Comeback Home (07.15)

COMEBACK HOME (07.15)

  • Author : Rebeccabbx
  • Main Character : Byun Baekhyun (EXO) as Park Baekhyun, Kim Taehyung (BTS) as Park Taehyung, Jung Minhee (OC) as mom, Park Chanyeol (EXO) as dad.
  • Length : Oneshoot
  • Genre :  family, a bit comedy, sad, hurt.
  • Rating : G
  • Rules : no plagiarism !
  • Disclaimer : ini murni hasil pemikiran otak saya. Genre family pertama yang ditulis dengan susah payah dan menguras air mata, karena baru selesai 2 minggu lamanya, huhu. Terimakasih sudah mampir. Enjoy the dish, yeorobun!

Summary : “Family is not an important thing, it’s everything” – Michael J. Fox

***********************

“OPPA!”. Taehyung memekik, sementara baekhyun hanya mampu menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.

“apa kau sudah gila?”. Baekhyun menggugam pelan, seraya masih menutupi sebagian wajahnya, enggan untuk menatap sekeliling, apalagi menatap wajah taehyung saat ini.

Baekhyun shock melihat penampilan taehyung –adik kembarnya­ yang tiba-tiba muncul di pagi hari mengenakan make up tipis yang dipadu dress selutut dengan aksen bunga yang manis, serta apa itu… rambut panjang menghiasi kepalanya.

“oppa, bagaimana? Aku cantik tidak? aku disini untuk menyemangatimu”. Kicau taehyung riang sembari mengepalkan tangannya.

“apanya yang cantik? Kau itu laki-laki ! cepat ganti pakaianmu, lepaskan rambut palsu itu, dan hapus make up mu!”

“hei oppa, kau semakin tampan jika sedang kesal begitu!”. Taehyung semakin menjadi-jadi, mencubit gemas pipi hyungnya yang sedang mendidih, kesal karena ulahnya.

“berhenti memanggilku oppa! Itu menjijikkan!”

Baekhyun menepis kasar tangan taehyung dan buru-buru meninggalkannya. Mengabaikan taehyung yang terus menerus berteriak. “oppa! Semangat kau pasti bisa mempresentasikannya dengan baik!”

Tangan baekhyun mengepal. “dasar bocah bodoh!” gerutunya, tapi tanpa ia sadari senyumnya tersungging, baekhyun cukup terhibur atas kehadiran adiknya yang bodoh itu.

Sementara di sudut lorong yang lain, taehyung menunduk. Ia tidak menyangka reaksi hyung nya akan seperti itu. Ia dan pikiran polosnya hanya memikirkan cara yang tepat untuk menyemangati baekhyun dalam mempresentasikan tugas akhirnya. Karena baekhyun tidak mempunyai pacar, taehyung berpikir bahwa dengan berdandan cantik seperti ini akan membuat baekhyun terhibur dan semakin bersemangat saat melakukan presentasi.

Namun ternyata ia salah.

Taehyung tidak ingin membuat baekhyun terganggu lagi, jadi yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah duduk di bangku taman kampus, menunggu baekhyun selesai melakukan presentasi.

Tapi, masalah besar terjadi.

Mahasiswa mulai mendatanginya, untuk meminta berkenalan karena paras dandanannya yang cantik.

Semula hanya satu, dua, tiga orang mahasiswa.

Tapi selama satu jam menunggu baekhyun, sudah tidak dapat terhitung lagi .

“namamu siapa?”

“wah kau cantik sekali?”

“apa kau member girlband?”

“rumahmu dimana? Sini biar oppa antar”

“mau jadi pacarku tidak?”

Ribuan pertanyaan beruntun menghujani taehyung. Taehyung hanya terdiam, ketakutan.

Taehyung hanya mampu memanjatkan doa dalam hati agar baekhyun segera datang dan menemukannya, untuk membawanya pergi dari kerumunan pria-pria yang menyebalkan ini.

Tapi, baekhyun tidak datang.

*******************

Taehyung menggebrak pintu kamar baekhyun dengan sekuat tenaga sambil menangis tersedu-sedu. Baekhyun tampak tidak peduli dan tetap berkutat dengan diktat tebal di hadapannya.

“hyung! Kau jahat sekali, mengapa meninggalkanku sendirian begitu? Huhuhuhu… kau juga tidak mengangkat telepon dariku ataupun membalas pesanku… huhuhuhu!”

Baekhyun menutup diktat tebalnya yang menimbulkan hentakan kecil pada meja belajarnya. Tanpa menoleh kearah taehyung, ia menyuruh adiknya itu keluar dari kamarnya dengan ketus.

“keluar dari kamarku! Jangan ganggu aku!”

Taehyung meninggalkan kamar kakaknya itu dengan perasaan kecewa.

Tapi, sesaat kemudian, pintu kamar baekhyun kembali terbuka. Membuat baekhyun menggerutu. “apa lagi park taehyung!”

Namun, betapa terkejutnya baekhyun ketika ia tau bahwa yang membuka pintu adalah ibunya.

“ah.. ibu, maaf”

Jung minhee –ibu baekhyun, mendekatinya lalu memeluk leher baekhyun dari belakang.

“kenapa? Taehyung menganggumu ya? Akan ibu beri pelajaran dia nanti!”. Baekhyun menjawab pertanyaan ibunya dengan gelengan singkat.

“bagaimana presentasimu hari ini? Lancar?”. Ibu bertanya lagi, baekhyun tersenyum simpul.

“tidak diragukan lagi, kau memang anak ibu yang paling pintar”.

