please, say yehet .

Say yehet please !

  • Author : Rebeccabbx
  • Main Character : Nam Hayoung (OC), Oh Sehun (EXO)
  • Other Cast : Kai (EXO), Tao (EXO), Byun Baekhyun (EXO), Chen (EXO), Park Chanyeol (EXO)
  • Genre : Comedy, Romance, fluff (fail)
  • Rating : PG +15, AU.
  • Rules : no plagiarism !
  • Disclaimer : its our sehun turn, yay !. bingung mau bikin cerita apa buat sehun, tapi langsung dapet ide waktu nonton ‘ask in a box’ yang edisi exo k, disitu chanyeol ditanyain… kalo boleh ngijinin salah satu member exo lain yang bisa masuk tim hura-hura yang digawangin sama chanyeol, baekhyun, sama jongdae kira kira siapa? Eh si chanyeol jawab sehun.. karena sehun itu periang, begituh… jadi terciptalah ff ini, mian ya kalo banyak typo.

Prolog : I love you, so please just say yehet!

.

.

.

.

“kau masih belum memutuskan akan masuk klub yang mana?”. Jongin bertanya pada sehun. Sebagai seorang senior di universitas yang baru diinjak oleh sehun dan tao, yang merupakan juniornya di sekolah menengah, maka sudah menjadi kewajiban bagi jongin untuk membimbing adik-adik kelasnya ini untuk memilih klub kampus yang akan mereka ikuti nantinya.

Dibandingkan dengan tao, sehun terlihat masih sangat bingung memilih klub kampus yang akan dia ikuti. Tentu saja klub dance merupakan pilihan pertama baginya, namun universitas mewajibkan untuk mengikuti dua klub agar mahasiswa dapat terlibat aktif dalam mengikuti kegiatan kemahasiswaan.

Sehun mengedikkan bahu sembari menggulung kertas brosur yang berisi daftar klub kampus.

“ini terlalu banyak hyung”. Gumam sehun. Baginya, memilih klub kampus jauh lebih sulit daripada memilih ekstra kulikuler mana yang ingin kuikuti saat SMA. Terlalu banyak pilihan dan semuanya tidak terlihat menarik.

Sehun menatap pada tao yang sedang asyik menyeruput ice cappucinonya. “kalau kau bagaimana? Kau mau masuk klub yang mana?”

“tentu saja wushu”. Jawab tao

“hanya itu saja? tidak ada yang lain?”. Tanya sehun lagi.

“ada –” tao kemudian mengisyaratkan pada sehun dan jongin untuk mendekat padanya, sehingga ia dapat membisikkan sesuatu.

“ –ini cuma diantara kita ya? Aku juga ikut klub menjahit..”. kedua lelaki yang mendengarkan pernyataan tao tergelak hebat, membuat seisi kafetaria memandang tajam kearah mereka.

Klub wushu dan klub jahit sangat bertolak belakang, sepertinya ada yang salah dengan otak tao. Bagaimana bisa ia menyukai seni beladiri wushu dan seni jahit menjahit secara bersamaaan? Sangat aneh.

“yak! Memangnya kenapa?.. di klub jahit kan banyak gadis cantik”. Tao menggerutu kesal, sehun balas mencibirnya. “ya.. dan sebentar lagi kau akan jadi salah satu dari mereka, –jadi cantik”.

Jongin tertawa terbahak-bahak, tao mendengus sebal.

“pikirkan saja klub mu sendiri!”

Ugh– kata-kata tao barusan begitu menohok sehun. Tao benar, sehun bahkan belum memilih klub mana yang akan dia ikuti selain dance. Jongin menepuk pundak sehun pelan, berusaha menghiburnya.

“sehun-ah, jika kau kesulitan memilih–“. Sehun tersenyum pada jongin, mungkin jongin akan memberikan masukan padanya tentang klub menarik yang bisa ia pilih. Sehun masih punya harapan.

“ –bergabunglah bersama tao di klub menjahit”.

Beruntung sehun tidak menghadiahi bogem mentah pada jongin yang sekarang sedang asik tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

Jongin, bukan merupakan senior yang tak sebaik kata orang, dia menyebalkan.

“klub basket? Ada kris hyung disana” tao menghadapkan brosur klub basket di hadapan sehun.

Sehun menggeleng, ia sudah bosan katanya.

