worst day

WORST DAY |@rebeccabbx | cast: Kim Jaejoong , and others | length: ±880w | PG-15

Comedy

Rules : no plagiarism !

Beware the bad words

.

– Even your worst day only has twenty-four hours –

.

.

“SIAL!”

Jaejoong mengumpat.

Tangannya kirinya sibuk membantu kakinya kirinya untuk masuk ke dalam sepatu pantofel kesayangannya yang belum sempat ia poles, sementara tangan yang lain sibuk mengepak kertas-kertas dokumen yang berserakan di meja. Dengan sigap jaejoong merapikan segalanya dan memasukkannya dalam tas kerjanya.

Tanpa aba-aba, jaejoong membuka kenop pintu rumahnya dan melesat keluar dari sana dengan membubuhkan sedikit kejutan bagi yunho, yoochun, junsu dan changmin –empat teman yang tinggal serumah dan berbagi uang sewa dengannya–, berupa suara dentuman keras saat jaejoong menutup pintu.

Jaejoong melakukan itu semua bukan tanpa alasan.

Ia melakukannya karena ia sangat kesal. teman-teman se-rumahnya benar-benar merusak paginya.

Jaejoong harus berangkat kerja lebih awal pagi ini, karena ada suatu presentasi penting yang harus ia handle. Ia telah mempersiapkan segalanya semalam, for your info–jaejoong merupakan sosok pria perfeksionis yang selalu penuh persiapan. Ia tidak pernah melewatkan setitikpun hal yang mampu merusak seluruh rencananya.

Namun, tidak untuk hari ini.

Nampaknya, dewi fortuna tidak berpihak padanya sejak matahari terbit pada pagi hari ini. Bagaimana tidak, jam beker yang telah ia atur sedemikian rupa untuk membangunkannya lebih awal dipagi hari, ternyata tidak berfungsi.

Karena– yah, salah satu teman se-rumahnya –park yoochun, mencopot baterai jam bekernya untuk ditukar dengan baterai yang terdapat pada remote televisi yang telah kehabisan daya, sehingga mengakibatkan jaejoong bangun kesiangan, karena jam bekernya tidak berfungsi .

Park yoochun sialan!

Bersyukurlah karena jaejoong masih punya teman se-rumah yang lain –kim junsu yang baik hati, yang setidaknya masih membangunkannya untuk mengingatkannya mengenai rapat penting yang harus ia hadiri dikantor. Yah– walaupun sebenarnya jaejoong akan lebih bersyukur jika junsu membangunkannya lebih pagi. Sehingga, setidaknya ia dapat memiliki waktu yang lebih lama untuk sarapan, mandi, memoles sepatu pantofel kesayangannya, memasang dasi dan mengenakan jas dengan rapi, dan bahkan memakai lengkap sepasang kaus kaki pada kedua kakinya, bukan hanya pada sebelah kakinya seperti yang ia lakukan saat ini.

Jaejoong berlari sekencang-kencangnya demi mencapai halte juga demi mengejar sebuah bus kota yang tidak akan berhenti lama di sana.

Jaejoong memacu tungkainya lebih cepat , ia tidak bisa membayangkan jika ia harus menunggu kedatangan bus yang selanjutnya.

Beruntunglah, ia berhasil menaiki bus tersebut tanpa harus menunggu lebih lama. Sayangnya, ia harus bertahan sedikit lebih lama dalam lelahnya, karena tak ada satupun kursi yang kosong di dalam bus yang ia naiki.

Dengan perasaan ragu, jaejoong menaikkan satu tangannya untuk memegang besi panjang di bawah langit-langit bus, yang memang disediakan guna keselamatan para penumpang bus yang berdiri agar tidak jatuh . –mengingat, ketiaknya yang basah saat ini akibat peluh yang dihasilkan oleh pembakaran kalori yakni mengejar bus, serta fakta bahwa ia belum sempat mandi pagi hari ini, dan bahkan ia tidak sempat menyemprotkan sepercik parfum-pun pada tubuhnya.