Minhee mengelus-elus rambut baekhyun. Dan baekhyun tidak suka hal itu. Baekhyun tidak suka dipeluk, di elus, diperhatikan sedemikian rupa karena baekhyun merasa dia bukan anak kecil lagi. 22 tahun bukan usia yang sedikit. Tapi baehyun tidak bisa melakukan apapun, sekalipun ia tidak suka, ibunya akan tetap melakukan hal itu terus menerus.

“ibu, aku lelah.. aku ingin istirahat”. Baekhyun beralasan.

“oh, baiklah, beristirahatlah..”. minhee beranjak menuju pintu kamar.

“oh ya, baekhyun-ah… besok bangunlah lebih awal, kita akan pergi bersama”

Baekhyun mengerutkan dahi. “kemana?”

“taman bermain” jawab minhee riang kemudian menutup pintu kamar anak sulungnya itu.

Dada baekhyun melengos. Pergi? Ke taman bermain? Sekeluarga?

Ini bencana!.

 

*******************

Benar. Firasat baekhyun benar.

Pergi ke taman bermain sekeluarga adalah bencana.

Jika diijinkan, baekhyun jauh memilih terdampar di kamarnya sendirian, membaca diktat kedokterannya yang tebal daripada terperosok dalam keramaian seperti saat ini.

Dengan tangan ibu yang melingkar di tangan kirinya, serta tangan taehyung yang melingkar di tangan kanannya. Baekhyun merasa seperti tahanan perang.

Bedanya, keluarganya sendirilah yang menyekapnya dan mencoba membunuhnya perlahan tapi pasti.

“hyung! Ayo kita beli eskrim!”. Pinta taehyung. Baekhyun menggeleng, tanda ia tidak ingin membeli eskrim bersama adiknya. Hatinya menjerit memohon pada Tuhan untuk menyadarkan adik kembarnya itu tentang berapa usia mereka saat ini, sungguh tidak pantas.

“hyung..hyung.. itu ada balon.. temani aku beli balon, aku mau bermain dengan paman badut, ayo hyung”. Belum ada satu menit berlalu, keinginan taehyung berubah secepat kilat kala matanya menangkap kilau warna-warni balon di sudut sisi taman ria.

Ibu menjitak kepala taehyung “aigoo… berhentilah menganggu kakakmu!”.

“ibu.. lepaskan tanganmu dari baekhyun hyung! Dia milikku!”

“enak saja. Ibu tidak mau!” minhee mempererat genggamannya pada lengan baekhyun. Baekhyun merintih pelan menahan sakit.

Sementara ibu dan adiknya memperebutkan baekhyun, ayahnya –park chanyeol, tampak abai bahkan tidak menaruh perhatian sedikitpun padanya, memandang baekhyun pun tidak.

Sangat kontras. Ada sudut ruang yang terhujam dalam dadanya kala memandang perlakuan ayahnya padanya.

apa kau membenciku?’. Pertanyaan yang selalu menghantui baekhyun sekian lama, setiap kali mengingat perlakuan yang di berikan ayahnya padanya.

“HYUNG! AYO KITA NAIK TORPEDOO!”. Teriak taehyung girang sembari menunjuk-nunjuk wahana ekstrim yang berada di hadapannya.

“itu tornado park taehyung!”. Baekhyun merevisi kalimat taehyung yang memalukan.

“oh, sudah berganti nama ya? Sejak kapan?”

“terserah kau saja!”

***********************

“HOEK!”. Taehyung memuntahkan segenap isi sarapannya pagi ini kepada semak-semak yang tak bersalah. Bahkan jika semak-semak itu mampu berbicara, saat ini taehyung akan habis terkena cacian.

Bagaimana tidak? isi sarapan taehyung pagi ini benar-benar menjijikkan. Semangkuk sup rumput laut, dua piring nasi, sepotong paha ayam goreng, beberapa suap kimchi ditambah sebotol besar susu sapi juga tak lupa beberapa butir kotoran hidungnya. Bisa dipastikan, semak-semak itu akan berhenti tumbuh setalah mendapatkan asupan dari campuran isi perut taehyung.

Baekhyun menutup hidungnya. Ia merasa sangat mual melihat taehyung serta aroma isi perut tehyung yang memaksa masuk ke dalam rongga-rongga hidungnya membuatnya juga ingin memuntahkan isi sarapannya.

masalahnya, baekhyun belum memakan apapun pagi ini.

Sementara itu, ibunya terus memukuli punggung taehyung kasar. “Dasar kau ini! Bandel, sudah ibu bilang tidak usah menaiki wahana menyeramkan seperti itu!”

“tapi.. hoeekk! Hyung ingin naik torpedo itu!”

“tornado”. Baekhyun merevisi kalimat taehyung untuk yang kedua kali, kemudian melanjutkan. “kau yang menginginkannya, kau yang memaksaku!”

“berhentilah menyalahkan taehyung!”. Chanyeol menegahi sembari menepis tangan minhee dari pundak taehyung. “kau juga, berhentilah memukulinya!”.

Chanyeol mengelus punggung taehyung lembut.

Pemandangan di depannya membuatnya muak. Ingin muntah, benar-benar muntah. Muntah sungguhan.

“hoeeekk!” baekhyun pun ikut muntah

“hyung.. gwaenchanha?”

“eo” tanggap baekhyun yang disambut dengan senyum dari taehyung yang mengisyaratkan bahwa bencana lain akan terjadi.

“kalau begitu, setelah ini kita coba boiler coaster itu ya!”. Otot baekhyun melemas seketika melihat taehyung menunjuk wahana roller coaster disana.

***********************

Lelah menyergap seisi keluarga park. Taehyung berbaring terbalik dilantai, sementara ayahnya melemparkan jaket secara asal kemudian merebahkan diri di sofa. Sedangkan ibu mereka, segera memasuki dapur , bersiap untuk membuatkan makan malam untuk keluarga yang dicintainya.

