[Ficlet] English Matter

minseok

English Matter | by: siluetjuliet | Ficlet: 900+wc

cast: Kim Minseok / Xiumin (EXO), Yang Minsoo (Re: Minsu) (OC)

 Rating: PG-15 | Genre: Teen, Fluff, slight!Comedy

Rules : no plagiarism !

Disclaimer : Minseok’s belong to me himself. This fiction is brought to Yang Min Soo, thanks for your special request , Minsoo-yah!

-enjoy the dish, yeorobun!-

.

Summary:

“Ada sebuah pertanyaan yang sulit, kurasa hanya kau yang bisa menjawabnya.”

.

Pupil Minseok melebar, kala mendapati sosok gadis yang sedari tadi ditunggunya–kini telah berada di ambang pintu kelas. Sementara Minseok memerhatikan dari bangkunya, gadis itu malah asyik bercengkrama dengan temannya di depan pintu, belum berniat memasuki kelas.

Gadis itu–Yang Minsu, namanya–sudah menjadi adik kelas Kim Minseok selama hampir setahun ini. Gadis ini tidak termasuk dalam jajaran adik kelas yang populer di sekolah. Tidak bisa dibilang cantik sih, tapi–yah, gadis itu cukup manis. Dan, soal kemampuan lain yang dimiliki seorang Yang Minsu–ehm, rasanya tidak ada. Dalam hal akademik juga tidak cukup membanggakan. Olahraga?–apalagi, lupakan saja.

Eh, tapi ada satu kemampuan ajaib yang dimiliki Minsu, yakni; membuat Kim Minseok menggila–dalam artian positif, abstrak, kasat mata, dan sulit dijelaskan.

Minseok merasa bahwa, Minsu memiliki gaya gravitasi yang sangat kuat hingga mampu membuat hati Minseok jatuh. Ya, tepat! Minseok jatuh hati, pada sesosok gadis yang bahkan berkepribadian sangat melenceng dari kriteria gadis idaman para pria pada umumnya.

Minseok sangat tampan, cukup ramah, dan sangat pintar–agaknya, membuat para gadis tak segan untuk mendaftarkan diri jadi kekasihnya. Tapi sayang, Minseok mengabaikan segalanya, dan menumbukkan hatinya pada sebuah nama–Yang Minsu.

Entah, Minseok harus bersyukur atau bagaimana, saat peraturan sekolahnya menetapkan untuk mencampurkan siswa-siswa tingkat dua dan tingkat awal dalam satu kelas, pada saat ujian tengah dan akhir semester dilaksanakan–disitulah, ia dan Minsu dipertemukan. Mengingat, nama mereka berdua berada dalam urutan abjad dan nomor urut yang sama dalam kelas masing-masing, agaknya membuat mereka harus duduk di meja yang sama, pada saat ujian berlangsung.

Karena memang begitulah peraturannya, mau tidak mau, Minseok harus rela berbagi meja dengan gadis serampangan macam Minsu. Jujur saja, bukannya diuntungkan dengan kehadiran adik kelasnya itu, Minseok malah dibuat kerepotan.

Pasalnya, Minseok kini jadi seorang pelajar yang–tidak normal.  

Pelajar normal lainnya, tentu akan membenci kata; UJIAN–tetapi, Minseok malah menantikan hari ujiannya tiba. Karena, pada saat itulah ia bertemu Minsu, duduk berdampingan dengan gadis itu, terkadang tak sengaja terlibat kontak fisik dengan Minsu–saat Minseok membantu mengerjakan soal ujian milik gadis itu.

Dan, Minseok sangat menantikan hari itu tiba dalam hidupnya. Seperti hari ini, mereka dipertemukan lagi dalam ujian semester akhir.

Minseok sudah memantapkan hati untuk melakukan sebuah pendekatan nyata, karena pada ujian tengah semester lalu, Minseok hanya mampu membiarkan pesona gadis itu memabukkan dirinya, tanpa mempunyai nyali untuk melakukan sebuah pergerakan yang berarti.

Lamunan Minseok buyar, kala bel sekolah berdentang tiga kali. Ia kembali menatap Minsu yang kini tengah mengucap pisah sejenak pada temannya, lalu buru-buru masuk ke dalam kelas.

Tungkai Minsu melaju mengarah pada bangku yang ditempati Minseok. Senyum gadis itu melebar memandang Minseok, membuat kupu-kupu di perut Minseok, terbang kesana-kemari. Minsu terlihat sangat manis dengan jepit merah jambu yang tersemat–menyingkirkan surai yang menutupi dahinya –membiarkan dahi lebarnya terpampang. Bahkan, dengan kepingan gigi yang tidak meratapun, gadis itu masih mampu membuat Minseok tergila-gila.

“Hai sun–AW!” sapaan Minsu terhenti saat lututnya terantuk pinggiran meja. Senyuman Minsu berubah menjadi cengiran kesakitan yang luar biasa, dan membuat Minseok–panik.

“Kau ini, hati-hati dong kalau jalan!” ujar Minseok sembari membawa gadis itu duduk di sisinya, kemudian meniupi lutut Minsu yang memerah.

Tanpa Minseok ketahui, rona merah tersebut tidak hanya mencuat dari lutut, melainkan juga pada kedua pipi tirus milik Minsu.