“bagaimana dengan klub sepak bola? Luhan, sunbae favoritmu ada disana”. Kali ini jongin yang menawarkan. Sehun menggeleng lagi.

“membiarkan kulitku terbakar matahari? Terimakasih, aku tidak ingin kulitku berwarna seperti tahu goreng, aku akan mempertahankan kulit bewarna tahu mentah ini sampai akhir hayatku”

“klub wushu?”

“apa kau bercanda? Aku bisa mati karenanya”

Tao menghela nafas, dan melanjutkan perjuangannya. “klub memasak, klub desain, klub lukis, paduan suara, klub radio kampus, klub broadcast, klub fotografi, klub baca, klub film, klub teater, klub sains, klub pecinta alam”. Semua tawaran tao dijawab dengan gelengan kepala oleh sehun.

Tapi rupanya tao belum menyerah. “klub menja–“

“lupakan saja! Aku tak akan sudi masuk klub menjahit bersamamu”

Jongin menangkupkan kedua lengannya di depan dada. Semua hal sudah tao tawarkan pada sehun, tapi tidak ada satupun yang membuat sehun tertarik.

Tunggu! Masih ada satu hal yang belum disebutkan tao.

Jongin menjentikkan jarinya. “oh iya, kebetulan nanti sore klub parodi akan melakukan show, berminat untuk menonton tidak?”

Sehun mengedikkan bahu. “tampaknya tidak menarik”. katanya kemudian berdiri untuk membeli segelas bubble tea lagi untuk menjernihkan pikirannya. Pada kenyataannya pikirannya sama sekali tidak jernih, walau ia telah mengabiskan tiga gelas bubble tea sebelumnya.

Sementara tao dan jongin memandanginya dengan kesal. Sehun benar-benar merepotkan.

“aku menyerah!” tao mengangkat kedua tangannya ke udara.

“aku juga. Ah… aku sudah menghabiskan waktu ku dengan sia-sia disini”

Tao menepuk dahinya. “astaga! Aku harus mengikuti pertemuan pertama anggota klub jahit lima menit lagi”.

“aku juga ada kelas sepeluh menit lagi.. bagaimana ini? Apa tidak apa-apa jika kita meninggalkan sehun saat ini?”

Tao memutar bola matanya, mendapati punggung sehun yang sedang berdiri mengantri untuk membayar di kasir. Ia berdiri sambil menepuk meja dan mengeluarkan suaranya yang lantang untuk berpamitan. “YAK OH SEHUN!”. Sehun secara otomatis memutar badannya untuk menoleh.

Namun, nasib baik memang tak berpihak pada sehun hari ini. Bubble tea di tangannya merosot, isinya berhamburan mengenai baju seorang gadis yang ia tabrak saat ia memutar badannya.

Jongin melotot. Tao terkejut, dan sehun? Ia beku seperti es.

Sehun membeku disana, bukan karna rasa bersalah yang timbul atas kekacauan yang ia buat, melainkan karna gadis yang ia tabrak barusan ini, gadis yang bajunya basah oleh bubble teanya. Gadis ini membuat sehun beku. Gadis ini yang –menurut sehun bukanlah gadis biasa.

Gadis dihadapannya ini muncul bagaikan bidadari dengan bola mata yang besar, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, bibir yang mungil, rambut kecoklatan yang tergerai indah dengan pita merah jambu yang tersemat di atara sela-sela rambutnya yang menjuntai bebas.

Cantik. Ya.. Sangat cantik.

“yak! Apa yang kau lakukan!” gadis itu berteriak, membuyarkan lamunan sehun yang sudah terlanjur membumbung tinggi ke langit ketujuh. Kejutan yang ditimbulkan membuat kesadarannya menghempas ke bumi dengan tidak beraturan, hingga memori otaknya terpecah belah, antara pengetahuan, etika dan sopan santun yang telah berlarian meninggalkan otaknya.

Dan tanpa ia sadari sehun memegang pakaian gadis itu, menepuk-nepukkan tangannya secara acak guna mengeringkannya. Namun sangat disayangkan, sehun benar-benar tidak dapat bepikir dengan jernih. Bagaimana mungkin ia bisa menyentuh wanita secara serampangan seperti itu.

Tentu saja, bukannya merasa terbantu, gadis itu malah merasa dilecehkan, hingga ia menghadiahi tamparan yang cukup keras pada pipi sehun!

“dasar laki-laki cabul!” sahut gadis itu kesal, lalu bergegas meninggalkan sehun yang melongo disana.