Hanya baekhyun seorang yang segera menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri setibanya di rumah.

Personalitasnya sangat berbeda dengan keluarganya. Baekhyun sangat menjaga kebersihan, sementara keluarganya tidak terlalu mementingkan hal itu.

Hal itu membuatnya bertanya-tanya, apakah ia benar-benar dilahirkan dari keluarga park? Mengapa ia berbeda? Ia tak mengerti.

Ia hanya berharap, jika boleh ia lebih baik dilahirkan di sebuah planet asing tak bernama daripada harus berakhir dalam sebuah keluarga dimana anggotanya tidak berperilaku lebih baik dari alien.

“baekhyun-ah, kau sudah selesai mandi? Ayo berkumpul di meja makan, makan malam kita telah siap”. Minhee menggamit lengan baekhyun dan membawanya paksa ke ruang makan.

Rambut baekhyun masih basah, handuknya juga masih tersampir di pundaknya. Ibunya sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk memasuki kamarnya terlebih dahulu.

“ibu, tunggu sebentar. Aku harus mengeringkan rambutku dan menjemur handuk ini”.

Baekhyun beralasan. Alasannya tidak sepenuhnya salah, namun sudut hatinya yang lain mengatakan bahwa sesungguhnya ia tak ingin makan malam bersama dengan keluarganya yang bahkan belum membersihkan diri.

Tapi, suka ataupun tidak, baekhyun harus tetap kembali ke meja makan jika ia tidak mau mati kelaparan.

Ibunya sudah mempersiapkan kursi untuknya. Adiknya menyambutnya dengan cengiran lebar sambil menggigit garpu, tanda ia benar-benar lapar.

Sedangkan ayahnya? Tak bergeming. Menatap kehadiran baekhyun saja tidak.

“hai hyung!” taehyung menyapa, jemari tangan kanannya membentuk angka lima di udara, dengan garpu yang masih menyelip di mulutnya serta telunjuk tangan kirinya yang menempel di lubang hidungnya.

“yak park taehyung, Berhentilah mengupil !–”. bentak minhee.

“ –DAN JANGAN MAKAN UPILMU!”

Baekhyun mual, untuk yang kesekian kalinya.

Nafsu makannya menghilang.

“ibu, aku tidak lapar, aku lelah. Aku ingin istirahat”.

 

*******************

Pintu kamarnya telah terkunci dengan pasti.

Baekhyun benar-benar tak ingin siapapun memasuki kamarnya saat ini.

Ia butuh waktu untuk sendiri, duduk memeluk lutut di sudut ruangan kamarnya yang gelap.

Untuk berpikir tentang banyak hal.

Tentang dirinya, dan keluarganya.

Tentang kelakuan adik kembarnya yang menyebalkan.

Tentang cara ibunya memperlakukannya seperti bocah berumur 5 tahun.

Dan, tentang sikap dingin ayahnya terhadap dirinya

Juga tentang berapa lama lagi ia sanggup untuk tinggal dengan keluarga park.

Karena terus terang saja, semenjak ia bergabung bersama keluarga park empat bulan yang lalu, baekhyun merasa sangat sesak, dan tidak bisa bernafas.

Rasa sakit di hatinya masih sangat terasa kala mengenang bagaimana keluarganya meninggalkan dan mengabaikannya.

Dulu.. dulu sekali, sudah sangat lama.

***********************

Kala itu,

Bocah berumur lima tahun sedang pergi bersama ayah dan adik kembarnya untuk mengunjungi kerabat mereka yang sedang sakit.

Minhee, -ibu mereka tidak dapat ikut serta dikarenakan profesinya sebagai jurnalis mengharuskannya untuk meliput suatu berita besar, yaitu pertemuan presiden se-Asia saat itu.

Mereka pergi sangat jauh.

Jauh dari kota, di desa terpencil yang bahkan baekhyun sendiri tak tau apa namanya.

Sore itu, mereka hendak pulang kembali ke rumah yang berada di pusat kota.

Di dalam stasiun, saat menunggu kereta datang, taehyung adiknya tanpa diduga memuntahkan segenap isi perutnya dengan ditambah beberapa bercak darah yang ikut terlontar keluar dari rongga hidungnya.

Ayahnya, -park chanyeol terlihat sangat ketakutan, karena kondisi taehyung yang demikian.

chanyeol menyuruh baekhyun untuk menunggu di stasiun, sementara chanyeol membawa taehyung pergi untuk mendapat perawatan.

Ayahnya berjanji akan datang segera untuk menjemputnya

Baekhyun menurut, ia menunggu, duduk diam disana menanti hingga ayahnya datang menjemputnya.

Satu jam

Dua jam

Seorang bibi paruh baya menghampirinya, bertanya, dan hendak mengantarkannya untuk mencarikan ayahnya.

Tapi baekhyun adalah anak yang sangat pintar, ia ingat apa yang diajarkan oleh orangtuanya untuk tidak berbicara dengan orang asing, jadi baekhyun menolah tawaran bibi tersebut dengan sopan.

Baekhyun mulai menunggu lagi, sambil terus menatap kearah jam besar yang ada di peron.

07.15

Matahari, sudah terbenam.

Satu jam

Dua jam

Tiga jam

Baekhyun memeluk lututnya yang bergetar karena kedinginan, merapatkan mantelnya sembari terus berharap ayahnya akan segera datang.

Empat jam

Lima jam

Baekhyun tertidur.

Pulas, hingga ia terbangun ketika ada tangan lembut yang menyentuhnya.

Matanya mengerjap, matahari rupanya telah terbit lagi.

Ketika matanya membulat sempurna, ia melihat bibi yang ditemuinya kemarin berada disana, tersenyum dihadapannya.