Ssunbae, aku tidak apa-apa, ini tidak sakit kok.” Minsu menarik diri menjauhi Minseok, Minseokpun menghentikan akifitasnya–meniupi lutut Minsu.

Keduanya kemudian terjebak dalam situasi kikuk dalam beberapa menit, hingga bibir Minsu melakukan pergerakan–memecah hening. “Hari ini ujian bahasa inggris, kan?”

Minseok mengangguk seraya tersenyum melihat Minsu tampak girang–mengingat, pelajaran bahasa inggris merupakan mata pelajaran yang sangat disukai oleh gadis itu. Yah, walaupun otak Minsu tidak secemerlang Minseok, tapi setidaknya gadis itu menguasai beberapa kata dalam bahasa inggris.

Kali ini, hening kembali menyergap, lantaran guru mereka telah memasuki kelas dan mulai membagikan lembar soal untuk dikerjakan.

Minsu tampak sangat serius mengerjakan soal ujiannya. Aneh sekali, biasanya , dalam waktu beberapa menit setelah menerima lembar soal, gadis itu pasti akan langsung merengek pada Minseok–meminta bantuan.

Tapi kali ini, sang gadis nampak sangat berapi-api mengerjakan soal ujiannya, sementara lelaki di sisinya malah sibuk memikirkan sesuatu yang lain. Alih-alih mengerjakan soal di hadapannya, Minseok malah terus memandangi Minsu–yang saat ini tengah sibuk menggoreskan pulpen pada lembar jawaban.

“Minsu-yah…” Minseok menyentuhkan ujung telunjuknya pada bahu Minsu–meminta perhatian.

“Ya sunbae, ada apa?” Minsu mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas dihadapannya, demi menanggapi kakak kelasnya itu.

“Bisa bantu aku?”

“Bantu apa?”

“Ada sebuah pertanyaan yang sulit, kurasa hanya kau yang bisa menjawabnya.”

Alis Minsu berjungkit. Kakak kelasnya meminta bantuan untuk menjawab soal? Apa ia tidak salah dengar? Bukankah Minseok merupakan seorang pelajar teladan–yang sangat pintar, tentunya–lalu mengapa meminta bantuan pada adik kelas sepertinya, yang malah berpotensi besar untuk menghancurkan nilainya.

“Ta–tapi sunbae, aku kan tidak pin–“ usaha penolakan Minsu tidak terlaksana, karena lelaki di sisinya kini menampilkan kilat-kilat samar pada matanya–memelas. Ah, menolak permintaan seorang Kim Minseok yang tampan, bukanlah sesuatu yang mudah. Lagipula, soal bahasa inggris kan tidak serumit fisika ataupun matematika–mungkin saja, Minsu bisa menjawabnya.

“–baiklah, aku akan membantu, semampuku.”

Manik Minseok berbinar, kemudian membalik kertas soalnya dan menuliskan sesuatu disana, lalu menyerahkannya pada Minsu.

Minsu menerima sodoran kertas dari Minseok. Saat membaca isinya, mati-matian Minsu menahan bola matanya agar tidak keluar dari peraduan. Soal yang baru saja Minseok berikan padanya, sesungguhnya bukanlah soal yang sulit untuk dijawab, tapi mampu membuat jantung Minsu jumpalitan.

Satu kalimat pertanyaan dalam bahasa inggris–yang membuat Minsu hampir gila.

Would you be–mine, Yang Min Su-ssi?

Ya! Minsu hampir gila karena kegirangan bukan kepalang! Belum lagi, goresan tangan Minseok di ujung bawah pada kertas itu, yang membuat pipinya makin bersemu.

(p.s). Don’t even dare to say no!

Well, nampaknya Minsu tak punya pilihan lain. Lagipula–gadis itu tak membutuhkan opsi lain. Jawabannya, sudah pasti; iya.

 

-END-

Credit tags:

Hahaha :D, fic absurd ini tercipta sewaktu mengenang masa-masa esempe dulu, pas ujian duduk sebangku sama kakak kelas yang ganteng nan rupawan, baik hati pula–pasalnya, soalku dikerjain terus sama dia, LoL #janganditiru – sayangnya, endingnya gak semanis cerita Minseok dan Minsoo ini #huh #ngarep haha 😀

So, in any given time–would you mind to review?

 

Advertisements

9 thoughts on “[Ficlet] English Matter

  1. -,- kenapa Minseok ga sebangku sama aku aja coba? Entar bahasa inggrisnya aku kerjain semua deh /apaan ini?!/

    Yeay akhirnya ada yg mau nulis ff fake maknae, Kim Minseok ❤ luph u deh kak aku baru baca 2 tulisan kakak tp udh suka sama pembawaanya kakak apalagi bagian komedinya keke

    Last, keep writting sunbae 😉
    #phi

      1. Waks kadang typo menjadi salah satu penyebab salah tangkap /? /udah ah fi, kamu ngomong pake bahasa alien mulu/
        Wah kak, kelainan kak? Atau jangan-jangan…!!!

      2. Iya fio… jari ku kelingking semua… nasib jadi orang kurus…
        Selain dikutuk untuk menjadi jodoh namjoon selamanya, aku nampaknya harus menerima kenyataan bahwa jariku kelingking semua(?) /ketularan fio /
        /ngomong gajelas/
        /bahasa alien/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s