Jongin dan tao buru-buru menghampiri tempat kejadian perkara. Tao bahkkan mengguncang-guncangkan tubuh sehun dengan brutal untuk mengembalikan kesadaran sehun. Sehun masih terdiam disana dengan bulatan besar yang terbentuk di bibirnya. Tao menyerah, dan mulai membungkuk untuk membereskan kekacauan yang baru saja terjadi. Berusaha membersihkan genangan air dari bubble tea yang tumpah di lantai.

Jongin menjentikkan jarinya di depan mata sehun. Ajaib, kesadarannya kembali.

“hyung… dia siapa?”. Tanya sehun mengambang, membuatnya jongin sedikit bingung. “dia? Dia siapa sih?”

“itu.. bidadari yang tadi itu?”

“oh.. gadis yang baru saja kau tabrak itu? Dia nam hayoung, satu angkatan denganku” jawab jongin, kemudian jongin melanjutkan, membisikkan sesuatu di telinnga sehun. “–kau tau tidak? dia manajer klub parodi”

Mata sehun melesat memandang jongin dengan berbinar. “nanti sore, temani aku ke klub parodi ya hyung, kumohon..”. Pintanya sok manis dengan bonus beberapa aegyo yang membuat bulu kuduk jongin bergidik, dan tao memuntahkan makan siangnya saat itu juga.

**********

 

Sehun terperangkap sepenuhnya oleh pesona hayoung. Dugaan itu terbukti kuat ketika bola mata sehun tidak beralih dari sosok gadis itu selama pertunjukan parodi berlangsung.

Ketika orang-orang di ruangan itu tertawa terbahak, sehun hanya tersenyum. Ketika mereka diam, sehun tetap tersenyum, bahkan dapat dipastikan sehun akan tetap tersenyum saat gedung teater yang ia pijak saat ini roboh seketika.

Senyum sehun tidak akan memudar selama sosok itu berada disana. –sosok gadis yang digilainya.

“kau bukan tipenya”. Jongin mencondongkan bibirnya ke daun telinga sehun.

Sehun tidak bergeming. Ditengah riuhnya tawa penonton seisi teater, wajar saja jika sehun tidak mendengar. Jongin menjentikkan jari di depan wajah sehun untuk mengembalikan kesadarannya, namun kali ini gagal.

Dengan gemas jongin mencubit pipi sehun. “kau ini niat menonton pertunjukan parodi atau dia sih?”.

Sehun dengan polosnya menunjuk bangku paling depan dengan wanita berambut coklat duduk disana.

“sudah kubilang oh sehun, kau bukan tipenya!”

“kenapa begitu? Memangnya aku kurang apa?”

“kau kurang waras!”. Jongin mencibir. sehun bersedekap, lalu kembali menghadap ke depan sembari berceloteh.

“memangnya, pria seperti apa yang dia inginkan?”

“yang kulitnya tidak terlalu putih, berkharisma, dan tampan sepertiku..”. jongin membusungkan dada.

“kau pikir aku mempercayaimu? Wanita sepertinya tidak akan memiliki selera yang rendah seperti itu…”.

jongin memukul kepala sehun keras-keras. “kalau begitu, cari tau saja sendiri saja sana!”

“hyung, maaf .. kumohon bantu aku, atau kau mau kunyanyikan sebuah lagu? Bagaimana dengan gwiyomi?” sehun mengiba. Jongin bergidik ngeri, kejadian tadi siang sudah cukup membuatnya ketakutan. Jongin tidak akan membiarkan sehun mengeluarkan jurus aegyonya lagi.

“jangan lakukan apapun! Jangan bernyanyi atau menimbulkan ekspresi yang menjijikan itu lagi, cukup duduk diam dan dengarkanlah aku!”

Mata sehun membulat, memperhatikan jongin.

“nam hayoung suka pria yang bisa membuatnya tertawa setiap saat..”

oh.. baiklah, itu tidak sulit. –sehun berseru dalam hati.

“jadi, yang perlu kau lakukan sekarang adalah…” jongin berniat memberi saran, namun diinterupsi oleh sehun. “aku tau..”

Sebelah alis jongin naik ke dahi. “Tau apa?”.

“aku hanya perlu mengelitikinya.. tadaa.. dia akan tertawa, dan aku akan menjadi pacarnya!”

Seketika hening.