Buru-buru baekhyun mengarahkan pandangannya kearah jam besar di stasiun.

07.15

Empat belas jam sudah baekhyun menunggu, ayahnya tak kunjung datang.

Bibi itu bilang bahwa ia ingin membantu baekhyun, tapi lagi-lagi ia menolak. Baekhyun percaya, bahwa ayahnya akan menjemputnya segera.

Jadi, ia mulai menunggu lagi.

Satu jam

Tiga jam

Lima jam

Perutnya mulai mengeluarkan suara gemuruh, baekhyun lapar, tapi baekhyun menahannya, bersabar menunggu hingga ayahnya kembali.

Satu jam

Tiga jam

Lima jam

Stasiun kembali ramai oleh orang yang lalu lalang sepulang bekerja. Bibi itu menghampiri baekhyun lagi.

Bibi itu bertanya, apakah baekhyun lapar atau tidak, sembari menyodorkan beberapa keping roti dan sekotak susu. Lagi-lagi baekhyun menolak, ia bilang ayahnya pasti akan datang sebentar lagi.

Bibi itu tidak lagi pergi dari sana, ia duduk disebelah baekhyun dan mengatakan bahwa ia akan menemani baekhyun menunggu.

Baekhyun senang, bibi itu menceritakan banyak hal pada baekhyun. Tentang pekerjaannya sebagai buruh pabrik di kota, tentang kebiasaanya naik kereta, tentang suaminya yang sudah meninggal, juga tentang bagaimana ia sangat menginginkan seorang anak dalam hidupnya.

Baekhyun suka sekali mendengarkan cerita bibi yang mengaku bermarga byun itu.

Tapi tiba-tiba kepala baekhyun terasa sangat berat, perutnya terasa sangat sakit, semuanya terlihat gelap di mata baekhyun, dan setelah itu ia tidak ingat apapun lagi.

Yang baekhyun tau, ia terbangun di sebuah rumah kecil dan bibi byun yang berada di sisinya.

Sejak saat itu, baekhyun tau bahwa ia tidak perlu menunggu lagi.

Ia hidup dengan baik dengan seorang bibi yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Walau harus hidup pas-pasan di sebuah desa terpencil, tapi baekhyun merasa sangat bahagia.

Karena, bibi byun ini bersikap sangat baik padanya.

Memberinya makan, menyayanginya, menyekolahkannya, mengajarinya, berjuang untuknya.

Jelas, bibi byun lebih baik seribu kali lipat dari pada keluarganya.

Lebih baik daripada adiknya yang manja dan sakit-sakitan

Lebih baik daripada ibunya yang jauh memilih pekerjaannya daripada pergi bersama keluarganya.

Lebih baik daripada ayahnya yang tidak menepati janji untuk kembali.

Lebih baik dari seluruh anggota keluarganya yang menelantarkannya, bahkan tidak pernah mencari tahu dimana keberadaannya.

Bibi byun berarti segalanya untuk baekhyun.

Tapi.. ketika baekhyun memasuki ranah perguruan tinggi, sesuatu terjadi.

Bibi byun yang baekhyun sayangi divonis mengidap penyakit berbahaya.

Baekhyun berjuang untuknya, bersekolah di kota dengan beasiswa, bekerja paruh waktu untuk kesembuhan bibi byun.

Tapi, takdir berkata lain. Bibi byun yang dikasihinya meninggal saat ia mulai memasuki semester akhir masa pendidikannya.

Sebelum ajal menjemputnya, bibi byun memberikan sebuah alamat pada baekhyun. Bibi byun ingin baekhyun pergi ke kota untuk, kembali pada keluarganya.

Bibi byun ingin baekhyun kembali ke tempat dimana seharusnya ia berada.

***********************

Keluarga?

Baekhyun merasa sangat asing dengan hal itu.

Mengapa orang asing bisa terasa sangat dekat baginya dibanding keluarganya sendiri?

Entahlah… baekhyun tidak tau pasti.

Yang pasti, saat ini, saat ia tersusut di ruang kamarnya yang gelap, ia merindukan bibi byun.

Sembari memeluk lututnya, tangan kanannya memegang sebuah gambar dimana dirinya dan bibi byun duduk di sebuah taman sambil tersenyum riang.

Sementara di tangan kanannya terselip surat penerimaan beasiswa di salah satu universitas kedokteran ternama di dunia, universitas Harvard di Amerika Serikat

Baekhyun belum memberitahu keluarganya bahwa ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di negeri paman sam itu.

Hati baekhyun bimbang, separuh hatinya sangat ingin mengabaikan permintaan bibi byun mengenai ‘kembali dan tinggal bersama keluarga’

Tapi sisi hatinya yang lain ingin melepaskan diri dari keluarga park, menempuh pendidikan yang jauh sehingga ia tak perlu lagi bertemu dengan keluarga park. Ia ingin memulai hidupnya yang baru, sendirian.

Karena ia sudah tak lagi tahan dengan sifat kekanak-kanakan adiknya, sikap ibunya yang berlebihan, serta sikap ayahnya yang bahkan tak pernah meminta maaf padanya atas janji yang tak ditepati.

Di tengah risau hatinya dari lamunannya yang membumbung tinggi, gebrakan pintu dan suara adik kembarnya mengacaukan suasana hatinya tiba-tiba.

BRAK..BRAK…BRAKK..

“hyuungg… buka pintunya, aku ingin tidur bersama mu malam ini! –“. Baekhyun tak menghiraukannya.

