribut, gumaman tak jelas, perintah pak Lee, dan bisikan Heechul, segalanya palsu.

Double shit!

Kuraih telepon genggamku lagi, berusaha menelepon Heechul.

‘Maaf, pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini, silakan mengisi ulang terlebih dahu–‘

Triple Shit!

Baiknya aku keluar dari kelas terkutuk ini, sebelum terlambat! Bertanding dengan sang waktu, tanganku telah meraih kenop pintu, sayangnya aku tetap saja terlambat. Aku keduluan–mereka telah mendapatkanku.

Pintu terkunci dari luar, dan lampu kembali padam. I have nothing to do! Hanya bisa mematung di tempat, sementara bisikan Heechul yang lain mengintimidasiku.

“Belajarlah bersama kami–selamanya, nona.”

-END-

Writer’s blablas:

Huah! Mencoba keluar dari writers block berkepanjangan pada akhirnya mencetuskan fic dengan genre yang tak pernah dicoba sebelumnya. Haha, idenya muncul udah agak lama, dari seminggu yang lalu, gara-gara kampus mati lampu. Kebayang kan, malem2, di kampus segede itu, lampu mati, hitam, pekat, gelap. Jauh-jauh ke kampus, pada akhirnya disuruh pulang, kuliah malam ditiadakan. Kan sebel itu, tapi untunglah ya, gak sampe ngalamin kejadian kaya yuri begini, ogah juga belajar selamanya sama temen2 makhluk halus macem begitu, hiy!

Anyway, don’t forget to drop your thoughts upon this comment box, yes!

 

Advertisements

5 thoughts on “[ Vignette] Lights Off

  1. Duh! Gak kebayang kalo jadi yuri, pasti tkut banget dah tuh!! Ff nya keren, ditunggu ff mu lainnya ya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s