**********

 

Sehun butuh bantuan jongin dan akan selalu begitu. Jika saja jongin tidak memukul kepalanya keras-keras dan mendaftarkannya untuk masuk dalam klub parodi, maka hari ini tidak akan terjadi.

Hari dimana sehun bersiap untuk menyatakan perasaannya kepada hayoung.

Dari backstage, sehun menatap panggung ruang teater dengan gusar. Tak henti-hentinya ia menatap sebatang microphone yang berdiri tegak disana. Disitulah nantinya akan menjadi tempat bersejarah bagi sehun, tempat dimana perjuangannya selama berbulan-bulan akan berujung

Hari ini, adalah hari dimana sehun boleh berpentas sendirian, untuk ber-stand-up-comedy.

Sendirian. Berpentas sendirian. Sesungguhnya ini adalah bencana bagi oh sehun!

Sehun tidak menyadarinya, walau telah berbulan-bulan berada di klub parodi sehun bahkan tidak bisa selucu chen, chanyeol maupun baekhyun.

Sehun selalu merasa tidak ada yang salah dengan dirinya, tapi orang lain berpendapat lain. Sehun sama sekali tidak bisa melucu di pentas. Penampilannya sungguh sangat membosankan, tidak bisa membuat penonton tertawa.

Dia tidak sanggup membawakan perannya dengan baik. Improvisasinya kacau. Saat baekhyun sang ketua klub menyuruhnya untuk melakukan apa yang ada di script,  sehun tidak pernah patuh..

Chen juga kehabisan kesabaran. Ketika mereka berdua seharusnya berdialog diatas panggung,  sehun malah menari catalena dengan asik sendiri.

Sedangkan chanyeol  ingin sekali mendepak sehun keluar jauh-jauh dari klub, jika saja bukan jongin yang memasukkan sehun ke klub, chanyeol pasti sudah menendang sehun keluar jauh-jauh hari. Kalau saja bukan demi selembar selca bersama kim jongin, entahlah.. mungkin chanyeol sudah meracuni sehun dan membiarkan tergelepar. Beruntunglah sehun, karna chanyeol merupakan fans berat dari seorang kim jongin yang tampan, jadi ia membiarkan sehun tetap hidup sampai sekarang.

Bagaimana dengan baekhyun? Ia sama geramnya. Saat dialog sehun seharusnya mengatakan “yes sir”, ia malah mengatakan “yehet, sir”sambil ber-aegyo­ ria. Hal itu membuat baekhyun yakin seratus persen bahwa sehun bukanlah berasal dari bumi. Entah bahasa-bahasa ajaib apa yang keluar dari mulut sehun. Baekhyun meyakini, bahwa sehun sebenarnya berasal dari planet namex.

Mereka bertiga masih sangat ingat masa-masa mereka berjaya sebelum ada sehun. Tapi, ketika sehun ada dalam klub parodi, segalanya berubah. Panggung yang megah jadi terlihat menjijikkan oleh bau telur dan tomat yang dilemparkan penonton. Karna siapa? Karna sehun!

Sehun yang polos tidak tau apa-apa soal itu. Dia tidak peduli, ketika penonton yang lain menghujatnya, mengumpatinya, dan melemparinya. Yang ia pedulikan hanyalah sang manajer klub –nam hayoung. Yang selalu tertawa di setiap penampilannya.

Sang manajer klub pulalah yang mengijinkannya untuk tampil sendirian diatas panggung hari ini, kala anggota klub yang lain memohon dan mengiba untuk tidak membiarkan sehun berada diatas panggung, hayoung malah bersikap sebaliknya.

Hayoung juga sudah melupakan kejadian bubble-tea-tumpah waktu itu.

Mungkin hayoung mulai menyukai sehun, mungkin saja… sehun meyakini hal itu, karna baginya… setiap perhatian yang diberikan hayoung padanya terasa spesial dan berbeda.

Sama seperti saat ini. Hayoung mendatangi sehun untuk memberikan semangat sebelum sehun naik ke atas panggung. Sambil mengusap pundak sehun lembut, hayoung berbisik. “kau pasti bisa bisa oh sehun! Bersemangatlah!”

Sehun mati-matian menahan diri untuk tidak jatuh pingsan, dan melangkahkan kakinya ke atas panggung.

Tatapan para penonton yang begitu mengintimidasi tidak ia perhatikan. Tentu saja, ia hanya memperhatikan hayoung.