“ –baiklah jika kau tidak ingin membuka pintunya. Kalau begitu aku akan menyanyikan lagu tiga beruang untukmu ya, supaya kau tidur nyenyak –“

“–ehem..ehem..” baekhyun menenggelamkan kepalanya dibawah tumpukan bantal. Menutup telinganya rapat-rapat, walaupun pada akhirnya ia tidak berhasil. Karena suara taehyung lolos menembus pertahanan dari benteng bantal yang ia buat.

“gom semari ga, han jibe isseo.. appa gom, eomma gom, aegi goooom~”

Baekhyun menangis. Bukan karena terharu, melainkan merasa pedih, karena sesungguhnya suara taehyung tidak lebih bagus dari suara seekor bebek yang menabrak pohon.

Ia menjadi sadar, bahwa ia harus keluar secepatnya dari rumah terkutuk ini!

 

***********************

Tuk.

Pintu kamar baekhyun terganjal, tidak dapat terbuka karena menyentuh sesuatu ketika ia mencoba membukanya.

Kepala baekhyun menyembul dari balik pintu untuk melihat apa penyebabnya.

Ada taehyung disana.

Berbaring diatas lantai di depan pintu kamar baekhyun.

Taehyung tidur disana semalaman? Benar-benar tidak waras.

Sejenak kemudian taehyung menggeliat bukan karena terbentur pintu kamar baekhyun, melainkan karena berkas-berkas sinar matahari yang langsung menerpa mukanya. Juga, sitambah dengan sedikit sentuhan pukulan sapu dipantatnya oleh ibunya.

“YAK, park taehyung! Menyingkirlah kau darisana! Kakakmu tidak bisa keluar!”

Dengan sebelah mata masih tertutup, taehyung bangkit dari posisinya, lalu menatap kakaknya, membuat angka lima di udara dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain menggaruk pantat.

“mowurning bro!”

Sebuah jitakan yang berasal dari tangan ibunya mendarat di kepala taehyung.

“apa kau mabuk kimchi? Bicaramu tidak jelas! Sudah sana cepat mandi, dan bantu ibu menata meja makan!”

Tapi taehyung tetaplah taehyung, kicauan ibunya di pagi hari tidak pernah membuatnya jera. Ia malah beringsut menuju kamar mandi dengan cengiran selebar-lebarnya, persis alien.

Setelah kepergian taehyung dari tempat kejadian perkara, minhee menghampiri baekhyun, mengelus rambutnya dan memeluknya.

“bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?”. Baekhyun hanya membalas pertanyaan ibunya dengan anggukan kecil dan senyum ala kadarnya.

“baguslah, sampai jumpa di meja makan”. Ibunya menghadiahi ciuman singkat di pipi baekhyun.

Baekhyun muak.

Kejadian-kejadian di pagi hari ini membuatnya semakin memantapkan diri.

Ia telah mengemasi pakaiannya ke dalam koper semalam, dan ia sudah mantap akan mengutarakan niatnya untuk pindah pada saat makan bersama pagi ini.

Jadi, ketika seluruh anggotanya telah berada di meja makan, baekhyun mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berkata-kata.

“aku.. dapat beasiswa di amerika, aku akan berangkat kesana dalam bulan ini”. Pengakuannya memecah hening.

Tanpa berani menatap keluarganya, ia melanjutkan perkataannya.

“dan, untuk sementara waktu aku ingin tinggal di rumah bibi byun di desa, aku butuh tempat yang tenang”

Satu menit

Dua menit

Tiga menit

Masih tidak ada suara lain yang terucap untuk menanggapi pengakuannya. Hal itu membuat baekhyun memberanikan diri untuk menatap sekelilingnya.

Ayahnya memalingkan wajah ketika baekhyun menatapnya. Seolah abai, tak peduli,

Ibunya menunduk, namun baekhyun bisa melihat buliran-buliran air jatuh dari pelupuk mata ibunya.

Sedangkan taehyung hanya memandang kosong kearahnya, diam, beku, seolah bisu.

Baekhyun tidak tahan dan ingin segera mengahiri atmosfer buruk ini.

“maaf, tapi aku harus pergi sekarang. Permisi”

baekhyun berdiri dari kursinya, mengambil koper dari kamarnya dan segera keluar dari rumah itu.

Tak ada yang mengikutinya, tak ada yang menghentikan langkahnya untuk pergi.

Ayah, ibu dan adiknya masih diam mematung di meja makan.

Seperti yang baekhyun duga, ia tak berarti apa-apa bagi keluarga park.

Hatinya terasa seperti terhunus samurai tajam, kala tidak ada satupun anggota keluarganya yang mengejarnya, seolah semuanya akan baik-baik saja ketika ia pergi.

Baekhyun merasa sangat kecil, terpencil, dan tidak dibutuhkan.

***********************

Sepi..

Yang ia miliki sekarang hanya sepi

Benar-benar sepi

Berbaring di atas lantai di sebuah rumah kecil yang dulu ia tinggali.

Masih terasa lebih hangat dibanding berteduh di bawah atap rumah keluarga park yang terasa dingin.

Ditemani suara rintik hujan yang menghujam atap rumahnya.

Ia kembali mengingat segala yang pernah ia alami hingga ia tertidur.

Pulas.

***********************

Dalam mimpinya

Baekhyun seolah kembali ke masa lalunya.

Di mana ia duduk sendirian di peron, dalam stasiun, menunggu ayahnya datang menjemputnya.

Tapi baekhyun merasa tidak sendirian lagi.

Saat ia melihat bayangan seseorang berlari dari kejauhan memanggil namanya.

Semula ia kira bibi byun.

Namun ketika sosok itu mendekat barulah baekhyun mengenali siapa dia.

Adik kembarnya, –park taehyung. Berlari menghampirinya, mengumbar senyum cerianya dan  duduk disampingnya.

“hyung, kenapa kau ingin jadi dokter?”. Taehyung membuka obrolan

“karena aku ingin terlihat keren!”

