CRUSH

crush

Credit tags:

Thanks to ohmyladyy @indofanfictionsart for the awesome poster.

 

CRUSH | siluetjuliet’s present | cast: park chanyeol, Kris Wu and OC | oneshoot ±200w

 genre: comedy, teen, school-life| rating : PG-15

Rules: no plagiarism !

Beware the bad words

.

“Am I crazy or falling in love? Is it really just another crush?” – David Archuleta

.

.

Park chanyeol mengangakan mulutnya lebar-lebar, beruntung dia tidak sampai hati menjatuhkan rahangnya. Dia tidak percaya dengan pemandangan yang dilihat oleh matanya saat ini.

Fotonya terpampang jelas di balik dinding kaca mading sekolah, beserta dengan sebuah note.

Harga dirinya terkoyak dengan sukses kala membaca deretan kata yang tertulis di note tersebut.

Anda kesepian? Butuh teman kala suka dan duka? Park Chanyeol,siap menghibur . siaga 24jam!

Chanyeol benar-benar geram, telinganya memerah, seluruh siswa menertawakannya. Kalau saja itu bukan mading sekolah, mungkin ia sudah memecahkan kacanya lalu mengambil foto besarnya yang tertempel disana dan menyobeknya penuh angkara murka.

Tapi tidak mungkin, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mencari pemegang kunci mading sekolah yang ia jelas tahu dengan pasti siapa orangnya.

Chanyeol bergegas menuju kelasnya dengan emosi yang membuncah.

.

“Hei buncis jelek ! turunkan fotoku dari dalam mading sekarang juga!” Chanyeol menggebrak meja, membuat jantung Yixing jumpalitan. “Hei Park Chanyeol! Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih sopan!” Yixing melotot, Chanyeol tampak tidak peduli.

“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu Yixing-ah, tapi aku sedang berurusan dengan gadis jelek ini!”

Chanyeol menunjuk geram kearah gadis yang duduk satu meja dengan Yixing, sedangkan gadis yang dimaksud Chanyeol malah menatap datar seolah tak peduli.

“Tidak usah terlalu berlebihan Park Chanyeol, tenanglah.” kata gadis itu tanpa menatap wajah Chanyeol.

Chanyeol membelalakkan matanya seolah tidak percaya. tenang? Harga dirinya rusak pagi ini dan wanita ini bilang apa? Menyuruhnya untuk tenang?

Chanyeol terpaku. Lidahnya terasa kelu untuk bicara. Chanyeol hanya mampu mengisyaratkan kegeramannya dengan memberikan seringai tajam. Jika saja yang berada dihadapannya saat ini bukanlah seorang gadis, tentu Chanyeol sudah menghajarnya sampai sekarat !

Arraseo..arraseo, aku akan menurunkannya nanti. Menyingkirlah dari hadapanku tuan kacang panjang!” ujar sang gadis dengan malas, Chanyeol semakin geram.

“Jung Minhee, bisakah sehari saja tidak cari gara-gara denganku?” Chanyeol mulai frustasi.

“Kalau begitu, berhentilah mengerjai Baekhyun! Bukankah kemarin kau juga memasang foto baekhyun pada ring basket di lapangan sekolah? Apa salahnya jika hari ini aku membantunya untuk membalasmu?” Gadis itu menaikkan satu alisnya.

Jadi ini semua karna kejadian kemarin? Chanyeol sudah meminta maaf pada Baekhyun soal itu.

Yah, Chanyeol memang agak sedikit keterlaluan kemarin. Chanyeol membuat heboh dengan memasang foto besar Baekhyun di ring basket dengan tulisan begini di bawahnya : saya Byun Baekhyun, dan saya gay!

Chanyeol menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Dia sangat sadar bahwa perbuatannya kemarin memang agak sedikit berlebihan. Membuat Kim Taeyeon–senior mereka yang baru saja mengiyakan ajakan berpacaran dari Baekhyun–pingsan seketika di  tengah lapangan.

Tiba-tiba Baekhyun datang dari arah luar kelas dan menghambur ke arah mereka, menginterupsi lamunan Chanyeol. Baekhyun mencengkaram lengan Minhee, sambil mencoba mengatur nafasnya.

“Minhee-yah, Kim seonsaeng memanggilmu di ruang guru. Cepat temui dia!” Perintah Baekhyun pada Minhee dengan sedikit tersengal. Nafasnya masih belum teratur.

Minhee beranjak malas dari kursinya lalu pergi itu menuju ke ruang guru, sedangkan Baekhyun mengekor dari belakang.

.