“ehm..ehm.. tes tes es teh”. Sehun mencoba melucu sembari mengetes keaktifan microphone di hadapannya.

Penonton hening. Mereka masih sabar untuk mengahadapi putaran pertama lelucon oh sehun yang tidak lucu.

“eum.. kalian disini pernah jatuh tidak?”

Hening

“ah, baiklah kuanggap itu iya.. bagaimana rasanya? Sakit tidak?”

Hening lagi

“iya aku tau, rasanya pasti sakit. Aku juga pernah jatuh, sering malah..”

Penonton mulai terlihat tidak sabar.

“saat ini aku juga sedang jatuh guys.. tapi rasanya tidak sakit, sungguh. Kalian mau tau tidak? kenapa aku jatuh, tapi rasanya tidak sakit hayoo.. kenapa hayo kira-kira? Mau tau tidak?”

Salah satu penonton di baris ketiga menimpali.

“tidak! kami tidak mau tau, kami mau kau turun sekarang juga dari sana!”

“eitsss… sabar dong, aku kasih tau deh–”

“ –aku sedang jatuh….. CINTA ! C-I-N-T-A”. Sehun melanjutkan sambil menegadahkan tangannya tinggi-tinggi seolah sedang memberikan kejutan yang luar biasa.

Satu sandal melayang ke atas panggung, disusul dengan 3 diktat tebal, ribuan bom kertas dan granat (jika diperlukan).

Sehun menggenggam microphone nya, hal ini harus segera diselesaikan secepatnya. Perasaan ini harus tersampaikan pada hayoung secepatnya.

“ha..hayoung noona.. aku thuka kamu, tudah thejak lama”. Kalimat aneh itu meluncur bukan tanpa alasan. Sehun jadi cadel jika ia sedang gugup, membuatnya semakin terlihat sebagai penduduk asli planet namex.

Penonton makin riuh, tidak mendengarkan apa yang baru saja sehun katakan. Sehun memegang microphonenya kuat-kuat dan berteriak sambil memejamkan matanya.

”NAM HAYOUNG, MAUKAH KAU MENIKAH DENGANKU?”.

Tiba-tiba hening. Sehun menutup mulutnya, ia salah bicara. Harusnya ia mengajak hayoung berpacaran, bukan menikah!

Hayoung berdiri dari bangkunya dan berkata dengan tegas “TIDAK!”

Lutut sehun bergetar. Rasa sakit dan malu bercampur jadi satu. Sehun merasakan otot-ototnya melemas, dan sedetik kemudian… sehun rebah diatas panggung.

Hayoung melongo, kemudian dengan sigap melompat keatas panggung.

Ia cemas, sambil menepuk-nepuk pipi sehun, hayoung bergumam.

“bangunlah bodoh! Aku belum selesai bicara!”

Sehun tak bergeming.

“oh sehun bangunlah! Dengarkan aku… kalau menikah sekarang, aku tidak mau, kuliah kita belum selesai bodoh! –“.

Hayoung terisak, sembari melanjutkan. “kalau berpacaran.. mungkin masih bisa kupertimbangkan”

Seketika itu juga mata sehun membelalak. “BENARKAH ITU NOONA?” sehun bertanya antusias dan melesat duduk. “I love you, so please just say yehet!“

Hayoung terkejut, namun memberikan anggukan pasti dengan senyuman hangat dan suara lembut yang membahagiakan. “YEHET!

Sehun bersorak kemudian berdiri mengitari panggung sambil menari tarian catalena yang di-mix  dengan tarian lagu anak-anak tiga beruang.

Penonton riuh bertepuk tangan. Kali ini, sehun memberikan pertunjukan yang sukses besar. Jongdae, chanyeol dan baekhyun menangis haru di belakang panggung.

Selamat oh sehun!

**********

 

Author’s note : yeyeyeyeye.. udah jadi. Ini cerita apaan sih sebenernya? Parah banget absurdnya nih >_< maafkan atas typo yang bertebaran, dan maafkan kesengajaanku yang menghina-dina sehun disini. Buat semua yang ngebias sehun, saya Cuma bisa nyodorin tissue seraya bilang “kalian yang sabar ya, sehun yang asli gak separah itu kok..” kemudian menyeringai. “DIA LEBIH BURUK DARI INI DAN PANTAS DINODAI !!! HAHAHAHAHA” *ketawa setan* – kemudian kabooorrr…

Advertisements

2 thoughts on “please, say yehet .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s