“kau bohong–“

“–dulu kau bilang kau ingin jadi dokter agar bisa selalu menyembuhkanku, karena.. kau tau imunitas tubuhkuku sangatlah buruk”. Taehyung menatap pada baekhyun dan berkata lagi. “dan aku tau, tujuanmu jadi dokter masih sama seperti yang dulu”

Baekhyun menunduk, karena taehyung benar.

Bagaimanapun, ia tidak bisa membohongi perasaannya. Ia selalu ingin dapat melindungi taehyung.

“kau sedang menunggu ayah?”. Taehyung bertanya lagi. “ah..eo..”. baekhyun mengangguk.

“jangan khawatir aku akan menunggu bersamamu, jadi kau tidak akan menunggu sendirian lagi–”. Ujarnya sambil merangkul pundak baekhyun disertai cengiran polosnya yang menenangkan.

“–aku juga lelah menunggu sendirian, dari dulu aku selalu menunggumu untuk kembali, tapi kau tidak pernah datang hyung.”

Air muka taehyung berubah sedih kala ia melanjutkan penuturannya.

“–aku juga lelah setiap hari menunggu ibu menjemputku saat pulang sekolah. Ia selalu terlambat menjemputku, aku selalu menunggu sendirian di sekolah sampai malam”

“–tapi tak apa, karena aku tau ibu hanya ingin melihatmu setiap hari”

Baekhyun tampak bingung dengan ocehan taehyung. “apa maksudmu taehyung-ah?”

“ibu pergi jauh naik kereta, dan pergi ke sekolahmu di desa, untuk melihat wajahmu sepulang sekolah, dan memastikan kau pulang dengan selamat–“

“….”

“ –ayah juga begitu, ayah tidak pernah menjemputku di sekolah. Karna, sepulang kerja, ayah selalu pergi ke stasiun menunggumu setiap hari disana hingga malam”

“ –kau tau tidak? ayah selalu menyayangimu, ia merasamenyesal dan ingin meminta maaf padamu.. hanya saja ia terlalu bodoh untuk mengungkapkannya”

“–walaupun mereka tidak memberitahukan padaku, tapi aku tau. Karena aku juga menyayangimu, sama seperti ayah dan ibu menyayangimu. Jadi, aku rela menunggu sendirian di sekolah hingga tengah malam pun tak apa”

“–karena aku juga menunggumu, berharap mereka membawamu pulang kembali kerumah”

“–aku sangat merindukanmu hyung, ingin bermain bersamamu. Ibu selalu membentakku semenjak kau hilang, ayah juga tidak banyak bicara, tidak seperti dulu saat kita masih bersama, dan juga terkadang aku lelah mendengar ayah dan ibu saling membentak dan berteriak”

“–mereka juga selalu menyuruhku belajar, tapi sekeras apapun aku belajar, aku tidak pernah bisa sepertimu. Ayah dan ibu juga tidak pernah memujiku, sekali saja tidak pernah”

“–yang mereka pedulikan hanya dirimu, tapi tidak apa.. karena akupun juga begitu hyung, hanya mempedulikanmu. Hanya kaulah yang kupikirkan”

Baekhyun menatap taehyung lekat-lekat, ia tidak pernah menyadari bahwa adiknya juga terluka hebat.

Taehyung menunduk pilu “tapi ternyata, aku hanya beban buatmu, hyung–“

“–aku terus menerus melakukan hal yang tidak kau sukai, dan aku terlalu bodoh karena tidak menyadarinya, maafkan aku”. Taehyung menitikkan air mata. Kemudian membalas tatapan baekhyun lekat-lekat.

“tapi sungguh, aku hanya ingin membuatmu tertawa, atau setidaknya tersenyum padaku seperti dulu”

Hening sejamang, menyergap relung hati mereka berdua masing-masing.

“kau pergi dari rumah karena aku kan? Jika aku yang pergi dari hidupmu, maukah kau kembali hyung?”

Kemudian taehyung berubah menjadi asap, ia menghilang

Hati baekhyun terasa ditusuk-tusuk. Ia tidak ingin kehilangan taehyung, ia mencari taehyung kemanapun tapi tidak dapat menemukannya. Baekhyun menangis hebat, sehebat suara guntur yang membangunkan ia dari tidurnya.

Hatinya nya masih terasa sakit bahkan ketika ia terbangun.

***********************

Baekhyun terbangun

Suara guntur yang membangunkannya secara tiba-tiba membuatnya kepalanya terasa pening. Tubuhnya menggigil, bergetar hebat, entah karena badai diluar atau karena mimpinya yang menakutkan.

Ia tak bisa tidur lagi.

Baekhyun tak ingin mimpinya terulang kembali, terlalu menyeramkan.

Kehilangan taehyung bukanlah sesuatu yang menyenangkan, bagaimanapun juga baekhyun tak pernah mampu memungkiri bahwa ia sangat mengasihi taehyung.

Badai diluar semakin menggila, otaknya juga.

Ia merindukan taehyung, ibu dan ayahnya.

Tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit, bukan semata-mata karena perbuatan rindu. Rasa sakit menjalar di setiap inchi tubuhnya, baekhyun semakin membenamkan dirinya dibawah selimut, berharap rasa sakit ini segera pergi.

Rasa sakit seperti ini terasa sangat tidak asing baginya. Dulu, ia sering mengalaminya ketika terjadi sesuatu pada taehyung.

Tapi, sudah lama sekali baekhyun tidak merasakan sakit seperti ini.

Sambil memijat-mijat kepalanya, ia berusaha memejamkan matanya untuk dapat tertidur, namun ia gagal.

Matanya terbuka hingga badai malam itu berhenti, dan matahari mulai menampakkan sinarnya.