Baekhyun bersandar di depan ruang guru, menunggu sahabatnya itu keluar dari ruang guru. Dia merasa sangat bersalah, dia sudah memperingatkankan Minhee untuk tidak melakukannya karna dengan memasang foto Chanyeol di mading sekolah jelas-jelas dapat membuat Minhee kehilangan jabatannya sebagai ketua ekstrakulikuler majalah dinding sekolah. Kim seonsaeng- guru pendamping kegiatan kesiswaan pasti sangat marah besar terhadap perbuatan sahabatnya yang telah menyalahgunakan fungsi mading sekolah.

Pintu ruang guru berderit, minhee keluar dari dalamnya. “Minhee-yah, bagaimana? Kim seonsaeng pasti memarahimu?” Minhee hanya tersenyum simpul menjawab kekhawatiran sahabatnya itu.

“Jangan khawatir, guru Kim tidak memarahiku kok. Kau tahu, kan? guru Kim sudah terbiasa melihatku menjahili Chanyeol”.

Baekhyun bernafas lega “Kajja, kita harus segera kembali ke kelas, sebentar lagi bel akan berbunyi”. Ajak Baekhyun pada Minhee.

“Kau duluan saja, aku harus melepas foto si kacang panjang itu dari mading”.

***

Bel pulang sekolah berbunyi, Minhee mengepak buku-bukunya sambil sesekali bercengkrama dengan lay yang duduk satu meja dengannya. Sementara itu, Park Chanyeol yang duduk di belakang mereka masih enggan mengepak bukunya. Dia hanya memandangi punggung Minhee dari belakang.

Jung Minhee, nurani Chanyeol bergelut dengan otaknya setiap hari berusaha mengenyahkan nama itu tapi selalu gagal.

Entah sejak kapan pria ini mulai menyukai gadis itu, ia tak tahu pasti, tapi ia selalu tidak dapat bersikap baik pada gadis kurus kering yang selalu mengikat habis rambut pendeknya ke atas kepalanya. Gadis yang lebih suka berteman dengan pria. Gadis yang suka sekali tertawa keras dan menghilangkan kedua bola matanya saat tertawa. Gadis yang tidak cantik tapi mampu membuatnya ketagihan untuk melihat wajahnya setiap hari.

Oh ParkCchanyeol, kau pasti sudah gila.

Chanyeol memijit-mijit kepalanya perlahan. Dia iri sekali pada Byun Baekhyun. Pria yang duduk semeja dengannya ini selalu bisa berada di dekat Minhee dengan leluasa, tanpa perlu merasa aneh atau canggung.

Atau Yixing, laki-laki pendiam , aneh dan galak itu. Minhee adalah satu-satunya orang yang menawarkan diri duduk semeja dengan Yising, dan luar biasanya lagi, Minhee mampu menciptakan komunikasi yang baik dengannya.

Minhee juga selalu dapat tertawa lepas jika sedang bercanda dengan Jongdae yang over ekspresif, minhee juga selalu bisa membuat Minseok–yang pemalu menjadi suka tertawa.

Minhee juga tidak kesulitan untuk berteman dengan Kyungsoo si jenius , bahkan Joonmyeon–si ketua kelas yang tidak pernah didengarkan dan dihargai seisi kelas–selalu memercayakan hal-hal penting pada minhee.

Dan juga, Minhee dengan senang hati menerima tantangan Luhan bermain sepak bola di siang bolong.

Tapi tidak dengan Chanyeol, ia juga ingin bisa sedekat itu dengan Minhee, tapi yang ada hanyalah pertengkaran-pertengkaran sengit yang terjadi setiap kali mereka bertatap muka. Suasana kelas akan menjadi aneh jika sehari saja tidak mendengar Minhee membentak Chanyeol.

***

“Minhee, pangeranmu datang” Baekhyun berbisik di telinga Minhee sambil menunjuk ke arah pintu. Minhee menghembuskan nafas berat, ia benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan kekasihnya–Kris.

“Jadi itu sebabnya kau tidak mau kujemput pagi ini, huh? Kau bahkan diantar oleh laki-laki yang tidak lebih tampan dariku! bahkan beraninya pria itu mengusap rambutmu. Kau itu kekasihku, sadar tidak sih kalau kau sudah menyakiti hatiku, sayang!”. Kris mendengus sebal. Minhee menghentikan langkahnya menuju kelas, lalu memandang wajah kekasih nya itu dengan tatapan lelah. “Lelaki yang kau sebut ‘tidak lebih tampan darimu’ barusan punya nama. Namanya Jung Yunho, dan dia kakakku”.