Ia tau, ia tampak sangat kacau pagi ini.

Bau badan, rambut berantakan, jas yang tidak dikancingkan, dan dasi yang diselempangkan begitu saja dipundak tanpa diikat, cukup membuatnya terlihat sangat menyedihkan pagi ini.

Setidaknya, dia harus membereskan satu masalah, –dasinya.

Perlahan tangannya mulai sibuk mengikatkan dasi pada bagian leher kemejanya yang kusut. Senada dengan dasinya yang kusut, karena–

 –karena, semalam shim changmin menjadikan dasinya sebagai –alat pemanis kepala– bagi boneka beruang kesayangan changmin –yang bernama bubu. Kata changmin, bubu ingin mencoba tren baru, yakni memakai tali yang diikat menjadi sebuah pita yang manis pada kepalanya. Jadi, bubu memutuskan untuk meminjam dasi berwana pink pastel milik jaejoong.

Shim changmin sialan!

jaejoong benar-benar ingin naik darah, namun dering telepon genggamnya menginterupsi rasa kesalnya. Dan tanpa ia sadari, justru tingkat kekesalannya akan bertambah dua kali lipat sebentar lagi.

“halo”.

“hm, ada apa melepon, yunho-yah?” Jaejoong menjawab tanpa semangat.

“jaejoong-ah, kau melupakan sesuatu!”

Jaejoong mengapitkan handphonenya diantara telinga dan bahunya, sehingga tangannya bebas bergerak cekatan menjelajahi isi tas kerjanya. “memangnya apa yang kulupa–“.

Jaejoong menepuk dahinya kasar. “ASTAGA, DOMPETKU!”

“jaejoong-ah, maaf tadi aku meminjam dompetmu, sekaligus isinya untuk berbelanja ke pasar. Saat aku tiba di rumah, kau sudah pergi”.

“…..”

“jaejoong-ah, apa kau baik-baik saja?”. Jaejoong tidak menjawab pertanyaan teman se-rumahnya yang khawatir di ujung sambungan telepon yang lain.

Tentu saja aku tidak baik-baik saja, bodoh!

Jung yunho sialan!

.

Jaejoong mempercepat tungkainya lagi. Ia memaksa sepasang kakinya untuk berlari lebih cepat.

Ia turun dari bus dengan jarak yang masih lumayan jauh dari kantornya. Cukup, ia kehabisan stok rasa malunya hari ini, dengan meminta maaf  berulang kali pada supir bus karena tidak bisa membayar retribusi bus yang ia tumpangi.

Konsekuensinya, ia harus berlomba dengan waktu agar dapat tiba di kantornya tepat waktu.

Ia mengangkat lengan kanannya di depan dada guna memeriksa dimana arah jarum jam bersarang, namun–

shit!”. Jaejoong mengumpat kala mendapati realita bahwa, selain tidak membawa dompetnya, ia juga lupa tidak mengenakan jam tangan kesayangannya.

Sekali lagi, ia harus memacu tungkainya untuk berlari dalam kecepatan maksimal.

.

Jaejoong membungkuk, mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Setidaknya, ia merasa sedikit lega karena ia telah berdiri di depan gedung kantornya.

Seusai mengatur napasnya, jaejoong kembali mengangkat dagunya dan memasuki gedung. Ralat,  jaejoong hampir memasuki gudung sebelum dihadang oleh salah seorang satuan pengamanan gedung kantornya.

“maaf tuan kim, anda tidak dapat memasuki gedung ini”. Ujar seorang petugas keamanan yang menghalangi langkah jaejoong.

“memangnya kenapa? Aku pegawai disini. Ayolah, aku hanya terlambat sebentar, lagipula ada rapat penting yang harus kuhadiri”

Petugas keamanan yang mendengar pernyataan jaejoong mendesis lirih. Seolah menonton teater komedi, si petugas tergelak.

“mana mungkin ada rapat tuan? Ini kan hari minggu, kantor tutup”.

Double shit!

Kim junsu sialan!

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s