Baekhyun beringsut malas dari ranjangnya, menggeliat sejenak untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia membuka kenop pintu rumahnya untuk menghirup udara segar.

Matanya menerawang menatap lagit biru setengah kelabu. Sisa-sisa air masih menggenang di ujung-ujung daun dari pepohongan yang rindang.

Baekhyun merasa kesepian.

Pagi ini, ia hanya mendengar kicauan suara burung. Tak ada suara penggorengan yang berpadu dengan spatula seperti saat ibunya memasak, atau suara renyah yang dibuat oleh ayahnya ketika membuka setiap lembar koran harian yang selalu dibacanya.

Dan tidak ada suara taehyung yang berisik mengucapkan selamat pagi padanya, ataupun mengoceh sembari mengikutinya kemana-mana sepanjang hari.

Otaknya memaksanya untuk mengingat tentang mimpinya semalam. Baekhyun menunduk lemas.

Baekhyun tercengang, kala ia melihat secarik kertas tertempel di atas lantai teras rumahnya.

Baekhyun semakin terkejut dua kali lipat kala membaca tulisan yang terpampang disana.

“hyung, kenapa kau ingin jadi dokter?”.

Baekhyun merengkuh kertas itu, kemudian buru-buru mengambil jaket dan dompetnya lalu berlari menuju stasiun. Secepatnya.

Suasana stasiun masih sangat sepi ketika ia tiba disana.

Sembari menunggu keretanya datang, baekhyun duduk di peron dan memandang kearah jam besar yang ada disana.

07.15

Baekhyun meremas kertas yang dipegangnya.

Hatinya terasa sangat perih ketika menyadari bahwa segala hal yang di dengarnya semalam bukanlah mimpi.

Ia tak sepenuhnya tidur, ia tahu taehyung ada di sana semalam, di luar pintu rumahnya.

Baekhyun menangis, kala ia tahu seharusnya ada satu hal yang tidak boleh ia lupakan.

Ia tak pernah menunggu sendirian.

***********************

Rumah keluarga park tampak sangat lengang.

Tentu saja baekhyun dapat melengos masuk ke dalam rumah, karena ia tahu kode pintunya.

Tidak ada seorangpun di dalam rumahnya.

Baekhyun mendekati pintu kamar ayah dan ibunya yang setengah terbuka, mengetuknya, memanggil ayah dan ibunya.

Tapi tidak ada jawaban.

Baekhyun memasuki kamar ayah dan ibunya, duduk di atas ranjang sembari bertanya-tanya kemana perginya mereka.

Sekelebat, laptop ibunya yang menyala membuat rasa penasaran nya membuncah.

Ia membuka laptop ibunya, terpampang jelas disana lembar putih berisi tulisan-tulisan hasil tarian jemari ibunya diatas keyboard.

Tentu saja, ibunya jurnalis. Mungkin ia sedang menulis sesuatu. Batin baekhyun menelisik, rasa ingin tahu yang besar membuatnya lancang membaca tulisan ibunya.

12/11/2014

Aku kehilanganmu lagi dan lagi.

Aku kehilanganmu untuk yang kesekian kali.

Seberapa banyaknya doa yang kupanjatkan pada Tuhan untuk tidak memisahkanku darimu nampaknya tidak dapat mencegah kepergianmu.

Aku mencintaimu.

Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai aku harus meremukkan hatiku sendiri untuk merelakanmu pergi.

Bukan hanya sekali, luka di hatiku masih sangat menganga karena kepergianmu.

Saat pertama kali aku kehilanganmu, aku tau duniaku akan runtuh.

Karena mengejar ambisiku yang terkutuk, aku kehilanganmu.

Seharusnya aku berada disana, ketika kau ketakutan, menunggu dan sendirian.

Aku tak mampu memaafkan diriku, hingga saat ini.

Namun, disaat aku menemukanmu, kaurupanya  telah berpaling bersama yang lain.

Sakitnya sangat terasa ketika kau memeluk, tersenyum, bahkan tertawa untuk orang lain, bukan diriku.

Seharusnya kau milikku, wanita itu tak berhak memilikimu.

Tapi apa dayaku ketika rasa perikemanusiaanku berbicara.

Saat wanita itu mengiba, meminta untuk bisa tetap tinggal bersamamu, karena hanya kau satu-satunya yang ia miliki.

Saat ia memohon untuk diberikan kesempatan hidup denganmu karena waktunya tidak lama lagi.

Saat ia merintih dan berkata ia tak bisa hidup tanpamu.

Sesungguhnya akupun tak mampu hidup tanpamu.

Tapi, wanita itu membutuhkanmu. Aku melepasmu untuknya, karena kau sendiri tampak bahagia bersamanya.

Saat kau kembali padaku.

Aku merasa sangat bahagia.

Ingin menghabiskan waktu denganmu, mencurahkan segenap kasih sayang yang tak sempat kuberikan padamu.

Tapi, aku menyadari sesuatu.. kau sudah berbeda.

Kau punya duniamu sendiri, kau tak menginginkanku. Aku tau itu.

Aku terpaksa melepasmu, agar kau mampu mencapai bahagiamu.

Aku….

Baekhyun tau, tulisan ini tentangnya.

Tulisan ini tampak menggantung dan belum selesai, namun sudah cukup bagi baekhyun untuk mengetahui gambaran tentang perasaan ibunya.

Ia jadi mengerti, kenapa ibunya selalu memperlakukannya seperti bocah berusia lima tahun.

Semata-mata karena, ibunya ingin memulai segalanya dari awal bersamanya,

Ia menghela nafas panjang, merasa bersalah.

Maniknya mengitari seluruh penjuru kamar, berharap dapat menemukan sebuah bukti cinta yang lain.