Otak Minhee seolah mem–flashback kejadian tadi pagi. Bagaimana ia harus menghadapi Kris kali ini? Minhee sangat lelah. Berpacaran dengan seorang Kris yang keren, benar-benar tidak sekeren kelihatannya.

Yixing beringsut dari bangkunya dan mengucapkan bye sejenak pada Minhee yang disertai anggukan hangat dari Minhee. Setelah Yixing pergi, Minhee kembali menyibukkan tangannya, memasukkan buku-bukunya kedalam tas, berusaha menyangkali kehadiran Kris yang kini telah duduk manis di bangku yang baru saja ditinggalkan Yixing.

“Sayang.. aku punya sesuatu untukmu” Kris mengibas-ngibaskan sebungkus cokelat di area pandangan Minhee untuk menarik perhatian gadis itu, tapi gadis itu tidak bergeming, masih menyibukkan dirinya sendiri.

“Sayang, kumohon.. jangan marah lagi, aku tidak tau kalau dia kakakmu.” Minhee menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah kekasihnya itu lekat-lekat. “Aku tidak marah padamu kris, bukankah sudah kukatakan berkali-kali, aku-tidak-marah”.

Kris mengembangkan senyumnya. Wajahnya terlihat seribu kali lebih tampan, memesonakan gadis-gadis lain yang berada di kelas Minhee. Sebagian iri pada Minhee, sebagian lagi terlampau terpesona, dan beberapa gadis lainnya pingsan.

Chanyeol mengangkat pantatnya dari kursi. Pemandangan di depan matanya ini membuatnya ingin muntah. Dia harus segera keluar dari kelas ini.

Okay, berarti kau bisa menemaniku latihan basket hari ini”.

“Ehm–maafkan aku Kris, aku baru ingat kalau ada tugas yang harus kukerjakan bersama baekhyun, benar begitu kan baek?” Minhee menatap cepat kearah Baekhyun dan dengan deathglarenya ia mengisyaratkan Baekhyun untuk mengiyakan kata-katanya.

***

Chanyeol mematut wajahnya di cermin setelah membasahi mukanya dengan air. Kepalanya terasa sangat pusing, hatinya terasa sangat sakit. Kenyataan bahwa ‘Jung Minhee adalah kekasih Kris’ membuat hatinya terpecah menjadi puing-puing.

Bagaimana tidak sakit rasanya, ketika kau merasa bahwa kau adalah seorang pecundang yang ingin mendekati seorang putri idaman, sedangkan sang putri telah memiliki pangeran sempurna yang sangat mencintainya. Uh, kisah ini benar benar buruk, Chanyeol benar-benar merasa terpuruk.

Jelas saja Kris berbeda kasta dengan chanyeol. Kris merupakan ‘most wanted guy’ yang sudah pasti diinginkan oleh segenap gadis di jagat raya. Kaya raya, tinggi, tubuhnya atletis, cool, ramah, romantis, pintar, baiklah deskripsikan saja dengan satu kata; SEMPURNA. Sedangkan Chanyeol?–ah lupakan, menyebutkan keburukannya saja sudah terlalu banyak, deskripsikan saja dengan satu kata; PAYAH.

Belum lagi teman-teman Kris. Disana kau bisa temukan laki-laki dengan pesona yang luar biasa. Jongin, anggota tim basket yang sekaligus merangkap sebagai model freelance. Tampan? Sudah pasti. Jangan samakan dengan Yixing yang memiliki wajah antagonis, atau Jongdae yang berwajah konyol itu.

Lihat juga pada Sehun? Lelaki setinggi tiang listrik ini benar-benar memesonakan setiap mata wanita yang memandang, kaya raya dan pintar merayu. Jangan samakan dengan Kyungsoo atau Minseok, bahkan Joonmyeon. kata TINGGI dan PENDEK cukup mampu mendeskripsikan perbedaan yang menyakitkan.

Atau, lihat saja pada Zitao.. seorang atlit wushu yang ‘manly’. Lihat saja wajahnya yang tampak garang dan sangat ‘laki-laki’ itu tentu tidak bisa dibandingkan dengan Luhan yang lebih patut dibilang ‘cantik’, atau dibandingkan dengan Baekhyun yang cengengesan itu? Sangat tidak sepadan.

Kris bagaikan Gu Jun Pyo dengan ketiga temannya dalam drama boys before flower, sedangkan Minhee dan teman-temannya lebih mirip kisah snow white dan tujuh kurcaci dengan Chanyeol sebagai pangeran berkuda putihnya –pangeran berkuda putih?. Lupakan saja, Park Chanyeol.

Chanyeol mengacak rambutnya, kesal. Mendadak ia tidak ingin mengikuti latihan basket hari ini. Chanyeol memang termasuk dalam anggota tim basket sekolah, tapi tidak termasuk jajaran ‘teman-teman keren Kris’, lagipula Chanyeol juga tidak berminat. Chanyeol menyukai basket, tapi dia benar-benar tidak menyukai Kris dan teman-temannya. Yang lebih dia tidak sukai adalah kehadiran Minhee setiap latihan basket untuk menemani kekasihnya yang –uh­ , nyaris sempurna itu.

Chanyeol mengirim pesan singkat pada Kris, kapten tim basketnya untuk tidak mengikuti latihan hari ini. moodnya benar-benar rusak. Ia memutuskan untuk pulang dan bermain basket sendirian di taman dekat rumahnya.

***

“Minhee-yah, maaf.. aku mengantarmu sampai sini saja ya, aku harus mengantarkan makan siang untuk Taeyeon noona, dia ada tambahan pelajaran hari ini. Maafkan aku.” Baekhyun merasa bersalah pada Minhee karna tidak bisa mengantarnya pulang, lagipula itu juga salah minhee sendiri, kenapa menghindar dari Kris kalau jadinya begini kan baekhyun juga ikut repot.

“Tak apa Baek, aku bisa pulang naik bus kok, aku hanya sedang tidak ingin berlama-lama di sekolah, maaf karena sudah menjadikanmu alasan untuk menghindari Kris”.

Baekhyun mengusap pundak minhee “Its okay, itu gunanya teman. Baiklah, aku pergi dulu, kau pulanglah dengan hati-hati”.

Minhee melambaikan tangannya pada Baekhyun yang dengan cepat melesat pergi untuk menemui pacar barunya.

***

Minhee melangkah gontai, ia benar-benar merasa lelah. Lelah berpacaran dengan lelaki ‘yang orang bilang sempurna’ seperti Kris. Tidak ada yang salah dengan perlakuan Kris padanya. Kris bersikap baik, kelewat baik malah. Kris juga romantis, ralat– kelewat romantis, dan Kris membuat minhee merasa kesulitan bernafas.

Kris dan pengemar-penggemar wanita gilanya juga selalu membuat telinga Minhee panas. Ribuan hujatan dialamatkan pada Minhee oleh gadis-gadis satu sekolah, berbagai macam terror dan umpatan telah ia terima atas konsekuensi statusnya yang merupakan–kekasihKris.

Kris sendiri? Dia tampak abai, yang ia tahu, Minhee adalah miliknya. Kris selalu ingin ditemani oleh Minhee dimanapun ia berada. Tidak pernah marah ataupun membentak Minhee, selalu tersenyum dan menjaga Minhee dengan baik.

Tapi minhee tidak suka. Dia tidak suka diperlakukan berlebihan. Dia tidak suka tatapan sinis orang lain terhadapnya. Dia tidak suka waktu bermain bersama teman-temannya berkurang karena harus menemani Kris kemana-mana. Pada intinya, Minhee tidak suka jadi pacar Kris–lebih tepatnya, ia tidak menyukai Kris.

***

Minhee duduk pada bangku kecil di depan gerbang sekolah. Ia meneguk air dalam botol minum yang ia bawa sembari memperhatikan dan dua orang gadis bercakap-cakap.

“Jieun-ah, bagaimana ini? Tidak ada yang menjemputku hari ini, bisakah aku pulang bersamamu?” Bae Suji mengeluh pada sahabatnya, Lee Jieun. Mereka berdua adalah junior Minhee.

Ji eun menggeleng lemas. “Maaf Suji, aku masih ingin menghadiri latihan basket hari ini. Kau tau kan, aku sangat ingin menjadi manajer tim basket sekolah kita, jadi aku ingin menunjukkan keseriusanku dengan hadir di setiap latihan”.

“Sebenarnya, aku  ingin menemanimu, tapi aku sebal jika melihat pacar Kris sunbae ada disana.” Minhee tersedak kecil mendengar pernyataan Suji barusan. Suji tidak sadar kalau gadis yang sedang ia bicarakan ada disana. Berada tidak jauh dari mereka, mengamati dan mendengarkan segalanya.

“Oh suji-yah, barusan aku berpapasan dengan Chanyeol sunbae, sepertinya ia tidak ikut latihan basket hari ini. Pulanglah bersamanya, dia tidak akan menolak, tampaknya dia menyukaimu.” Jieun menimpali sambil mendorong bahu Suji pelan.