Dan, matanya tertumbuk pada sebuah lemari usang yang pintunya sedikit terbuka, karena mungkin kelebihan muatan di dalamnya.

Ketika ia membukanya, kotak-kotak hadiah berjatuhan menimpa kepalanya.

Ia merintih perlahan, sembari menatap kotak-kotak yang bertebaran di lantai.

Seperti kotak hadiah, dengan berbagai ukuran dengan kartu ucapan yang menempel di atasnya.

Tangannya meraih salah satu kartu ucapan tersebut dan membaca isinya.

Selamat ulang tahun yang ke-sepuluh park baekhyun!

Dari : ayahmu yang menyayangimu.

 

Rahangnya seolah jatuh ketika membaca isinya. Matanya jeli menghitung jumlah kotak yang bertebaran di lantai.

Ada tujuh belas kotak

Ia meneliti seluruh kartu ucapan yang tertera diatasnya.

Semuanya ditujukan untuknya.

Hadiah untuk ulang tahunya di usia enam tahun hingga sekarang, 22 tahun.

Ayahnya, melakukan semuanya.

Dan isi nya sama persis dengan barang-barang milik taehyung.

Ayahnya membeli dua pasang dalam setiap tahun, untuknya dan untuk taehyung.

Ayahnya tak pernah melupakannya.

Perasaan bersalah yang semakin menggerogotinya memaksanya keluar dari kamar ayah dan ibunya, dan pergi ke kamar taehyung menjadi tempat pelarian satu-satunya.

Kamar taehyung terasa sangat hangat.

Di meja belajarnya terdapat gambar dirinya dan taehyung sedang tertawa dan berpose bersama di pesta ulang tahun di usia mereka yang kelima.

Di bawahnya terdapat tulisan bak cakar ayam hasil karya tangan baekhyun yang berisi:

Bersama kakak terbaikku !

Dengan diberi aksen bunga dan mobil-mobilan membuat pigoranya terlihat menarik.

Baekhyun mengambil gambar itu bersamanya dan beringsut keluar dari rumah.

Kali ini baekhyun membiarkan dirinya menunggu lagi.

Duduk di depan teras, menunggu hingga ayah dan ibunya datang.

Ia ingin meminta maaf dan memulai segalanya dari awal, bersama keluarganya.

***********************

Tak sadar baekhyun tertidur saat menunggu.

Matanya mengerjap ketika mendapati dirinya duduk tertidur di kursi teras rumah.

Ia menatap arloji yang menggantung indah di tangannya.

07.15

Matahari sudah terbenam, namun tak satupun anggota keluarganya yang nampak.

Paman jongdae, tetangga di sebelah rumah mereka lewat dan menyapa baekhyun, dengan sapaan yang salah.

“hai taehyung, sedang apa kau dirumah? Paman baru ingin menjengukmu”

Baekhyun memasang tampang bingung.

“ah… Apa kau baekhyun?”. Baekhyun mengangguk dan tersenyum simpul.

“sedang apa kau disini baekhyun-ssi? Apa kau tidak menemani adikmu di rumah sakit?”

Baekhyun tercengang.

“ma..maaf paman, apa maksud paman barusan? Rumah sakit?”

Paman jongdae menggeleng dan mengecak.

“ckckck, kau tidak tau ya? Semalam adikmu keluar rumah saat badai, dan ia tertabrak mobil waktu menyeberang jalan, kabarnya kudengar dia sampai sekarang belum sadarkan di..–“. Sebelum paman jongdae selesai menjelaskan, baekhyun sudah berlari melesat menuju ke rumah sakit.

Berlari sekencang-kencangnya.

Sembari memegang foto yang ia ambil di kamar taehyung.

Ia tidak peduli jika harus berlari hingga tulang kakinya patah.

Bahkan ia tidak peduli jika diharuskan untuk menunggu selama-lamanya.

Asalkan, taehyung tidak menghilang dari hidupnya. Tidak boleh.

***********************

Baekhyun mengumpulkan segenap kekuatannya untuk membuka kenop pintu ruangan dimana taehyung dirawat.

Ibu dan ayahnya tampak disana, di samping ranjang taehyung, membisu.

Sementara taehyung tergolek lemah disana, diatas ranjang.

Baekhyun tak kuasa menahan airmatanya lagi ia menangis sejadi-jadinya dan menghambur memeluk Taehyung.

“TAEHYUNG BODOH! Kau bilang akan menunggu bersamaku, maka bangunlah!–“

“–sudah kukatakan padamu berkali-kali dulu, anak lelaki harus kuat, tidak boleh sakit!”

“–aku janji aku akan kembali, tapi kau juga harus kembali bersamaku!”

Ibunya memeluk baekhyun. Ikut menangis bersamanya.

“baekhyun-ah”, untuk pertama kalinya, ayahnya menggenggam tangan baekhyun dan memanggil namanya parau.

“taehyung-ah… kumohon sadarlah, jangan seperti ini, kumohon…”

Duka menyergap, airmata membajiri ruangan.

Dan tanpa mereka sadari disana, sebulir air mata yang menetes keatas tangan taehyung, membuatnya bergerak sedikit.

Taehyung tau, ia harus berjuang lebih keras.

Tidak bisa terus menerus tidur dalam diam seperti ini.

Taehyung, tak boleh membuat keluarganya menunggu lagi.

Baekhyun sudah bersedia untuk kembali, dan taehyung sangat bahagia karena hal itu.

Ia tersenyum dibalik kop oksigen yang membungkam hidung dan mulutnya.

Tunggu aku, sebentar saja hyung. Aku akan pulang!

**********END**********

Advertisements

2 thoughts on “Comeback Home (07.15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s