“Chanyeol sunbae? Maksudmu aku harus pulang dengan menaiki vespa usang milik Chanyeol sunbae itu? Jangan bercanda Jieun-ah, lebih baik aku panggil taksi”.

Ji eun tergelak mendengar pernyataan temannya itu. “Kau kejam sekali Suji-yah”.

Kejam. Ya , Suji memang keterlaluan. Apa yang barusan ia katakan membuat Minhee naik pitam. Bukan karna suji tidak menyukai Minhee, tapi karna perkataan suji yang merendahkan Chanyeol. Minhee benar-benar tidak bisa terima temannya direndahkan seperti itu. Gadis itu, benar-benar minta dihajar!

“Bocah tengik!” Minhee berteriak dari tempat duduknya. Suji tersentak. Jieun  menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Mereka berdua terkejut atas kehadiran Minhee yang saat ini tengah berjalan garang ke arah mereka.

“Hei nona Bae, kuberitahu kau satu hal. Menjadi gadis matre itu benar-benar tidak membuatmu tampak keren, dan aku peringatkan padamu, jangan pernah bicara sembarangan, apalagi merendahkan temanku!”

Bae suji menatap galak seolah menantang Minhee, sedangkan Jieun meremas ujung baju Suji dengan gemetaran. Jieun sadar, bahwa temannya sudah membangunkan harimau tidur. Minhee bukan wanita biasa, Suji akan habis kali ini.

“Huh, kau cari mati rupanya!”. Minhee menyisingkan lengan seragamnya dan mengepalkan tangannya bersiap untuk meninju wajah mulus nan cantik milik Suji yang tidak dimiliki olehnya. Tapi, aksinya terhenti oleh teriakan laki-laki bersuara bass yang familiar olehnya.

“Hei buncis sedang apa kau?”

Park Chanyeol menghampiri mereka, lalu memandang lembut pada Suji. “Maafkan perlakuan temanku ini, maklum dia masih dalam pengawasan dokter.” Ujar Chanyeol meminta maaf, kemudian dengan sigap menarik tangan Minhee dan menyeretnya pergi dari tempat itu, tanpa memedulikan pekikan Minhee yang dapat membuatnya kehilangan pendengaran sewaktu-waktu.

“Apa kau bilang?! Aku tidak gila! Lepaskan aku kacang panjang jelek! Aku ingin memberikan pelajaran pada bocah tengik ini ! yaaaakkkk Park Chanyeol lepaskan tanganku!!!”.

***

Meskipun Minhee telah meronta, tatap saja tenaganya kalah dengan Chanyeol yang berhasil memaksanya naik ke atas vespa butut milik Chanyeol dan mengungsikan Minhee ke suatu tempat, yang bahkan Minhee tidak tahu apa namanya dan dimana ia sedang berada sekarang. Di depan matanya hanya terlihat sebuah taman yang tidak terurus, tampak rumput –rumput liar yang dibiarkan tumbuh meninggi dan sebuah ring basket yang tampak berkarat dan berlumut berdiri kokoh di ujung taman.

“Kenapa kau membawaku kesini? Tempat ini jelek sekali, kau mau menculikku ya? Percuma, orangtuaku tidak akan memberimu uang tebusan.” Chanyeol terkekeh mendengar celotehan Minhee.

Minhee melipat kedua lengannya di depan dada. “Aku serius Park Chanyeol, kenapa kau tidak membiarkanku menghajar bocah itu. Aku sedang membelamu, kau malah membelanya!”

“Aku tidak memintamu untuk membelaku.” Kata Chanyeol sambil menyundul dahi Minhee dengan ujung telunjuknya.

“Huh, apa kau benar-benar menyukai gadis matre seperti dia?”

“Memangnya kenapa? Suji cantik, wajar kan jika aku menyukainya. Lagipula apa bedanya kau dengan Suji? Bukankah kau memacari Kris karena dia kaya?”.

Minhee memukul kepala Chanyeol dengan sangat keras hingga chanyeol mengaduh kesakitan. “Kalau materi alasannya, aku tidak akan menolak ajakan berpacaran dari Kris sampai dua kali, tahu!” Minhee mengelak.

“Lagipula kau sadar tidak sih, kau itu tidak pantas untuk Kris! Kris tidak cocok bersanding dengan gadis  jelek sepertimu.” Sahut Chanyeol sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit. Minhee menunduk lemas, ia merasa tertohok, temannya itu benar.

“Sudahlah lupakan, aku membawamu kesini untuk menantangmu bertanding basket denganku. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu tadi pagi nona Jung. Kau harus menemaniku main basket, ayo!”.

Tanpa memedulikan Minhee setuju atau tidak, Chanyeol menarik paksa lengan Minhee untuk membawanya ke tengah lapangan basket.

.

Chanyeol tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Tawanya tidak berhenti sekalipun Minhee melemparinya handuk basah dengan sekuat tenaga.

“Hahaha.. lihatlah, kau terlihat seperti buncis yang gagal panen.”

“Hentikan Park Chanyeol!”

Minhee menjambak rambut Chanyeol sebentar lalu mengambil posisi duduk dilantai berhadapan dengan Chanyeol, jarak mereka hanya terhalang oleh sebuah meja saat ini.

Alasan chanyeol menertawakan Minhee adalah–karna baju kebesaran yang dipakai Minhee membuat tubuh Minhee seolah tenggelam.

Saat bermain basket tadi, hujan turun dengan deras, tapi mereka tetap asyik bermain sampai benar-benar basah kuyup. Chanyeol membawa Minhee kerumahnya, dan meminjamkan kaosnya pada Minhee agar gadis itu tidak sakit.

“Waaah… kau membuatkan ramyeon untukku?” Mata minhee berbinar melihat sepanci ramyeon yang berada di atas meja.

“Jangan besar kepala. Ini untuk kumakan sendiri, tahu!” Chanyeol memelototi Minhee. Minhee memajukan bibir bawahnya.

“Aku lapar Park Chanyeol, aku mau makan ramyeon, huhuhuhuhu”. Minhee merajuk dengan tangisan yang dibuat-buat.

“Ah, kau itu benar-benar! Jangan merengek seperti itu, kau semakin terlihat jelek”

***

“Minhee-yah, kita sudah sampai, bangunlah.” Chanyeol berbisik perlahan sambil mengusap tangan Minhee yang melingkar pinggangnya. Minhee benar-benar tertidur pulas diatas vespa usangnya. Kepalanya masih bertengger indah di pundak kiri Chanyeol.

Sebenarnya, Chanyeol masih ingin menikmatinya lebih lama lagi, tapi saat ini ia, Minhee, dan vespa usangnya telah berada tepat di depan pintu pagar rumah Minhee–mau tidak mau, Chanyeol harus membangunkan Minhee.

YAK JUNG MINHEE, BANGUNLAH! PUNDAKKU SAKIT BODOH! KEPALAMU ITU BERAT.” Chanyeol tidak dapat mengontrol volume suaranya, membuat Minhee terlonjak bangun dengan sukses.

“Kau mengagetkanku! Tidak bisakah kau membangunkanku dengan sedikit lembut?!” Minhee turun dari vespa Chanyeol dengan cemberut.

“Darimana saja kau?” Tiba-tiba suara seorang pria membuat fokus Minhee beralih pandang pada teras rumahnya.

“Kris?” Minhee terkejut, ia kira yang barusan bertanya adalah kakaknya, tapi nyatanya ia melihat kris berdiri di teras rumahnya. Chanyeol juga sama terkejutnya. Mereka berdua terdiam.

“Oh, jadi ini alasanmu tidak menemaniku latihan hari ini? Aku menunggumu berjam-jam disini hanya untuk melihat pemandangan ini? Kau juga, jadi ini alasanmu tidak datang latihan Park-ssi? Untuk menghabiskan waktu bersama kekasih orang lain–bahkan, sampai matahari terbenam!” Kris mencecar.

“Kris, ini tidak–” Chanyeol mencoba menjelaskan sesuatu pada Kris, namun diinterupsi. “Dengarkan aku, Park Chanyeol. Mulai besok, kau tidak perlu menginjakkan kakimu di lapangan basket lagi, mengerti?!” Ujar Kris, kemudian ia memegang lengan Minhee, menyuruhnya masuk kerumah.

Minhee memandang nanar pada Chanyeol lalu menepis tangan Kris.

“Kris, kita putus saja–”

“APA?”. Kris dan Chanyeol menyahut bersamaan.

“Jangan bicara yang tidak-tidak, kau pasti lelah sayang, masuklah. Beristirahatlah, aku akan meneleponmu nanti malam”.

“Kau benar Kris, aku lelah.. sangat lelah menjalani hubungan ini denganmu, kita berpisah saja”.

Kris membelalak, Chanyeol terdiam selagi batinnya menjerit ‘drama apa ini?!’

“–Kalian berdua pulanglah, aku lelah”.

Telinga Kris memerah. Ia beringsut menaiki motor besarnya dan menge’gas’nya kasar lalu meninggalkan rumah Minhee secepat kilat.

“Yeol, kau juga pulanglah.” Kata Minhee yang segera berlalu masuk ke dalam rumahnya. Chanyeol diam mematung, belum beranjak dari depan rumah gadis itu. Dia benar-benar tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat.

Sedangkan Minhee segera mencari oppanya yang sedang berada di dapur. Semula, Yunho hendak menyediakan minuman untuk Kris yang sudah menunggu Minhee sejak tadi sore. Tapi urung karna tiba-tiba Minhee memeluknya erat dan menangis sekeras-kerasnya di bahunya membuat ayah dan ibunya kebingungan. Yunho mengisyaratkan ayah dan ibunya untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.

Ia tahu, hati adiknya pasti sedang sangat kacau saat ini, walau ia tidak mengerti permasalahan apa yang membuat adiknya seperti ini. Yunho hanya mampu merelakan kaos kesayangannya basah oleh air mata dan ingus adiknya itu.

.

Kris membanting pintu kamarnya dengan kasar. Melemparkan tas dan jaketnya ke sembarang tempat. Ia melempar apapun yang ada di sekelilingnya. Suasana hatinya benar-benar buruk.

Apa-apaan ini! Minhee memutuskan hubungannya. Beraninya gadis itu, bahkan ia tidak sedikitpun memandang perjuangannya untuk mempertahankan gadis itu.

Kris masih sangat ingat bagaimana dia bisa jatuh cinta pada Minhee. Ia masih sangat ingat hari dimana ia pertama kali bertemu dengan Minhee, satu-satunya gadis yang bermain bola di tengah teriknya matahari siang menarik perhatian mata Kris. Kris masih sangat ingat, bagaimana pesona gadis yang suka sekali menguncir asal rambut pendeknya, membiarkan beberapa helai menjuntai begitu saja dan bagaimana gelak tawa Minhee mampu merengkuh hati Kris seutuhnya.

Harusnya sejak awal Kris sadar, ia yang terlalu memaksakan diri. Gadis itu tidak menyukainya dari awal. Bahkan Kris memintanya untuk menjadi pacarnya sampai tiga kali, baru gadis itu mau menjadi pacarnya.

Gadis itu menggoncangkan dunianya, membuatnya terus berjuang untuk memiliki gadis itu secara utuh. Tapi, dia sadar sekarang bahwa selama ini hanya raga gadis itu yang selalu bersamanya, tidak dengan hatinya.

Minhee selalu tertawa lepas jika ia sedang bersama dengan teman-temannya, atau jika sedang menjahili Chanyeol, tapi saat bersama Kris, Minhee hanya mengulas senyum simpul, bahkan Minhee tidak pernah memeluk Kris seerat itu ketika Kris memboncengnya, sedangkan jika bersama Chanyeol? Minhee malah bisa tertidur pulas tanpa takut terjatuh.

Kris yakin teman-teman Minhee jauh lebih mengenal kepribadian Minhee daripada Kris. Kris selalu menceritakan segala hal pada Minhee, tapi sebaliknya, Minhee jauh lebih tertutup. Bahkan Kris tidak tahu jika Minhee mempunyai seorang kakak laki-laki yang menuntut ilmu di negara lain dan baru saja pulang ke korea. Kris benar-benar merasa bodoh.

Kris marah, semua kenyataan ini sangat menyakiti hatinya,

***

Minhee menaruh kepalanya di atas meja. Sebenarnya ia tidak ingin pergi ke sekolah hari ini, tapi apa daya, ujian bahasa inggris mencegahnya merealisasikan niatan buruk itu.

“Hei, nona buncis!” Chanyeol mengacak-acak rambut Minhee hingga kusut.

Biasanya Minhee akan beteriak marah, namun kali ini minhee tidak bergeming. Chanyeol beringsut dari kursinya dan kini berdiri di samping kursi yang diduduki Minhee.

“Jangan sedih begitu, wajahmu terlihat makin jelek”.

Minhee menengadahkan wajahnya dan memandang Chanyeol.

“Siapa yang sedih, sih? Lagipula, bukankah di matamu aku memang selalu tampak jelek, tidak peduli apapun yang sedang kulakukan.”  Seru Minhee sambil berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Chanyeol. Jantung Chanyeol serasa akan melompat keluar dari rongganya.

“Mm..memang kau jelek!” Chanyeol mendorong tubuh Minhee perlahan. Minhee kembali duduk di tempatnya.

“Oh ya kacang panjang, maafkan aku , soal kemarin,  umm.. jangan khawatir, aku akan berusaha memasukkanmu ke dalam tim basket lagi.”

Chanyeol berjongkok dihadapan Minhee “Tak apa, aku lebih menyukaimu dari pada basket.”

Bodoh… apa yang baru saja kau katakan Park Chanyeol!

“Mm..maksudku aku lebih suka mengerjaimu daripada berlatih basket–” Sambungnya lagi sambil menggosok tengkuknya yang tidak gatal.

–Oh ya ,kenapa kau memutuskannya? Bukankah wajar kalau ia cemburu, berarti Kris benar-benar menyukaimu, harusnya kau bersyukur.” Chanyeol bertanya untuk mengalihkan perhatian.

“Bersyukur kepalamu! Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku tidak pantas untuk Kris? Yah, aku baru menyadarinya sekarang.”

Chanyeol mengangguk setuju, kemudian bergumam lagi. “Kau memang tidak pantas untuk Kris, kau pantasnya untukku–” Chanyeol menutup mulutnya dengan kedua telapaknya. Dia tidak bisa mengendalikan lidahnya.

Ada apa dengan otakmu Park Chanyeol. Sadarlah!

Minhee membelalakkan matanya, jantungnya berdegup tidak karuan. Park Chanyeol daritadi mengeluarkan  kalimat-kalimat yang membuatnya merasa terbang ke awan-awan. Chanyeol sukses membuat pipinya memerah kali ini.

“Jangan terlalu serius begitu. Kau tau kan aku tidak tertarik dengan gadis jelek. Jadi jangan terlalu percaya diri.” Ucap Chanyeol berusaha menyelamatkan keadaan.

“Mm..memangnya siapa yang geer!” Minhee melipat kedua lengannya di dada. Intonasi suaranya meninggi membuat Yixing merasa terganggu.

“Kalian ini berisik sekali sih!” Yixing yang sedang membaca buku menyahut dari tempat duduknya.

“Kalian berdua berkencan saja, kami bosan mendengar teriakan kalian setiap hari.” Joonmyeon menyahut santai.

“Pak ketua kelas, kau benar! Siapa tahu, jika kalian berpacaran, suasana kelas akan lebih tenang.” Kyungsoo–si jenius juga ikut menimpali pernyataan ketua kelasnya itu.

“Aku setuju!” Luhan yang duduk di belakang Joonmyeon dan Kyungsoo ikut ber-euforia sambil ber’high-five’’ria diiringi dengan pekikan Minseok. “AKU JUGA SETUJU!”

“Jangan memperkeruh suasana kau bonsai!” Minhee memandang geram pada Joonmyeon, seolah ingin menerkamnya karna telah menyulut keributan.

“Atau–lebih baik kalian langsung menikah saja, gampang kan?” Jongdae ikut menggunjing dengan ekspresinya yang tanpa dosa itu.

“Kim Jongdae! Kau cari perkara denganku ya?” Chanyeol mengancam Jongdae.

“Tidak boleh! Anak kalian nantinya pasti sangat berisik seperti kalian. Aku tidak akan membiarkan anakku berteman dengan anak kalian berdua nantinya.” Baekhyun malah mengoceh terlalu jauh membuat seisi kelas tertawa.

“DIAM KAU BACON!”. Chanyeol dan minhee berteriak bersamaan.

“Aku tidak ingin menikah dengan Chanyeol!” Teriak Minhee sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

Chanyeol tak ingin kalah. “Aku juga tidak sudi menikah denganmu, buncis jelek!”

“Kalian dengarkan ya, jika aku dan Chanyeol menjadi pasangan. Itu berarti, kiamat datang lebih cepat dari apa yang telah dijadwalkan oleh Tuhan, mengerti!” Minhee berorasi sambil berkacak pinggang.

“Hey buncis, sadarlah! Wajahmu itu jauh lebih menyeramkan daripada hari kiamat.” Seru Chanyeol kemudian memencet gemas hidung Minhee yang mancung. Seisi kelas tercengang, mereka semua tau jika Minhee paling tidak suka jika ada orang yang memegang hidungnya. Jika hal itu terjadi, maka Minhee tidak akan segan-segan mematahkan tangan orang yang memegang hidungnya.

Chanyeol benar-benar akan habis kali ini, pasalnya ia tidak hanya memegang hidung Minhee, ia memencetnya . Sadar akan kesalahannya, Chanyeol langsung mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan minhee.

YAK KACANG PANJANG BUSUK, JANGAN LARI ! KUBUNUH KAU !!” Minhee mempercepat laju kakinya mengejar Chanyeol diiringi oleh tujuh kurcaci yang membantunya untuk menangkap Chanyeol.

— END –

 

Advertisements

One thought on “CRUSH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s